Jurnalisme Damai, Cinta Yang Tak Damai
Adakah pertemuan tanpa perpisahan?
Tuhan, jangan lakukan ini padaku…!
Atas rencana-Mu perkenalan ini terjadi.
Mestikkah kau pisahkan lagi,
setelah bersamanya aku merasa damai…?
***
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Jumpa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung memberikan kesempatan padaku untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) di LPM Suara USU, Universitas Sumatera Utara-Medan pada 23-28 November 2010 lalu. Didelegasikan ke USU menjadi kebanggaan tersendiri bagiku, kesempatan emas ini tidak boleh ditolak. Selain akan menginjak Provinsi yang hanya kudengar lewat televisi, media massa ataupun dari mulut ke mulut, juga di sana akan berkenalan dengan orang-orang seperjuangan, sesama pers mahasiswa se-Indonesia.
Tiba Di Bandara Pollonia
Aku yang berasal dari kampung, naik pesawat adalah pengalaman pertamaku. Jantungku melenyap saat pesawat mulai terbang. Dari jendela pesawat aku menatap ke bumi, semakin tinggi aku terbang, kusaksikan dunia semakin kecil, seolah berada di genggamanku. Durugdug… durugdug… durugdug… oh, ternyata begitu ya suara pesawat. Kata teman, itu tandanya cuaca lagi buruk. Ibaratnya seperti kendaraan darat, menginjak jalan yang rusak. Aku termanggut-manggut saja. Semakin jauh, semakin ku tak bisa melihat apa-apa di jendela pesawat, selain sayap di sampingku dan langit yang gelap. Lampu pesawat digelapkan, akhirnya mataku pun terpejam.
Setelah menempuh 2 jam dari bandara Soekarno-Hatta, tibalah kami di bandara Internasional Pollonia Medan pada pukul 22.00 WIB.
“Hey, kenapa yah tuh orang marah-marah?” tunjukku pada seorang wanita yang tengah berbicara sangat lantang di telepon. Begitulah kesan pertama yang kusaksikan setiba di bandara Pollonia.
“Itu bukan marah-marah say, kebiasaan orang Medan memang berbicaranya keras.” Excaferina Sri Utami atau yang lebih akrab dipanggil Ute menjelaskan.
Lagi-lagi aku mengangguk-angguk, ternyata orang-orang Medan suaranya soak-soak, alias volume suaranya kencang. Sungguh menakutkan bagiku yang berasal dari Sunda tulen, yang terbiasa dengan bahasa lemah lembut.
Dia yang Menjemputku Tadi Malam
Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan…
Saat acara pembukaan, seseorang berpakaian kemeja abu-abu menyanyikan lagu Ebiet G. Ade penuh dengan penjiwaan. Suaranya mendayu-dayu lembut, menghipnotis seisi ruangan aula. Aku yang menyaksikannya dari deretan peserta, tak sekejappun mataku berkedip dari memandangnya. Pikiranku mengembara, aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana?
“Dhe, dia yang tadi malam bonceng Ute loh.” Ute berbisik di telingaku, aku yang lagi minum air mineral mendadak keselek mendengar itu. Aku geleng-geleng kepala, tak percaya.
“Dia anak Batusangkar, angkatan 2009, seangkatan sama Ute.” Dengan bangganya Ute menjelaskan, membuatku tak bergeming, sambil mengingat-ingat kepada peristiwa tadi malam. Kami dijemput oleh dua motor. Aku tak memperhatikan bagaimana rupa wajah yang memboncengku, seingatku namanya Zanuar dari Kebon Jeruk-Jakarta. Sekilas aku memang melihat Ute dibonceng oleh seorang lelaki putih dan berambut ikal. Tapi sedikitkpun tak menyangka kalau lelaki seganteng ini yang membonceng Ute. Aku jadi iri habis-habisan, soalnya aku kalah sigap. Hee…
Berkenalan
Ba’da magrib panitia mengumpulkan kami di aula untuk makan bersama. Baik panitia maupun peserta semuanya berbaur saling berkenalan dan berbagi pengalaman di dunia jurnalistik yang kami geluti di kampus masing-masing.
Antara panitia dan peserta hampir tak ada jarak, walau baru saling berkenalan hari ini. Namun kami langsung akrab dan merasa sangat dekat. Gaya narsis dari masing-masing insan keluar dengan cepatnya ketika kami berfoto bareng. Jeprat jepret entah yang ke berapa, dalam berbagai pose lucu-lucu. Berawal dari situ juga seseorang memintaku untuk difoto.
“Eh, fotoin donk.” Dia berlaku SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat gitu deh padaku. Aku tertegun melihatnya, dengan anggukan kecil aku memotretnya dari kamera digitalku. Lalu aku menunjukkan hasilnya, kulihat dia merasa puas dengan hasil jepretanku. Melihat Ute lewat ke depanku, aku langsung beraksi. Aku berfikir tak boleh menyia-nyiakan moment ini.
