Senin, 14 Mei 2012

Tweenty, Never Forget…!




Chintia melingkari sebuah tanggal di kalender, ia pun memasang tanda peringatan di hape mungil kesayangannya, agar tak lupa hari itu sobatnya ulang tahun. Yeah, sejak bulan kemarin Mega mewanti-wanti agar Chintia memberikannya kado spesial. Chintia memaklumi, mungkin saja Mega ingin diperhatikan oleh teman terdekatnya. So, sekarang pun Chintia meluncur ke Bandung Indah Plaza untuk membelikan hadiah buat Mega. Setelah muter-muter sampe kepalanya juga ikut muter, akhirnya Chintia menemukan sesuatu yang kiranya pantas untuk sahabatnya itu. Benda ini memang tidak sesuai dengan permintaan Mega, tapi apalah daya kantongnya tak cukup untuk memenuhi keinginan Mega. Chintia berpikir, walau kecil tapi mudah-mudahan bermanfaat. Dibungkuslah benda itu dengan kertas kado Spongebob, kartun kesukaan Mega. Chintia menimang-nimang kado itu, setelah terbungkus rapi. Ia tersenyum-senyum sendiri ketika teringat tingkah polah Mega yang meminta kado kepadanya.
“Tia, jangan lupa ya ngasih aku kado, seminggu lagi,” begitu Mega merengek, seperti anak kecil yang ingin dibelikan mainan oleh ibunya.
“Gak, akh.” Tia menukas cepat.
“Kok enggak?” Mega langsung mendelik.
“Apa pentingnya ngasih kado ulang tahun?” Chintia bertanya cuek.
Air muka Mega langsung berubah, bibirnya mengerucut 100 derajat. Obrolan itu baru terjadi semalam. Ia jadi berpikir, seandainya dirinya benar-benar tak memberi kado untuk Mega, apa kira-kira yang akan terjadi?
***
Mega menatap langit-langit kamar, seminggu lagi dirinya ulang tahun, tepat di momen hari Kartini, pahlawan wanita bangsa ini. Ia sudah menghitung siapa saja orang-orang yang akan memberinya kado, Putri, Chintia, Sri, Ela dan tentu saja 7 orang gengnya. Mega sangat mengharapkan, teman-temannya memberikan kejutan yang indah di hari spesialnya. Seperti yang ia lakukan ke teman-temannya, yang selalu memberikan kado bilamana temannnya ulang tahun. Menurutnya kado harus dibayar dengan kado. Walaupun kemarin Chintia bilang tidak akan ngasih, menurutnya kata “tidak” itu masih abstrak. Chintia pasti cuma bercanda. Chintia tidak akan setega itu padanya. Ia kenal Chintia hampir setahun. Pembelaan itu setidaknya untuk menghibur diri.
“Put, kok Chintia bilang gak akan ngasih kado ke aku? Dulu kan aku ngasih ke dia…” Pecah juga pertanyaan itu ke teman sekamarnya, Putri saat itu tengah bergelut mengerjakan peer Akuntansi. Jujur ternyata ia kepikiran dengan ucapan Chintia.
“Kok dipikirin sih? Ya diikhlasin aja dong.” Datar Putri menjawab.
“Chintia gak serius, kan?” Mega masih ingin memastikan.
“Emang kalau serius kenapa, masalah buatmu?”
Mega terdiam sebentar, “kalo kamu sendiri Put, mau ngasih kado apa di ulang tahunku nanti?”
“Emang mau dirayain?” Putri balik bertanya.
“Enggak sih.” Mega menggigit bibir, di pelupuk matanya terbayang keluarganya yang berjauhan, bapak di Cimahi, mama di Jakarta dan neneknya di Tasik, sedangkan ia sendiri tinggal di Bandung. Mereka adalah keluarga broken home. Saat ini, hanya teman-temannyalah tumpuan harapan untuk memberikannya kebahagiaan, ayah ibunya sudah lama dilupakannya.
“Aku mau karpet yah kado ultahnya?” Pinta Mega lagi.
“Aku mau ngasih kamu kado, tapi bukan karpet. Aku hanya mau ngasih buku.” jujur Putri.
“Boleh buku juga, tapi seharga karpet.”
Putri tak menjawab, hanya tersenyum seraya geleng-geleng kepala. Tiba-tiba obrolan mereka terputus oleh suara ketukan pintu dari luar. Putri memberi isyarat agar Mega membukakan pintu. Setelah pintu terkuak, tampak seseorang berdiri dengan napas yang masih ngos-ngosan. Mega kaget dibuatnya.
“Ya ampun sayang, kamu kenapa? Ayo masuk.” Mega menggandeng tangan kekar itu, menuntunnya ke dalam kamar. Melihat kedatangan Dani, cowok Mega, Putri segera merapikan buku-bukunya dan bergegas pindah kamar. Seperti biasa, ia beralih ke kamar Chintia.
“Sayang, maaf ya. Aku gak bisa ngasih kamu TV, aku hanya bisa ngasih kamu ini.” Dani mencium lutut Mega dengan muka bersalah. “Ini adalah kado ulang tahunmu.”
Mega memandang barang-barang yang dibawa Dani, ada dispenser, rescooker dan kipas angin. Semuanya masih terbungkus rapi dalam dusnya masing-masing.
“Tapi kan, ulang tahun aku masih seminggu lagi. Masih ada waktu buat kamu mengumpulkan uang untuk beli TV, bebz.” Mega bergelayut manja, ia menarik Dani ke dalam pelukannya. Dani tak dapat berkutik, ia begitu lemah untuk mengatakan tidak punya uang simpanan lagi untuk membelikan kado yang diharap Mega.
“Aku usahakan yah. Tapi kalau ternyata aku gak bisa, please jangan usaikan hubungan kita.”
Mega tak menjawab, ia melepas pelukannya. Dani tak dapat menerka apa yang ada di pikiran Mega. Kecewa mungkin pasti.
***
Ia menggeliat nikmat tatkala baru bangun dari tidur panjangnya, setengah mengumpulkan nyawa, ia bergegas ke atas balkon dan pandangi langit yang masih nampak merah, seolah baru dinyalakan. Ini adalah hari yang dinantikannya
 Happy birth day…” Putri menghampiri seraya membawakan kue tart kecil, lilin mungil yang menyala putih di atasnya turut menghiasi kue itu. Senyum mega merebak lucu, ada rasa haru menyeruak sisi bilik hatinya.
“Ayo, tiup lilinnya!” Perintah Putri.
Setetes air mata menimpuki pipinya ketika ia meniup lilin ultah, lilin itu mengukir angka 20. Angka yang berarti ia harus pelan-pelan menuju dewasa. Mega memeluk Putri erat.
“Makasih yah. Kamu emang temen yang paling baik.”
Lagi-lagi Putri tak menjawab, ia hanya cukup senang bisa membahagiakan orang lain, terlebih teman sekamarnya. Dari balik jendela kaca Chintia memperhatikan, Putri menyadari itu. Tanpa Mega sadari mereka saling menatap, lalu melempar senyum kecil. Ketika Mega melepas pelukannya, buru-buru Chintia menutup kembali gorden kamarnya. Lantas ia bergegas menuju kamar mandi.
“Kamu emang temen yang paling baik.”
Tiba-tiba kalimat itu terngiang jelas di telinganya, ketika dinginnya air meresap ke wajahnya. Ia terdiam dan berpikir sebentar, tiba-tiba ia  merasa tak perlu untuk memberikan kado itu kepada Mega. Aneh, pikiran orang memang bisa berubah-ubah dalam waktu yang cepat.
