Kamis, 31 Maret 2011

Surat Terakhir


Judul buku: Surat Terakhir #4
Penulis: Dhee Shinzy Y., dkk.
Penerbit: Nulisbuku
Harga: 35rb (belum termasuk ongkos kirim)

Dalam buku ini masih ada surat-surat cinta lain yang ditulis oleh 40 orang wanita untuk para mantan kekasihnya.
................................................................................................................................................

Ketika tinta emasku berhamburan merangkai kata tentangmu, remuk yang melanda kisi-kisi hatiku masih belum teredam. Tentang perjumpaan kita yang singkat itu namun menyisakan kenangan bertuah. Seakan baru kemarin terjadi, padahal sudah lapuk dimakan usia. Namun hatiku masih sama. Masih seperti yang tak kau inginkan.

Di sini, dalam lembaran-lembaran putih ini, kutuangkan kembali hati yang masih sama itu. Bahwasanya hanya namamu yang mendarah daging di organ tubuhku. Senyum nan pernah terukir dari bibir tipismu yang merah itu, akh… serasa ada magnet yang memaksaku untuk terus menguntitmu. Setiap saat, ingin selalu mendengar kabar tentangmu. Dengan cepatnya mata indahmu menjalar ke bagian-bagian yang sebelumnya tak pernah kusentuh. Petualangan pun kumulai, sekedar untuk mendapatkan lagi senyummu yang sempat hilang dari pandangan selama bertahun-tahun.

Biarlah hanya hati, Tuhan dan waktu yang tahu kronologis asal-muasal aku terjatuh dalam tatapan bening matamu. Sebab mereka hanya bisa tertawa dan termanggut-manggut, menyaksikanku tergelincir dalam air mataku sendiri.... (Read More)----(Dhee Shinzy Y.)---

Untuk Pemesanan, silahkan kirim pesan, kirim email ke penghunimars@gmail.com dengan format nama, alamat lengkap, no kontak, jumlah buku, dan seri buku.

Selasa, 29 Maret 2011

Fenomena Ramalan di Masyarakat


Oleh Dhee Shinzy Y.