“Ute, fotoin kita berdua donk…!” Pintaku pada Ute.
Tanpa ba bi bu Ute langsung mengabadikan aku dan cowok itu. Cowok yang belum kukenal namanya.
Terlibat Cinta Lokasi?
Namanya Febrian, biasa dipanggil Ian. Semenjak peristiwa difoto bareng itu, saat itulah asal mula kami berkenalan, saling berbagi pengalaman sampai tukeran nomor handphone. Tak dapat kulukiskan dengan kata-kata kebahagiaanku saat itu. Semua asa ada di depanku, seolah akan kutangkap dengan mudah.
Inginnya aku berlalu, dari kenyataan yang terjadi
Mengapa semakin kumencoba, semakin tak kuasa menghindarinya…
Pesonanya memikatku, kian hari kian membelenggu
Salahkah bila hati terpana asmara yang kedua,
datangnya begitu saja…
Begitulah nyanyian hati yang khusus kuciptakan untukknya, tapi hanya kusimpan di notes pemberian dari panitia. Aku berpikir bagaimana cara untuk mendekatinya. Akh, ide kreatifku muncul. Malam itu juga, aku mengajak dia untuk mengantarku ke ATM. Dan dengan mudah ia menyambut positif keinginanku.
Dibonceng oleh Ian mengitari gemerlapnya kota Medan membuat anganku melayang tinggi. Berpendar-pendar bintang mengikuti perjalanan kami yang sengaja diputarbalik oleh Ian. Dia sangat mengerti keinginanku, walaupun aku tak pernah meminta. Banyak cerita yang terlontar selama di perjalanan itu. Tentang kota Bandung, tentang kota Padang, tentang aktivitas kami di LPM.
Aku tak mampu mengartikan kebahagiaanku bersamanya terbit atas nama cinta. Kedatanganku ke kota Medan sama sekali tidak dimaksudkan untuk mencari lelaki. Aku yang sudah tiga bulan putus cinta seakan menemukan ruh baru dalam hatiku. Itulah mengapa di puisi itu disebut asmara yang kedua.
Yang jelas aku sangat menikmati sepenggal episode ini. Menikmati caranya ingin duduk di sebelahku saat kami menaiki bus tatkala kami (peserta) diajak jalan-jalan mengitari kota Medan. Menikmati caranya menyanyikan lagu untukku di dalam bus itu. Menikmati caranya ingin berfoto denganku saat tiba di mesjid raya Medan. Menikmati caranya ingin selalu bersamaku saat berjalan kaki dari mesjid raya menuju Istana Maemun. Menikmati caranya yang hanya mau membeli makan denganku, tidak mau bergabung dengan yang lain. Menikmati caranya meminjamkan jaketnya untukku saat akan berangkat ke danau Toba. Dan semua hal yang kulakukan dengannya begitu kunikmati. Bertebaran asa menyemai hari esok, tentangnya dan tentangku nanti akan bagaimana seandainya aku telah pulang ke tanah Sunda.
Akh, tapi aku tidak mau memikirkan bagaimana nanti, aku hanya ingin menikmati perasaan saat ini. Perasaan yang dilanda topan bernama cinta. Semua orang di Salam Ulos Jurnalisme Damai beramai-ramai menggosipkan aku dan Ian. Kedekatan aku dan Ian yang begitu singkat dan lengket menimbulkan hiburan tersendiri bagi mereka, keluarga baruku. Celoteh canda menghiasi menit-menitku di kota Bika Ambon ini.
“Selain pulang bawa ilmu dan pengalaman, mojang Bandung ini akan pulang bawa cinta. Hahaha….” Begitulah candaan mereka, yang membuat wajahku bersemu merah, akan tetapi semuanya terasa indah dan sangat mengesankan. Kulihat Ian pun hanya mesem-mesem seperti suka dengan permainan mereka. Apakah itu artinya perasaanku bergayung sambut? Oh, aku hanya mampu mereka-reka.
Di Pulau Samosir
Kata Icha, temanku dari LPM Identitas Makasar. Kedekatanku dengan Ian menimbulkan kekhawatiran bagi panitia lain. Sukses sudah panitia memisahkan aku dan Ian. Saat perjalanan menuju Prapat-Danau Toba, kami beda bus. Sungguh, perbuatan panitia itu melamparkanku pada perasaan sehampa-hampanya, walaupun di sebelahku ada Ute. SMS rupanya tak cukup untuk mengobati rasa kangenku yang mendera tiba-tiba. Aku kecanduan ingin selalu bersama Ian. Tuhan, semudah itukah aku jatuh cinta?