***
Chintia menutup mulutnya rapat-rapat, ketika satu persatu teman-temannya mengucapkan selamat ulang tahun pada Mega. Mega membalasnya dengan senyum dan tawa suka cita. Seolah tak mendengar apa-apa, Chintia yang saat itu tengah berada di kamar Mega asyik saja membaca buku kesayangannya. Mega melirik kesal ke arah Chintia, jangankan kado, bahkan ucapan selamat ulang tahun pun Chintia tak berikan. Walau banyak teman yang mengucapkan selamat, Mega merasa ada yang kurang kalau teman dekatnya sendiri belum mengucapkan itu. Mega merenung sejenak seraya menatap Chintia lekat-lekat, Chintia benar-benar tak acuh.
“Apakah Tia mengujiku?” Mega membatin. Lantas ia pergi ke kampus, membawa perasaan dongkolnya.
“Apa susahnya coba sekedar mengucapkan selamat aja? Gak perlu bayar kok!” Mega ngedumel di jalan, melampiaskan kesalnya pada desau angin.
***
“Sayang, maaf banget yah. Aku benar-benar tidak bisa memenuhi keinginanmu. Ini buatmu.” Dani berdiri pasrah di hadapan Mega, ia menyodorkan boneka kambing mungil warna pink, sementara kepala, kaki dan ekornya berwarna gelap. Ia amat mengasihi gadis itu namun sebagai mahasiswa kere, ia tak sanggup menuruti segala keinginan kekasihnya. Maklum, ia masih menengadahkan tangan pada ortu. Segitu pun ia bisa ngasih ke pacar, mati-matian mengumpulkan uang jajannya.
 “Hai… hai… ada yang ultah yah kemarin. Siapa yaa...?” teriak Chintia dari luar. Mega terdiam, mungkin inilah saatnya Chintia mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tapi Chintia tak ke kamarnya, dengan sangat jelas ia mendengar ucapan ultah itu bukan ditujukan padanya. Ia menguak pintu kamarnya sedikit, mengintip Chintia bercipika-cipiki dengan teman yang lain.
“Dewi, met millad yaa… semoga tambah caem.”
Mega tertegun, hatinya teriris. Ia pikir, Chintia akan ke kamarnya. Mengucapkan tiga kata yang sangat ditunggu-tunggunya, tiga kata dari seseorang yang sudah dianggap kakaknya sendiri. Tapi Mega tak mendapatkan itu dari orang yang diharapkannya, Chintia malah mengucapkannya pada orang lain, pada teman sekelasnya. Mega termanggut-manggut, setitik air mata jatuh halus ke pipinya.
“Okey, kalau permainanmu seperti itu, akan kuikuti.” Mega geram. Dalam hati ia berjanji banyak hal, salah satunya tak akan memberikan senyum manisnya lagi untuk Chintia.
“Teman macam apa kamu Chintia. Kamu bukan temanku!” Mega tergores, hatinya luka berdarah.
“Okey. Tak mengapa kamu tak membelikanku TV, tapi ajak aku ke Sawarna!” tegas Mega menjawab. Kesalnya meluap-luap, ditumpahkan pada kekasihnya.
“Apa? Sawarna? Maksudmu pantai Sawarna yang di Banten Selatan?”
“Iya. Sudah lama banget aku ingin ke sana. Bosen, di Bandung gak ada pantai,” tuturnya menggebu-gebu.
“Tapi kan jauh banget sayang.”
“Trus masalah buatmu???”
“Kamu gak mikir yah, aku ini sudah menempuh perjalanan jauh dari Tasik-Bandung. Sekarang kamu malah minta ke Banten. Jujur aku capek.”
Mega melepas napas panjang. “Jadi intinya kamu keberatan?” Kesalnya kini bertambah-tambah.
Dani mengangguk pelan.
“Kamu tahu apa konsekuensinya?” sambar Mega.
“Kamu bebas marah sama aku. Tapi satu pintaku, please jangan usaikan cinta kita.”
“Kalau itu yang akan kulakukan, kamu mau apa?”
“Kamu serius?”
“Sejak kapan aku tidak serius?” Mega menatap nanar pada Dani. Ia pun tak mengerti, ia kesal pada Chintia malah Dani yang disemprotnya.
“Kamu belum dewasa yah ternyata.” Muka Dani merah padam. “Belum cukup ternyata pengorbanan aku selama ini buat kamu. Umur 20 belum bisa membuatmu berpikir dewasa.” Mega tersentak, tak disangka Dani akan semarah itu. Tapi pikirannya saat ini sedang kacau balau, ia hanya ingin marah pada siapapun yang membuatnya kesal, yang tidak bisa memenuhi keinginannya karena alasan sepele.
“Alasanmu capek, gak berbobot! Kalau kamu anggap dispenser, rescooker, kipas angin dan si kambing ini adalah pengorbanan besar, silahkan ambil lagi.” Mega sewot.
Bukan main terlukanya hati Dani, kecewa dengan sikap Mega. Hari ini ia seperti tak mengenalnya lagi, Mega yang selalu berkata manis padanya. Tapi hari ini berbeda. Walau begitu, ia berusaha menepis emosi yang berusaha memancingnya untuk marah.
“Aku mau ngajak kamu jalan-jalan, makan-makan… tapi tidak ke Sawarna, mau ya?” Dani membujuk, berusaha mencairkan suasana.
“Aku hanya maunya ke sana. Keinginanku tidak dapat diganggu gugat dan tak dapat digantikan oleh yang lain.”
“Kamu keras kepala.”
“Emang. Trus???” Mega nyolot, Dani menunduk. Ada isak tangis yang tak kasat mata, ia tersembunyi di dasarnya hatinya. Dani pulang membawa luka.
***
 “Kenapa loe, kak?” Arum bertanya demi melihat wajah kusut Dani. Sepulang dari kostan Mega, Dani langsung merenung panjang. Mungkin dirinya salah menolak keinginan Mega, tapi juga Mega keterlaluan tidak  mau mengerti posisinya.
“Diputusin Mega,” jawab Dani singkat.
“Lagian lo sih, jadi suami-suami takut istri gitu.” Ledeknya, puas melihat kakaknya menderita. Dani tak menjawab, mukanya tambah manyun.
“Ntar malam gua sama my geng ceritanya mau ngasih kejutan gitu deh buat pacar loe, eh sorry… mantan lo ya? You wanna join?” Arum berkacak pinggang berdiri di daun pintu kamar Dani.
Lagi-lagi Dani tak berminat menjawab, ia hanya menggeleng. Kesal. Arum melempar boneka ke jidatnya seraya berteriak.
“Loe kalo pacaran makanya jangan ngeliat muka. Muka cantik kalo matre bikin lo susah sendiri kan? Mending kalo sudah punya duit sendiri!” Selepas menancapkan kalimat-kalimat itu, Arum melengos ke kamarnya.
“Brisik loe!” Umpat Dani dengan kesal tertahan.
***
“Happy birth day to you… Happy birth day to you…”
Malam itu Arum the geng memberi kejutan ultah untuk Mega, walau telat sehari namun daripada tidak sama sekali.
“Makasih ya teman-teman…” Mega tampak bahagia.
“Tiup lilinnya… potong kuenya…”
Kamar Mega ramai oleh canda tawa cekakakan ulah gengnya. Chintia mendengarnya dari kamar sebelah. Ia merasa canggung untuk bergabung, cukup mendengar saja. Lagipula Mega sedang marah besar padanya.
Okey, saatnya kita let’s go…”
Mega cs merayakan kebahagiaannya dengan mentraktir teman-temannya di Waroeng Steak.
 “Chin, loe gak diajak?” Kartika, salah satu teman kostnya bertanya aneh, seperti ada yang tidak beres menurut penglihatannya.
“Maklum, gak ngucapin ultah dan gak ngasih kado.” Dengan muka lesu Chintia menjawab.
“Kenapa?”
“…….”
Chintia memilih untuk tidak menjawab, dia punya alasan yang tak dapat dijelaskan kepada siapapun.  
Bersambung…. (Dhee Shinzy Y.)
***