Sambil  menonton si kotak ajaib, Lisa, Jule, Evi dan Isma, mereka tengah asyik berkumpul  membaca sebuah majalah gosip. Ruangan bercat pink itu nampak gaduh oleh obrolan tentang ramalan zodiak dari sebuah majalah. Terlihat wajah riang bagi ramalannya yang kebetulan sesuai. Wajah cemas pun nampak pada yang ramalannya tidak berkenan di hati. 
“Hore, dalam minggu ini aku akan ditembak seseorang... siapa ya?!” Seru Isma dengan wajah sumringah.
“Oh, ternyata biru adalah warna keberuntunganku.” Evi termanggut-manggut mengacuhkan kegembiraan Isma sambil terus memeloti majalah tersebut.
“Waduh, si doi akan mutusin gue bulan depan. Gimana nih?” ujar Lisa dengan nada cemas.
Begitu antusiasnya mereka meyakini ramalan zodiak tersebut. Contoh itu hanyalah sebagian kecil aktivitas manusia yang percaya terhadap ramalan. Parahnya ramalan-ramalan tersebut telah berubah menjadi sebuah keyakinan yang dianut oleh sebagian masyarakat hingga hari ini. Keyakinan-keyakinan semacam itu, kalau ditelusuri ternyata telah terjadi berabad-abad lamanya. Dewasa ini, peramal-peramal semakin bermunculan di televisi-televisi, media online, maupun media cetak. Jenis-jenis ramalan yang kita kenal seperti horoskop, ramalan garis tangan, kartu tarot, hong sui/feng sui, ramalan cuaca dan lain-lain telah merajalela dalam kehidupan masayarakat dan tidak bisa dihindari.
Almarhumah Mama Laurent pun turut andil dalam berbagai ramalannya. Sebelum kematiannya dia pernah meramalkan, tahun 2010 adalah tahun logam yang akan banyak terjadi peristiwa menghebohkan. Pada tahun 2010 akan terrjadi kejadian-kejadian alam yang ekstrim, seperti gempa bumi, gunung meletus, angin ribut/putting beliung atau angin payung buangan dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan khatulistiwa, akan terjadi musibah besar yang disebabkan pemakaian nuklir.
Masyarakat juga sempat digegerkan dengan munculnya ramalan Kiamat yang disebut-sebut akan terjadi pada tahun 2012. Isu ini merebak setelah sejumlah situs yang selama ini intens mengeksploitir misteri tata surya merilis kehadiran planet Ni Biru ke  ruang tata surya Bima Sakti. Tak tanggung-tanggung, dampak dari eksposing ramalan ini, sempat merambah dan mengguncang keyakinan dan prospek pendidikan akidah anak-anak usia dini.
Sangat miris melihat fenomena yang terjadi dalam masyarakat, hampir seluruh lapisan masyarakat percaya kepada ramalan. Fenomena ramalan semakin mencuat, sangat marak dibicarakan, keberadaannya tidak dapat dimusnahkan. Banyak orang yang telah menjadi korbannya. Tak sedikit orang yang terpengaruh oleh ramalan, sebagian mereka akan menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kebenaran dari ramalannya, sebagian lagi mungkin cuek menganggap ramalan itu sekedar hiburan. Sangat menyedihkan bagi mereka yang sudah kecanduan akan ramalan-ramalan. Entah itu para selebritis, kaum intelektual, maupun masyarakat awam. Mengapa?
Dari beberapa fakta yang terjadi, ramalan sesungguhnya hanya membuat masyarakat resah dan ketakutan. Ramalan merupakan suatu ilmu untuk menafsir/memprediksi  tentang nasib seseorang di masa depan tentang jalan hidup seseorang. Ramalan juga sebagai usaha untuk menguraikan kehendak para dewa dengan menggunakan berbagai teknik ilmu. Ilmu tersebut merupakan salah satu cabang dari ilmu sihir, sedang ilmu sihir sendiri telah diharamkan dalam Islam, dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama.
Dan Dialah (Allah) yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim.” (QS. Luqman: 34 )
Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah-lah yang mengetahui apa yang ada di rahim. Dan pengetahuan tentang apa yang di dalam rahim, menurut tafsir (QS. Al-An’am: 59 dan QS. Luqman: 34) adalah termasuk salah satu kunci-kunci ghaib yang tidak ada satupun manusia bisa mengetahuinya kecuali Allah. Persoalan nasib, jodoh, rezeki, mati, dan hari baik itu hanyalah Allah SWT. Manusia diberikan kesempatan oleh Allah untuk merencanakan dan berusaha semaksimal mungkin. Artinya, kita bisa merancang masa depan nasib, jodoh, rezeki, kecuali mati dengan kemampuan yang baik pula. Kalau sudah berusaha maksimal, baru tawakal kepada Allah agar tidak menjadi hamba yang sombong.
Masihkah kita percaya terhadap ramalan-ramalan para peramal yang sesungguhnya mereka adalah pendusta?

