Kamis, 17 Maret 2011

kisah Pelangi 3



Salah satu Cerpen dibuku Antologi Kisah Pelangi Tiga
                                       
                                              Pelangi Di Goa Belanda


“Minimal kamu hargai aku yang berada di sampingku.” Ujarnya dengan mimik memelas.

Air matanya perlahan-lahan berjatuhan ke pipinya. Air mata yang sama sekali tak kumengerti maksudnya. Apa motif dia menangis di depanku? Terkadang cewek memang susah ditebak apa maunya. Akupun tak hendak bertanya, mungkin itu sifat cewek, mudah mengeluarkan air mata. Menurutku, berita sepak bola lebih penting dari pada pura-pura perhatian pada cewek yang baru kukenal seminggu itu.

“Ian, bagaimana perasaanmu ketika kamu diacuhkan oleh orang yang ngajak ngobrol denganmu???” kali ini volume suaranya meninggi, aku tersentak mendengarnya. Refleks kuhentikan aktivitas membaca koran. Beberapa detik aku mengikuti perintahnya, tapi dia malah bungkam. Tatapan matanya seolah menyudutkan bahwa akulah yang paling bersalah dalam hal ini. Kesal, aku baca Koran lagi.

“Percuma kuliah tinggi-tinggi kalau tidak paham etika berbicara!” dia meninggalkanku. Lidahku kelu mendengar kalimat terakhir darinya. Akh, itu sebulan lalu. Setelah kepergiannya ke kota Medan, mengapa kata-kata itu terekam jelas di ingatan?

Di bawah perbukitan Taman Hutan Raya (Tahura) kawasan Dago Pakar-Bandung, Goa Belanda menjadi saksi sejarah bisu perjalanan kami. Saat dia didelegasikan mewakili kampusnya untuk mengikuti studi jurnalistik yang diselenggarakan oleh kampusku. Seusai acara itu, panitia mengajak peserta berjalan-jalan mengitari kawasan elok kota Varis Van Java. Saat itulah kami duduk berdua di depan Goa bersejarah itu.

Rinai hujan mewarnai kebersamaan kami, dan dia bercerita tentang seorang bidadari dari langit ketujuh yang berharap tersesat di dalam Goa. Hingga hujan itupun reda, mejikuhibiu[1] melengkung di sebelah barat. Dia bilang, seorang bidadari benar-benar tersesat di tempat ini. Akh, aku memang bukan lelaki puitis, terlalu dungu untuk menangkap makna ucapannya.

Kini aku kehilangan nomor kontaknya, kehilangan jejaknya. Aku mengenangnya di sini, memandangi seonggok Goa tua sendirian. Menyadari dia tlah menggengam sekerat daging hatiku walaupun hadirnya hanya seminggu. Hanya saja aku terlalu egois saat itu. Ternyata, dia tak sekedar menjadi pelangi, tetapi air matanya bukti keindahan itu. (Dhee Shinzy Y.)