Rahasia di balik Keperkasaan Ayah dan Ibu


Salah satu cerpen yang terdapat dalam buku "Hadiah Kecil untuk Orangtua"


Kepalaku masih terasa berat, berputar-putar bak gelinding roda yang digulingkan. Perjalanan Bandung Malingping memang perjalanan yang sangat panjang, sekitat 8 jam aku berada dalam mobil umum. Hal itu membuatku sangat lemas, seakan tiada gairah untuk tubuhku yang kurus kerontang ini. Menjelang maghrib tatkala tiba di pintu kontrakan, adalah tempat keluargaku  menghuni, tak ada sambutan apapun, selain tangan-tangan mungil dekil dari ketiga bocah yang menyalamiku, lalu berebutan meraih tas gede di pergelangan tanganku. Mereka pasti mengira tas gede itu adalah oleh-oleh, padahal isinya hanyalah pakaian butut yang sudah tak pantas lagi kupakai. Kubiarkan saja mereka membawakannya sampai memasuki tempat peristirahatanku.
“Ibu mana?” tanyaku pada salah satu bocah mungil dekil paling bungsu, dia bergelayut manja ingin kupeluk.
“Belum datang, masih jualan.” Jelasnya dengan suara khas anak-anak perempuan. Aku berhembus nafas berat, sambil rebahkan tubuh di atas spring bed. Kasur ini satu-satunya yang paling kugemari saat berada di rumah, karena tak ada harta lain yang lebih berharga di kontrakan ini selain kasur.
Kutatap langit-langit kamar yang berserakan sarang laba-laba di atasnya, seperti berserakannya pikiranku dalam balutan kenangan wajah keriput ibu menjajakan dagangannya.
“Tuhan, beri dia kekuatan untuk terus bertahan.” Hanya itu kalimat yang mampu kuucapkan sebelum kumengatupkan mata.
***
Aku menggeliat nikmat ketika telah terjaga, entah berapa jam aku tertidur. Belum beranjak dari tempat tidur sedang mataku masih berat pula, kudengar sayup-sayup percakapan dari luar, sepertinya dari arah dapur.
“Jadi, bertahun-tahun kamu kerja di Warung Bakso Hanum tapi tak pernah dibayar?” Tanya seseorang bersuara bass.
“Iya, dibayarnya pake bakso. Jadi kalau mau diuangkan, saya harus berkeliling jualan dulu. Yah, yang namanya jualan terkadang laris, kadang pula tidak. Yang paling menyedihkan kalau dagangan masih banyak dan saya tidak mendapatkan apa-apa selain rasa capek dan lelah seharian. Sudah mah kerja dari subuh sampe lohor, beres kerja harus jualan lagi biar dapat uang.”
“Lantas kenapa dikerjain atuh? Kenapa masih kerja di si Hanum kalau dibayarnya sama bakso mah, bukan sama uang langsung?”
“Lha, saya kan butuh. Trus jajan si barudak[1] dari mana, keperluan dapur, kuliah si Zena? Saya kan gak bisa ngandelin kamu. Kalau gak dibantu-bantu sama jualan bakso ini, gak akan tercukupi.”
Sesaat suasana hening, aku mengernyit mendekatkan kuping lebih tajam lagi pada percakapan itu.
“Sebenarnya Hanum sudah tidak membutuhkan tenaga saya, karena sudah banyak karyawannya. Tapi saya maksa ingin kerja, ya sudah… saya diberi pekerjaan tapi dibayarnya pake bakso. Begitulah awalnya mulanya, saya… empat tahun bekerja hanya dibayar oleh bakso.”
Kudengar suara itu terisak, kiranya itu sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dan juga luapan kesedihan.
Aku limbung di tempat dudukku sendiri, serasa ditimpuk palu godam kepala ini. Menimbulkan reaksi pening yang menggila. Bagaimana tidak? Itu adalah percakapan ibu dan ayahku. Mungkin ibu sedang curhat kepada ayah, membagi keluh-kesahnya. Tapi ibu tidak pernah membagi kisahnya padaku. Sekalipun tidak pernah, ia selalu ceria bila menelpon aku dari kejauhan, dari jarak Malingping-Bandung, hanya mungkin agak sedikit mendung kalau kuminta dikirim uang. Gagahnya pula, Ibu tak pernah bilang tidak punya uang, ia selalu mengirimi bila kuminta, tepat waktu… benar-benar tepat waktu. Misalnya hari ini aku meminta uang dan harus dikirim besok karena keperluan mendesak, pasti ada… pasti dikirim. Hingga membuatku berspekulasi, bahwasanya pekerjaannya baik-baik saja. Kata ibu, kerja di Bakso Hanum setengah hari diupah 50 ribu. Siapa yang tidak tenang dengan pengakuan seperti itu?
Ya Tuhan, ini baru kutahu. Sesak dada ini setelah mendengar semuanya. Selama ini aku dengan entengnya meminta uang dan meminta uang terus-terusan tanpa memikirkan bagaimana ibu mendapatkan uang, tanpa ingin tahu seperti apa bentuk perjuangan ibu menguangkan baksonya. Aku menelan ludah, pahit…
Empat tahun ibu bekerja untuk aku, untuk membiayai kuliahku di Bandung dengan bekerja di Warung Bakso Hanum yang terkenal di wilayah Malingping, ternyata gaji 50 ribu itu dibayar dengan bakso. Kalau ibu tidak menjualkannya lagi, ibu tidak mendapatkan apa-apa. Astagfirullah, kok ada yah jenis pekerjaan seperti itu? Aku mengadu pada angin yang meniupi pundakku.
Perlahan air mataku meleleh, membasahi pipi yang masih kusut ini. Aku mengiba mereka. Pada ayah, pada ibu…. Harus kubayar dengan apa pengorbanan mereka untukku? Lidahku kelu, tak dapat berkata apapun, selain memupus air mata dan cukup menangis di hati saja.
Aku beranjak dari tempat tidur, meraih handuk yang terdapat di jemuran belakang. Melihat aku ke dapur, ibu dan ayah diam seketika, seraya menatapku dengan senyum.
“Selamat pagi mahasiswa...” ayah mencandaiku, seolah tak terjadi apa-apa. Matanya berkilat-kilat seperti cahaya matahari yang baru muncul di ufuk timur, aku tak sanggup menatapnya, apalagi menatap sembap mata ibu. Aku benar-benar tak bisa melakukannya. Seraya terus menunduk, kuseret kaki ke kamar mandi. Di sanalah kuluapkan segala pedihku dan yang berkecamuk di hati.
Setelah tangisan agak reda, aku keluar dari kamar mandi, sekitar setengah jam aku berada di dalamnya. Kulihat ibu, ayah dan adikku berkumpul untuk makan.
Teh hayu makan...?” ajak Iis, adik pertamaku yang sekarang duduk di kelas enam Sekolah Dasar.
“Sama apa makannya?”
“Sama kuah bakso.”
“Ibu mana?”
Atuh udah berangkat kerja teteh.”
Glek. Lagi-lagi lidahku kelu. Ibu tak berkomentar. Cepat-cepat kukayuh kaki ke kamar, luka itu merembes lagi. Akh, selama ini aku sangat menikmati menjadi mahasiswa, bersenang-senang: nonton, belanja, jalan-jalan dan kegiatan lain yang cukup menguras kantong, sementara ibu, ayah, dan adik-adikku hanya makan dengan kuah bakso bekas jualan. Kupikir sengaja ibu tak membeli lauk-pauk atau teman nasi lain hanya untuk mengirit agar aku tetap lanjut kuliah.
Ibu yang gagah, tiap hari bangun subuh dan pagi-pagi sekali sudah lenyap dari kontrakan, ia kerja di tempat Warung Bakso Hanum. Siangnya, selepas kerja lantas berjualan bakso lagi, baru pulang sebelum atau sesudah magrib.
Ayah yang perkasa, walaupun menyopir sesuai permintaan boss, tetapi ia berusaha mencari pekerjaan lain jika sedang tidak tidak ada job, misalnya jadi kuli di kebun orang atau jadi pemulung sampah.
Itulah rahasia di balik keperkasaan ayah, keperkasaan ibu...
Apa yang bisa kuberikan untuk meraka?? Mampukah aku membalas semua kebaikan itu. Kurasa aku tak mampu, kurasa aku tak bisa, walau dengan segunung emas atau sekuintal berlian. Pengorbanan mereka lebih berharga dari itu semua. Darahnya... jerih payahnya... mereka tak membutuhkan balasan, hanya ketaatan. Mungkin!