Jauhku dengan Ian tak cukup hanya dengan beda bus, saat berlayar di danau Toba menuju Pulau Samosir pun kami bercengkerama dengan teman masing-masing. Tentu saja membuat perasaanku kalang kabut dan menimbulkan resah yang tak berujung di hatiku. Sesampainya di pulau Samosir, barulah kami mendekatkan diri lagi. Namun terasa sangat kaku, seolah baru berkenalan lagi. Atau akukah yang tak lagi memiliki tema untuk bisa membuka percakapan? Alhasil, berbarenganku dengan Ian diliputi tanda tanya besar yang tak mampu kupecahkan. Kami diam seribu bahasa, aku dengan bahasaku dan Ian dengan bahasa dan pikirannya sendiri tanpa ada yang terlontar dari mulutnya.
Karena kesal, akhirnya aku berenang di tepian danau Toba seusai dari pulau Samosir. Agar aku bisa melumpuhkan segala gulana yang memaksaku untuk puasa dari makan dan minum. Begitulah aku kalau sedang dilanda cinta, aku takkan bisa makan dan minum bila tidak bersama yang kucintai. Aku menyemplungkan diri ke air dengan pakaian dress yang baru kubeli dari pulau Samosir.
Apapun penilaian Ian tentang aku, masa bodoh. Biarkan Ian melihat kekuranganku. Biarkan aku berlaku dengan kegilaanku. Aku hanya ingin merasakan sejuknya air Toba dan menepikan rasa yang membomrbardir sukma.
Ternyata Tak Sama
“Minimal kamu hargai aku yang berada di sampingmu,” aku sampai memohon demi melihat tingkah Ian yang terus saja baca koran di detik-detik kepulanganku ke Bandung. Ian berhenti sebentar, lalu menatapku sekilas. Ia meneruskan baca koran lagi. Mataku berair seketika, tak kuasa kubendung lagi menyaksikan lakunya yang sangat jauh berbeda diketika pertama kumengenalnya.
“Kok nangis?” aku senang ditanya, minimal ia ada perhatian.
“Aku sedih kenapa kita harus berpisah dengan cara yang seperti ini. Dengan cara yang menurutku tidak damai.”
Dia tak merespon, tak pula melihat air mataku, apalagi membasuhnya.
“Kamu jadian saja dengan Umar. Dia kan yang lebih sayang sama kamu. Aku tidak bisa berpacaran dengan jarak.” Umar adalah salah satu peserta dari LPM Dinamika-Medan, dialah yang menembakku, dan mencoba mengungkapkan kejujuran pada Ian.
Sreseseeet… serasa ada yang merobek-robek jantungku, menusuk-nusuk persendianku, meruntuhkan kubu kekuatanku. Aku benci dengan jarak, karena ia yang membuat alasan tidak bersatunya sebuah cinta yang lahir dari ketulusan, meski hanya tumbuh seminggu. Tetapi…
“Lagi pula aku sudah berjanji pada seorang gadis di kampungku.”
Deg… aku lemas seketika. Kalimat terakhirnya itulah yang membuatku ingin cepat berlalu dari Medan, ingin cepat terbang ke Bandung. Nyeri, menyeruak batin. Pesawat, bawalah lukaku ini kepada bintang, sehingga ia akan sirna oleh kerlipnya.
Tatapan Terakhir di Bandara Pollonia
Mengapa waktu yang sempit seakan tidak adil buatku?
Umar meluncurkan sebuah sms, hatiku nyeri tiada terkira. Ian tak balas cintaku, sedangkan Umar menggantungkan harapnya padaku.
Kalau kamu beneran sayang aku, temui aku di bandara walaupun mungkin hanya beberapa menit saja…
Ujian sekaligus keputusasaan aku akan sikap Ian saat aku membalas sms Umar. Aku pikir dia hanya bermain-main, ternyata dia memang benar-benar datang ke Bandara. Aku bingung harus melakukan apa, Ian diam saja, Umar pun demikian, yang lainnya juga seolah hanya menjadi penonton.
“Teteh hayu masuk, pesawatnya udah bentar lagi.”
Ute membangunkan kebingunanku, lalu aku bersalaman dengan semuanya. Lama aku menatap wajah Umar, memastikan dia baik-baik saja di detik-detik kepergianku. Dan aku tak berani menatap mata Ian. Lelehan air mata mengiringi terbangku ke angkasa. Ingin melupakan semua yang tlah terjadi seminggu lalu, dan merajut cinta baru bersama Umar.
Meski dengan lelehan air mata, tak kusesali perjumpaan singkatku dengan Ian. Bagaimanapun juga aku bersyukur, Tuhan menciptakan cinta di manapun kita berada. Mungkin ini salah satu cara Tuhan menunjukan supaya aku harus bersabar ketika aku jatuh cinta. Semoga untuk ke depannya, aku bisa lebih menahan diri dan bersikap wajar ketika cinta menderaku lagi. Kini, kukembalikan rasa cintaku kepada Sang Pemilik Rasa.