MISTERI UN



Hmmm… ini kisah sudah 3 tahun silam, tepatnya tahun 2007. Kutemukan catatan kisah ini di sebuah diary yang kuberi nama “Detik-Detik Bersama Kisahku”.  Semenjak kelas 1 Madrasah Tsanawiyah (MTs) aku bisa dibilang rajin menulis semua kisah dalam diary, sehingga tak ada kejadian yang terlewatkan begitu saja tanpa sejarah tertulis. Itulah mengapa sekarang aku senang menulis.
Dag… dig…dug… dag… dig… dug…
Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, saat kusaksikan sebuah pengumuman hasil Try Out di Mading sekolah. Lemas. Aku hanya mampu menghela nafas berat. Yang kuharapkan tidak sesuai kenyataan. Di papan pengumuman itu, namaku TIDAK LULUS. Ini baru percobaan, tapi hatiku seperti kehilangan arah. Darahku berdesir hebat. Bagaimana nanti kalau Ujian Nasional (UN) tidak lulus? Masa depanku, hanya dipertaruhkan dalam waktu tiga hari, setelah tiga tahun lamanya aku berdarah-darah mengejar pendidikan. Aku tidak bisa membayangkan, seandainya aku tidak lulus UN. Kiamat deh hidupku…
“Sudahlah Dhe, jangan sedih. Ini kan baru Try Out, belum final. Jadi, masih ada kesempatan buat kita untuk belajar lebih ekstra,” Vera, teman sebangku, yang juga mengalami nasib sama denganku berusaha menghibur.
Aku melempar senyum ragu padanya, dan dia mengangguk seraya menatap mataku. Tatapannya seakan menguatkanku. Aku dan Vera selalu mengalami nasib serupa, tidak lulus ikut Penelusuran Minat dan Kemampuan atau yang lebih singkat disebut PMDK di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Dalam hati aku berdoa, semoga saat UN aku dan Vera masih memiliki nasib yang sama, yaitu LULUS
***
Dan mungkin bila nanti, kita akan bertemu lagi.
Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali, rasa yang  kucinta mati,
seperti hari kemarin saat semua di sini
Dering nada Short Message Service alias SMS menyedot perhatianku saat tengah serius menghitung fungsi trogonometri, aljabar dan persamaan linear. Pelajaran Matematika selalu menjadi momok yang paling menyebalkan bagiku. Buktinya sudah tiga jam aku berkutat di kamar mengerjakan soal-soal Matematika, tapi sampai  rumus-rumusnya kuhancur-hancurkan, jawabannya tidak ada yang sesuai dengan pilihan ganda di lembar soal bekas UN kemarin (2006). Entah akunya  yang bolot atau soalnya yang salah atau juga si pembuat soal itu yang bego. Akh, penyesalan menghampiriku tiba-tiba. Kenapa juga aku harus masuk ke jurusan IPA yang jelas-jelas kubenci pelajaran eksaknya?
1a, 2d, 3c, 4d, 5a, 6a, 7d, 8c, 9a, 10c, 15b, 18d, 24a, 26a
Sender: 0813XXXX
Aku tertegun membaca pesan di hpku barusan. Apakah benar ini kunci jawaban soal matematika buat UN besok? Tanyaku dalam hati. Tiba-tiba pikiranku melayang kepada wangsit dari salah seorang guru saat terakhir bimbingan belajar di sekolah.
“Tidak usah banyak nanya yah kalau ada sms.”
Mungkinkah ini??? Aha, seperti ada bola lampu menyala dengan terangnya di fikiran nakalku.  Sudah dapat kunci  jawaban, aku tak perlu belajar lagi. Membuat pusing otak tumpul saja! Tanpa berpikir panjang, aku langsung mencatat isi pesan itu dalam secarik kertas. Lumayan, walaupun cuma 15 soal. Setidaknya akan meringankan penderitaanku besok.
***
Tersaruk-saruk aku menyeret kaki menuju sekolah, ratusan siswa berseragam putih-abu sudah berkumpul di halaman sekolah yang juga berfungsi sebagai lapangan basket untuk menerima beberapa ultimatum dari kepala sekolah dan guru.
“Hei Dhee, itu kenapa rokmu banyak noda hitam?” komentar Indri saat aku menyelinap ke barisan upacara. Indri menunjukkan noda hitam itu, aku sendiri terkaget-kaget dibuatnya.
“Waduh, apa ini? Kok kesayanganku jadi hitam begini?” aku panik demi melihat ujung-ujung rok abu-abuku penuh noda-noda hitam.
“Hmm… kena oli yah? Di cucinya nanti pakai minyak tanah saja, biar hilang..” yang lain memberi saran.