Bandung, 20 September 2011

             Dhee Shinzy Y.
Judul: Hadiah Kecil untuk Orangtua
Penulis: Dhee Shinzy, Chinta Syahreza, Alfa Kamila, Dia Febrina, Lisna Nur Chaerunnisa, Ammar Machmud, Lina Rosliana, Sandza, Tiara Deviana, Daniel Hermawan, Apendi, Leni Afriani R, Chika Rei, M. Abdurrahman, Greeny Azzahra, Tri Hastuti, Zian Armie W, Dwi Reinjani, Teguh Apandi.
Penerbit: Leutika Prio
Tebal: 189 hal
Harga: 40.700
Telah diresendi di Koran Jakarta


[1] Anak-anak

Minggu, 13 Mei 2012

Gambarmu


Salah satu puisi yang terdapat di buku "Puisi adalah Hidupku"


Selembar potret usang mengelabu
Memucat dan mengelupas di dinding kamar.
Potret yang selalu kupandangi
saat rindu bersabda menggerimis jiwa
Gambar yang menceritakan nyanyian mawar kepada sang matahari
Gambar yang mengapung-apung bagaikan serbuk udara.

Di altar ingatan, pijarmu bertahta,
kupintal sajak namamu di seguris asa.
Gambar itu kamu.
Yang mengelupas usai redupnya mega...

Dhee Shinzy, 18 Mei 2011



Cerita Cinta Azura


Salah satu cerpen yang terdapat dalam buku "Leumeung Cinta"

“Pokoknya tahun  ini aku harus bisa menerbitkan novel…” ucap Azura dengan semangat 2011. Sebuah kalimat yang sering diucapkan Azura kepada siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Terkadang membuat para pendengar bosan mendengarnya. Biasanya, mereka hanya mampu mengangguk-angguk, mengaminkan ambisi gadis yang sudah menginjak kepala dua ini. Lama-lama Bela penasaran juga dengan ambisius sang dara satu ini.
“Kenapa sih kamu sangat berambisi menerbitkan novel?”  tanyanya pada suatu ketika.
“Oh jelas donk, soalnya aku ingin jadi penulis yang karyanya bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.” Kalau ditanya soal impiannya, Azura paling semangat untuk menjawab.
“Selain itu, ada maksud lain gak?”
Azura terdiam sebentar, lalu tiba-tiba nada suaranya merendah. “Aku… ingin bertemu lagi dengan cinta pertamaku.”
Glek. Bela yang saat itu tengah menyeruput ice lemon tea, mendadak keselek demi mendengar alasan yang kedua ini. Menjawab penasaran, Bela langsung meluncurkan beberapa pertanyaan.
“Loh, apa hubungannya nerbitin novel dengan bertemu cinta pertama?”
Azura berpikir sebentar, mencari alasan.
“Kalau novel aku sudah terbit, sudah beredar di toko-toko buku dan kalau nasib baik berpihak padaku, misalnya novelku diangkat ke layar lebar, cinta pertamaku yang sudah tidak kuketahui rimbanya lagi pasti akan tahu siapa pengarangnya. Pasti dia akan memuji aku, dan bahkan… bisa aja kan menghubungiku lagi sekedar memberitahu ia telah membaca novel karyaku.”
“Hahahaa…”
Kali ini Bela tak sanggup menahan diri lagi, ia tertawa ngakak sampai mengeluarkan air mata, saking gelinya mendengar jawaban Azura. Menurutnya, Azura terlalu terbawa khayalan fiksi. Azura cemberut, tak mengerti kenapa Bela sampai segitunya menertawakan dirinya.
“Berkhayal sih boleh… tapi yang berbobotlah,,, masak cuma ingin ketemu cinta pertama kamu harus menerbitkan novel dulu. Kenapa gak dicari di facebook aja gitu, kalau sekedar nyari orang mah. ”
Azura masih manyun, ia berkata dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.
“Sebenarnya usaha itupun sudah kulakukan, tapi tak membuahkan hasil. Sejak aku kuliah di Bandung dan dia tidak, aku benar-benar kehilangan jejaknya.”
“Hahaha… Cinta pertama yang mana sih? Emang seorang putri Langit Biru punya cinta?” Bela menggoda, ia terbiasa memanggil Azura dengan sebutan “Langit Biru”, karena memang kata Azura berasal dari bahasa Farsi, Tajiki-Persia yang artinya Langit Biru.
“Hanya orang yang gak normal yang tidak pernah merasakan jatuh cinta.” Pungkasnya seraya membuka note book. Mulailah ia menari-narikan jari-jemarinya di atas keyboard note book.
“Sepenting itukah cinta?” Bela menggoda lagi.
Azura tak menggubris.
                                                            ❦❦❦
Langit, mengapa aku harus jatuh hati padanya?Seseorang yang hanya bisa kusentuh lewat kata, pena dan air mata…
Desahku pada nyanyian mawar dan puisi fajar saat memandangmu melahap semangkuk sop buah di sampingku. Bersamamu dalam jarak yang dekat, adalah sebuah kesempatan langka yang kudapat selama nafasku berhembus. Setahun sekali saja aku bisa menatap bola mata beningmu secara nyata, merupakan rezeki terindah dalam hidupku. Di sampingmulah hati ini merasa damai.
Tapi itu hanyalah sepenggal potret kebersamaan kita yang kini telah lapuk dimakan usia. Empat tahun lalu. Dalam harap dan doa, jika boleh meminta Tuhan, beri aku kesempatan sekali saja untuk menatap telaganya dan mementaskan kisah indah hanya bersamanya. Tidak dengan yang lain atau siapapun yang berusaha mendekatiku atau mendekatinya.
Aku benci dengan jarak. Karena dia memberi  alasan tidak bersatunya sebuah cinta.
Pernah kuutarakan perasaan halus menyusup sum-sum tulang-belulangku, yang sudah kuartikan benar adanya. Perasaan yang timbul dari rasa kagum seorang teman terhadap paras lawan jenis. Tetapi hasrat memilikimu tak bergayung sambut. Adalah jarak sebagai alasannya.
Bagaimana caranya aku bisa mengobati rasa rindumu kelak jika jarak kita terlampau jauh?
Itulah pertanyaan yang dilontarkan olehmu empat tahun lalu. Saat aku kuliah semester tiga dan kau semester enam.  Teleponan, smsan, facebookan, atau yahoo messenger-an rupanya tak cukup bagimu. Engkau menginginkan lebih, selayaknya pasangan lainnya.
Aku tak mampu menjawab keinginanmu, dan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Merasa kecil hati tak mampu memenuhi persyaratan itu, dengan getir kuserahkan perasaan ini kepada Sang Pemilik Rasa. Dialah yang menciptakan bunga-bunga bermekaran di sudut hatiku tatkala pertama kalinya kita bersua. Semak belukar Gunung Pinang dan pepohonannya adalah saksi sejarah perjumpaan kita tanpa tegur sapa. Lalu dengan berat hati kubawa wajahmu ke Kota Kembang.
Di sudut bilik Kota Kembang, kukirimkan pesan singkat kepada angin, untuk disampaikannya kepadamu. Tak kusangka, angin menghantarkan pesan lagi untukku. Dari sinilah hal-hal yang tak biasa itu bermunculan di gerak tingkahku. Mengapa satu hari saja aku merasa hampa jika tak mendapat sms darimu? Suaramu, oh serupa candu yang memabukkan.
Satu tahun, usahaku untuk menjadi temanmu secara professional. Setia mendengar kisah cintamu bersamanya, walau kadang sesudahnya aku menitikkan air mata. Dan kau tak paham jua isyarat hatiku yang memintamu untuk berhenti bercerita tentangnya dan cari saja cerita baru, tentang langit biru yang menitikkan air mata. Terkadang terbersit pertanyaan, untuk apa cinta harus menyerbu kubu pertemanan, bila hal itu mengakibatkan retaknya sebuah kepercayaan?