“Pakai minyak tanah? Memang bisa?” aku tak yakin. Huh.. ini adalah kesialanku di hari pertama akan menghadapi UN. Betapa sebalnya…!! Ya sudahlah, ini mungkin harus terjadi padaku. Rok abu-abuku kena oli saat menaiki motor.
Di tengah-tengah upacara, beberapa teman berbisik di telingaku.
“Dapat SMS tidak?”
Aku mengangguk, lalu kami mengakur-akurkan kunci jawaban itu. Dan melangkahlah kami ke ruangan yang telah ditentukan.
Jantungku deg-degan tidak karuan, saat mencari nomor bangku. Akh, di sinilah kumulai pertarungan ini. Masa depanku ada dalam butir-butir di lembaran penuh misteri ini. Yah, UN memang penuh misteri. Bagiku UN sangat menyeramkan. Kata orang lulus itu sebuah keberuntungan, berita-berita tahun lalu membeberkan sederet kisah,  tak sedikit orang yang dianggap pintar tapi tidak lulus UN.
Hiii… aku bergidik dengan ketakutanku, 3 orang pengawas asing tak berhenti-berhentinya berkeliling. Membuat keringatku mengucur deras di pelipis saat memelototi lembar soal penuh misteri itu. Sial, aku benar-benar terjebak dalam kawah persoalan. Kulirik beberapa teman di bangku depan, mereka nampak asyik-asyik aja.
Tas, hape, buku, kalkulator dikumpulkan ke depan.       Aku hanya mampu menatap barang-barangku yang tergeletak pasrah di lantai di samping pengawas utama.
“Hei kamu jangan celingak-celinguk saja…!” salah satu pengawas menggertak. Aku terkejut bukan kepalang, kulihat wajah sangar sang pengawas, seolah menunjukkan taringnya.
Kulirik ke arah suara bass itu, betapa plongnya hatiku, ternyata gertakan itu bukan ditujukan untukku. Melainkan untuk teman di belakangku. Huh… tapi bagaimana caranya aku bisa membuka catatan kecilku yang berisi kunci jawaban Matematika itu, sementara si pengawas berdiri tepat di sampingku? Aku hanya bisa garuk-garuk kepala sambil menunggu sang pengawas lengah.
Kulirik lagi ke samping, Surya mengacungkan jari telunjuknya ke belakangnya, tepatnya ke arah Heru. Hmm… aku senyum-senyum sendiri, mengerti isyarat itu, tadi sebelum masuk kelas, beberapa teman mengajari kode begitu. Lihai juga permainan mereka. Kulihat lagi ke depanku, ada Septa yang nampaknya sibuk menghitung kancing bajunya. Senyumku mengembang tipis, melihat gelagat Septa yang mencari peruntungan lewat kancing baju.
“Trik agar tidak dicurigai oleh pengawas yaitu jangan memperhatikan pengawas, harus pura-pura cuek saja”. Demikian kata-kata Indri, berdenging di telingaku beberapa saat sebelum bertempur dengan soal-soal keramat ini.
Aku paling alergi pelajaran matematika, paling bolot di kelas XII IPA-1, maka aku sangat membutuhkan secarik kertas yang berisi kunci jawaban itu. Aku percaya, sms itu bisa menyelamatkanku, karena hampir semua siswa mendapatkannya.
Dek-dekan sekali, saat kubuka pelan-pelan secarik kertas dari saku baju putihku, lalu kuselipkan di balik soal. Bukannya sok, suci, jujur ini pertama kali aku berbuat curang. Akh, ternyata phobia  terhadap UN meruntuhkan imanku untuk TIDAK MENYONTEK. Pepilipisku bermandikan keringat, ketika kubulati lembar jawaban itu.
“Dhe, habis ini kita main ke pantai yuk.” Ajak Dede Ika, temanku dari kelas XII IPS B.
“Besok kan masih ada UN, kamu tidak belajar?.”
“Haha… buat apa belajar?  Nanti malam juga pasti ada sms kok!”
“Aku heran,  katanya itu soal dokumen rahasia. Kok guru bisa tahu kunci jawabannya yah? Dari mana mereka dapat kunci jawabannya? Apa mungkin sebelum soal dibagikan ke siswa, guru terlebih dahulu mengerjakannya yah?”
“Akh, itu bukan urusan kita Dhe. Guru mah berpikirnya yang penting siswanya lulus semua. Soalnya nih, kalau satu siswa saja tidak lulus, maka akan mencemarkan nama baik sekolah.”
Akh, aku hanya menelan ludah sambil geleng-geleng kepala. Pendidikan di negeri ini memang kacau! UN telah mengajarkan orang yang mengerti akan pendidikan untuk berlaku bodoh. Bagaimana generasi muda akan pintar, kalau kecurangan itu sendiri dilakukan oleh guru-gurunya? Orang-orang yang memberikan pendidikan!