Siang itu, melihatmu menghabiskan semangkuk sop buah, rasanya ingin kulabuhkan tubuhku di peraduanmu. Namun tak sanggup kulakukan, kerana kau bukan siapa-siapa untukku.
Menyesal, mengapa aku harus terjebak ke dalam permainan perasaanku? Untuk apa semua itu datang, jika menimbulkan cerita tentangmu dengan kekasihmu karam di pendengaranku? Dan kenapa juga aku merasa ingin mendengar kisahmu lagi, ingin menjadi temanmu seprofesional mungkin. Sekuat yang kubisa.
Tetapi aku hanyalah seorang wanita lemah, yang tak sanggup menepis ketika demam cinta kian menyebar menyesaki rongga dada.  Aku tak mampu menolak rasa itu ada.
Bersyukurlah kepada Sang Pemilik Rasa, karena Dia selalu menciptakan cinta di manapun kita berada, dan kepada siapapun. Termasuk kepada sang teman yang berstatus berpacaran.
 Bagiku, tidak menjadikanmu yang kedua adalah bentuk kasih sayangku padamu. Kamu berhak mendapatkan  yang lebih baik dariku.
Begitu katamu.
Aku merunduk tak ubahnya daun putri malu. Tak sanggup lagi melihat bening matamu. Biarlah rekaman indah bersamamu kubingkai indah dalam puisi-puisi melankolis.
Terkadang aku marah pada sang waktu, mengapa kita harus dipertemukan setelah senja menjemput cintamu?
Semua akan indah pada waktunya. Kalau sudah jodoh tak akan lari ke mana. Bukankah cinta tidak mesti digenggam?
Kamu berbisik lagi, selembut beledu di telingaku.
Akh, itu hanya sebuah ungkapan klasik atas ketidakmampuan mendapatkan sang pujaan. Bahkan aku bosan menganut falsafah demikian.
Mengapa aku tak boleh bahagia padahal kamu bisa?
Katamu,  
Di situlah akan kau temukan rahasia lezatnya mencintai seseorang yang tak berbalas.
Dahiku mengerut terhadap statementmu. Sudah separuh siang kuhabiskan denganmu. Langit biru mengerjap manja kepadamu.
Karena mencintai berarti memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Termasuk mengorbankan waktu dan perasaan untuk merelekannya bahagia bersama pilihannya.
Lidahku kelu. Adakah kau dengar hatiku menjerit menembus matahari di ubun-ubunku? Bersamaan dengan menghitamnya mega, pecahlah persembunyianku. Aku terisak.
Bagaimana seandainya kamu yang berada di posisi aku?
Kini engkau yang menunduk. Bahkan kau pun tak mau membayangkannya.
Terkadang seseorang itu lebih pandai menasehati orang lain, tetapi menasehati dirinya sendiri saja tidak becus.
Pedas! Kutancapkan kalimat itu di otaknya supaya dia berfikir untuk apa aku harus berkorban perasaan demi kebahagiaanmu dan kekasihmu.
Sungguh… aku hanya ingin melindungimu dari bejatnya tangan lelaki sepertiku. Aku ingin menjadikanmu berlian yang tak dapat terjangkau dengan harga picisan.
Kalau begitu, kenapa kau mau berpacaran dengannya?
Kali ini kamu menatap mataku sedalam-dalamnya.
Karena dia hanya pacarku, yang kugenggam dengan nafsu. Kau akan tahu, sedalam apa aku menyayangimu hingga aku enggan menyentuhmu dengan cara urakan. Kau jangan marah pada waktu, jangan benci pada jarak, sebab mereka itulah yang menjadikan perjalanan kisah kita penuh warna dan menjadi lebih hidup.
Pekataannya meresap benar ke otak, serasa angin meniup ubun-ubun saat senja datang menyapa.
Bolehkah aku bahagia bersamamu selamanya?
Lama kau terdiam, dan menancapkan satu harap di kubus hatiku.
Kita akan bertemu di lain waktu dan akan kuperdengarkan dongeng cinta yang akan kubisikkan di telingamu.
Oh, malaikat. Catatlah janjinya untukku. Jangan biarkan janji itu mengendap dan karam dengan berlalunya waktu. Bahwa di kota kembang ini, hanya namamu yang tertanam di air mataku.
❦❦❦
Huhuhuu…. Air mata Azura pecah berhamburan, menetes pada keyboard note booknya. Bela melirik iba ke arah temannya itu.
“Kenapa Langit Biruku?” dengan ragu, Bela membelai rambut hitam Azura.
“Kapan penantian ini akan berakhir? Kapan dia akan menyapaku di kehidupan nyata? Di manakah engkau berada, wahai piara kalbuku?”
Azura mendesah, lebih tepatnya mengadu.
Mau tidak mau, Bela membaca bagian novel yang telah Azura tulis. Baru kali ini Bela tersayat-sayat membaca paragraf demi paragraf cerita yang terususun dengan kalimat-kalimat yang indah. Begitu menggores kalbu.
“Itulah, kenapa aku tidak mau men-Tuhankan cinta. Karena cinta hanya membuat hidup seseorang merana.”
“Tapi aku tidak lebih bahagia bila hidup tanpa cinta. Oleh cinta, aku diajarkan bersabar menghadapi orang yang kita cintai. Oleh cinta aku diajarkan bagaimana aku bersikap untuk memahami orang yang kita cintai. Oleh cinta pula aku diajarkan seperti apa bentuk perjuangan untuk orang yang kita cintai.”
“Maksudmu dengan menerbitkan novel ini, adalah bentuk perjuanganmu untuk mendapatkan cinta?”
“Bukan untuk mendapatkan cinta, tapi untuk bertegur sapa kepada cinta. Kepada seseorang yang empat tahun silam luput dari mata, namun nama dan kenangan bersamanya masih tersimpan rapi di kotak memori bernama hati.”
 “Kalau begitu… aku mendukungmu untuk menerbitkan novel ini, agar seseorang di kejauhan sana melihat ketulusan hatimu.”
Azura tersenyum senang. Mereka berpelukan.
***
Setelah novel selesai, di bagian akhir tertulis seuntai kalimat.
Tuhan, perkenalkan aku pada cinta sejati. Karena yang kutahu hanya keikhlasan untuk penantian selama kurun waktu empat tahun silam. Cinta ini begitu mengkristal Tuhan, bolehkah kunamakan cinta sejati?
Beberapa bulan kemudian, meluncurlah SMS di inbox hp Azura.
Cintakanlah cinta hanya untuk-Nya, sebab Cinta sejati hanya milik-Nya.
Dari: Cinta Pertamamu.
Degg…
Apakah ini pertanda novel itu sudah di tangannya? Azura membatin, seraya menatap langit biru. Satu harap membalut hatinya lagi. (Dhee Shinzy Y.)

Gerobak Ayahku di Hari Pahlawan


Salah satu cerpen yang terdapat dalam buku "Sampai Penghabisan"
........................................................................................................
Arni setengah berlari-lari ketika hendak ke kampus, dilihatnya arloji di tangan kanannya sudah menunjukan hampir pukul 08.00 WIB. Sedangkan jam perkuliahan dimulai pada jam 07.30 WIB. Dalam benaknya ia berpikir, pasti dirinya terlambat.
Jarak kost-an ke kampus memakan waktu 10 menit, dan itu membuat nafasnya tersengal-sengal. Ia pun hampir kewalahan menyeret kakinya berlari, melewati gerobak-gerobak dagangan yang berjajar indah di sekitar jalan menuju kampus. Sekilas ditatapnya gerobak-gerobak itu, bervariasi sekali dagangan yang disuguhkannya. Membuat pikirannya mengembara ke alam yang hanya ia sendiri mengetahuinya. Kemudian ia berlari lagi, segera berlabuh di kelasnya.
Tok..tok..tok..
Diketuknya pintu dengan hati-hati, semua mata tertuju padanya. Dengan baik hati dosen mempersilahkannya masuk. Menjadikan lega hati Arni, karena dosen yang biasanya cerewet itu, kini tak berkomentar atas keterlambatannya.
Dosen sejarah tadi menanyakan tugas yang diberikannya kepada mahasiswa sejarah kelas B. tugas membuat opini tentang Makna Hari Pahlawan Wajib Atau Tidak Untuk Diperingati.
Arni mulai sibuk mencari-cari tugasnya, biasanya ia simpan di dalam binder, tapi ini tidak ada…!!
Degg…Arni mulai berdegup cemas, buku yang selalu dibawanya ke kampus setiap hari hanya binder. Dicari-carinya lagi…lembar demi lembar dibuka…tetap tidak ada!!
Dicari di dalam tas, masih tidak ada..!!
Arni terdiam pasrah, oops… ia jadi ingat. Tugasnya ia selipkan dalam buku sejarah, yang alhasil buku sejarah itu pun tak ia bawa.
“Ada yang tidak mengerjakan tugas???”
Sang dosen mulai bertanya, kalau sudah begitu maka urusannya menjadi gawat. Dengan pasrah Arni mengacungkan jari.
“Saya bu..!”
“Jelaskan mengapa kamu tak mengerjakan tugas?”
“Se... Sebenarnya saya mengerjakan bu, tapi ketinggalan di rumah.” Jawabnya gugup.
“Jadi menurut kamu, apa Makna Hari Pahlawan? Wajib Atau Tidak Untuk Diperingati?? Tolong kamu jelaskan dengan suara nyaring, biar semua teman-temanmu bisa mendengar!”
Arni menarik nafas dalam-dalam, ia mendesah pelan. Sesaat ia melirik keluar, menebus kaca kelasnya. Gerobak-gerobak itu seakan mengukuhkannya.