Untuk Lima Tahun Mendatang


Korupsi itu dilakukan oleh orang-orang pintar, bukan orang cerdas. Kalau mereka cerdas, mereka pasti akan memikirkan dampak dari korupsi itu sendiri. Mereka hanya memikirkan kepentingan perutnya sendiri dan trik bagaimana menghilangkan milyaran rupiah. Tidak memikirkan berapa juta perut-perut kelaparan akibat perbuatan korup yang dilakukan.
Lima tahun mendatang, aku ingin bangsaku menjadi negeri yang bebas dari korupsi, hukum ditegakan seadil-adilnya, tidak pandang bulu serta tidak memihak pada kaum tertentu. Hukum tidak hanya berlaku untuk orang miskin, tapi juga untuk orang kaya. Kebobrokan hukum di Indonesia sudah nampak jelas dalam berbagai kasus, contoh kecil saja kasus yang paling terkenal seperti kasus Prita, dan masih banyak kasus-kasus lain yang memarjinalkan kaum miskin. Rakyat kecil yang hanya mencuri pisang saja dipenjara, sedangkan maling berdasi yang menggelapkan milyaran rupiah dibiarkan perut-perutnya membuncit.
Lima tahun mendatang aku ingin negeriku menjadi negeri yang kaya, masyarakatnya kaya akan ilmu pengetahuan, teknologi, serta menjunjung tinggi nilai-nilai religi,  sehingga bisa memanfaatkan sumber daya alam yang tersisa dengan sebaik-baiknya dan mampu menciptakan lapangan kerja. Pemerataan lapangan pekerjaan di tiap provinsi, sehingga tidak menyebabkan arus ubanisasi maupun transmigrasi. Bangsa pribumi tidak lagi menjadi “babu” di Negara lain, tetapi mampu mendatangkan “babu” dari Negara lain. Semoga kita bisa mencontoh Jepang yang tak menampakkan kesengsaraan walau diterjang tsunami.
Lima tahun mendatang aku ingin, semua jenjang pendidikan di Indonesia bebas dari biaya apapun (gratis), agar kaum miskin bisa menikmati indahnya pendidikan. Rakyat miskin bisa merasakan nikmatnya bangku kuliah,  tidak ada lagi masyarakat buta huruf, anak jalanan maupun pengemis yang menjadi pemandangan buruk negeri ini.
Sarana transportasi yang masih carut-marut, menyebabkan kemacetan merajalela di kota-kota besar, terutama ibukota dan Jawa Barat. So, perbaiki sarana transportasi.
Lima tahun mendatang, aku ingin negeriku lebih baik dari hari ini, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, pendidikan dan teknologi.

Karena Menulis Itu…



Aku ingin menjadi penulis, keinginan ini muncul semenjak Tuhan menganugerahkan kelebihan kepada kedua tanganku. Menulis selain bisa berwisata pikiran dan hati, juga bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca. Menyebarkan informasi dan pengetahuan, sekaligus ladang berdakwah. Ternyata untuk menerbitkan sebuah buku sangat susah. Tapi mungkin Tuhan tengah menguji, agar aku bisa lebih berusaha keras. Karena jalan menuju sukses itu sangat berliku, aral dan rintangan mengiringi perjalanan hidup kita.
Menulis itu bisa mencerdaskan seseorang, karena apabila kita sudah terjun atau mencintai dunia tulis-menulis, maka mau tidak mau seseorang itu harus membaca buku, baik untuk bahan referensi maupun perbandingan. Apabila semua masyarakat Indonesia memiliki hobi membaca dan menulis, maka negeri ini akan terbebas dari kebodohan.