Tentang Hari Pahlawan

“Tiap kali aku berpapasan atau melihat gerobak dagang, terlebih gerobak bakso dorong, mata batinku langsung tenggelam pada keadaan yang tak bisa tertembus oleh dugaan. Mulutku membungkam namun hatiku bergemuruh… ada air mata yang ingin menetes namun tak mampu keluar. Pedagang bakso itu mengingatkanku pada ayahku, terutama pedagang bakso keliling…
Ayahku pun demikian.
Tiap hari ayahku mendorong gerobaknya berkeliling menjajakan bakso ikan. Berangkat dari pagi hingga  matahari lenyap dalam buaian malam, ayahku baru pulang. Peluhnya bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya ketika memasak bakso dan kemudian menjajakannya sungguh tak mungkin bisa terbayar olehku. Dibiarkannya kulitnya menghitam terpanggang di bawah sengatan sang surya itu. Tak pernah peduli pun ia tentang kerutan-kerutan yang timbul pada wajah legamnya. Ayah dari 4 orang anak itu lebih kelihatan tua dari umurnya, itu karena perjuangannya melawan kerasnya badai kehidupan. Ia berjuang di bawah sengatan matahari dan hujan badai. Menafkahi keluarganya dan menyekolahkan anak-anaknya.
Jika orang-orang berkumandang tentang hari pahlawan yang hanya jatuh pada 10 November, maka ayahku selalu melewatkan hari-harinya menjadi seorang pahlawan bagi kelanjutan kuliahku, dimana jumlah rupiah yang dikeluarkan untuk biaya kuliah tak sedikit.
Ayahku adalah paru-paruku…
Disetiap nafasnya yang terengah-engah saat menjajaki perjalanan panjang menwarkan baksonya, ia telah membagi nafasnya untukku dan keluargaku.
Ayaku adalah denyut nadiku…
Disetiap bunyi mangkok yang diketuk sendok lewat tangan ayahku hingga menghasilkan irama “teng, teng, teng” seakan memberi detak jantung kehidupan.
Ayahku adalah pahlawanku…
Bukan pahlawan Revolusi Indonesia yang berjuang dalam mepertahankan Pancasila dan UUD 1945 pada masa gerakan 30 September/PKI di bulan Oktober 1965. Bukan pahlawan kemerdekaan Indonesia, bukan pula pahlawan yang diperingati setiap 10 November. Ayahku juga bukan pergawai negeri selayaknya ayah-ayah yang lain. Tetapi ayahku adalah pedagang bakso yang berjuang seumur hidup untuk nyawa hidupku...
Dialah pahlawan yang sesungguhnya, yang menyanyikan kidung kebangsaan di bawah merah putih dengan gerobak baksonya. Merah adalah keberaniannya melempar anak tirinya ke jenjang perguruan tinggi, dan putih adalah keikhlasannya mengorbankan seluruh tenaga dan waktu untuk sang anak yang telah duduk manis di perguruan tinggi itu…
Tiap kali aku melihat nak kecil beseragam merah putih, aku jadi teringat pada adik perempuanku yang masih kelasa 3 SD. Dia pernah berkata padaku, “Ayah tak berani jualan bakso di sekolahku, takut anaknya malu katanya.” Ia memilih berjualan di tempat lain. Betapa tersayat hatiku mendengar pengakuan itu. Maka, pahlawan mana lagi yang pantas kuagungkan selain ayahku??
Aku sangat menghargai dan menghormati pahlawan-pahlawan Indonesia yang telah berjasa untuk negeri ini. Ayahku pun demikian, sebagai bentuk perwujudannya adalah gerobaknya bersama tetesan keringat yang memperjuangkan anak-anaknya untuk mengecap pendidikan setinggi-tingginya, demi baktinya kepada bangsa dan Negara.”
Tepuk tangan menggemuruh di kelas sejarah B, ada sebagian yang meneteskan air mata. Perkataan Arni yang lantang, seolah menghipnotis seisi kelas.
“Pada teman-temanku…” Arni melanjutkan dengan suara parau.
“Inilah jawaban mengapa aku tidak mau diajak ke bioskop, tidak mau belanja ini-itu, tidak mau menghabiskan uang cuma-cuma, betapa sakit hati ayahku jika aku sampai tega melakukan semua itu… dan betapa tak sanggup aku untuk melakukannya. Teramat perih perjuangannya untuk mendapatkan uang demi sekolah anak-anaknya, sampai-sampai rela makan hanya bertemankan nasi tanpa lauk-pauk hanya untuk mengirit agar anaknya bisa tetap sekolah. Untuk itu, kuusahakan pengeluaranku tak lebih dari sepuluh ribu perhari. Sekedar untuk mengganjal perut yang kosong saja, hingga aku masih bisa bernafas sampai wisuda kelak. Tak kuharapkan simpati maupaun belas kasihanmu kawan… yang kuinginkan hanyalah berempati dan mengerti serta ikhlas berteman denganku dengan segala kekuranganku.”
Arni tak kuasa lagi menahan air matanya, suasana kelas menjadi cekam. Sang dosen pun menitikan air mata, beberapa mahasiswa cewek menangis sesenggukan, terharu…
Siangnya sepulang dari kampus Arni mendapat kabar, gerobak ayahnya tersungkur di tengah jalan, disertai lautan darah merah di tepi trotoar. Arni melemas dan terhenyak.
Ayahku gugur di hari pahlawan, dialah pahlawan sejatiku.”
Maka disetiap tanggal 10 November Arni menangis… teringat kepulangan ayahnya bersama para pahlawan bangsa ini.


Bandung, Universitas Pasundan 2008
Dhee  Shinzy Y.