Putus dan Diremove
Bercinta dengan jarak tak membuat kisah cinta aku dan Umar bertahan lama. Dua bulan saja kami merajut cerita cinta hanya dengan lewat sms, facebook dan teleponan. Suatu hari, Umar memutuskan untuk memilih hidup sendiri. Aku tak yakin dengan keputusannya, sebab kami tak pernah ada masalah. Apalagi Umar selalu menyanjungku dengan segala pujian. Semua julukan yang indah-indah dia berikan padaku, maka dengan bijak kutetapkan lagi hatinya.
“Aku tak ragu akan kisah kita. Cobalah untuk berpikir ulang, penyesalan datangnya selalu di akhir perbuatan.” Begitulah aku meyakinkannya. Walau aku tak bersamanya, kurasakan hatinya sedang rapuh, seperti ada masalah mendera batinnya.
Semenjak kumemutus menerima cintanya, sudah kutekadkan dalam hati untuk berusaha mencintainya dengan segenap ketulusan yang kupunya. Meski berawal dari keputusasaan, namun bukan berarti aku harus menyia-nyiakan orang yang menyayangiku. Aku tak ingin memnyakiti kaum lelaki lagi, sudah capek dengan permainan ini. Akan kubalas dengan sepenuh cinta jika seseorang itu datang tulus padaku.
Umar sempat luluh dengan keputusannya, ia mencoba untuk merajut kisah itu lagi. Namun beberapa minggu kemudian, dia mengatakan hal yang sama. Kali ini sepertinya benar-benar mantap. Akupun tak sanggup mencegahnya, biarlah dia terbang dengan keputusannya. Aku memang tak pernah berniat memutuskan cinta lagi, setelah karma demi karma kulewati.
Kosong. Untuk kesekian kali hatiku merasa kosong. Tak ada sms yang menyuruhku untuk makan, mandi atau sekedar mengatakan lagi ngapain? Huh… sendiri terasa berat kulewati. Ingatanku kembali terlempar pada peristiwa 23-28 November 2010, padahal sekarang sudah 2011. Ada rasa kangen yang memaksa aku membuka facebook Ian, saat kubuka, ops… ternyata aku tak berteman lagi. Ian sudah meremove pertemananku. Jika harus hiperbola, mendidih-didih darahku saat itu, menyadari sekedar menjadi teman dunia mayapun dia enggan.
Bertubi-tubi pertanyaan menyerang hatiku, seburuk itukah aku di matanya? Sedangkan Umar selalu memujaku dengan ucapan aku gadis perfect (semua yang dia inginkan ada padaku). Tapi mengapa Ian malah mengapus pertemanan ini? Yang berarti menghapus semua kenangan yang pernah dilewati bersama, menghapus tali silaturrahmi. Padahal aku tak pernah beraharap padanya, hanya ingin menjadi temannya saja selayaknya sesama manusia yang membutuhkan hadirnya seorang teman. Akh, aku benar-benar tak tak bisa membaca jalan pikiran Ian. Mengapa dia sekejam itu padaku?
Sudah dua kali pertemananku di remove olehnya, aku memutuskan untuk tak memintanya lagi menjadi temannya. Mungkin ada baiknya kalau aku menguburkan semua kenangan bersamanya, toh dia tak menginginkan kehadiranku. Yang jelas, aku tak pernah menganggapnya sebagai musuh. Harapku, semoga waktu bisa melunakan keras hatinya. Aku akan senang hati menyambutnya, jika dia datang suatu hari nanti. Karena aku tak pernah membencinya, hanya sedikit kesal dengan keegosiannya.
..................................................................................................................
Dear: Kamu
Aku Masih Dengan Hati Yang Sama
Apa kabar cahayaku? Aku menyapamu lewat goresan pena buruk. Walau mungkin tak kau dengar, tapi semoga ada sinyal yang menghantarkan salam rinduku padamu.
Ketika tinta emasku berhamburan merangkai kata tentangmu, remuk yang melanda kisi-kisi hatiku masih belum teredam. Tentang perjumpaan kita yang singkat itu namun menyisakan kenangan bertuah. Seakan baru kemarin terjadi, padahal sudah lapuk dimakan usia. Namun hatiku masih sama. Masih seperti yang tak kau inginkan.
Di sini, dalam lembaran-lembaran putih ini, kutuangkan kembali hati yang masih sama itu. Bahwasanya hanya namamu yang mendarah daging di organ tubuhku. Senyum nan pernah terukir dari bibir tipismu yang merah itu, akh… serasa ada magnet yang memaksaku untuk terus menguntitmu. Setiap saat, ingin selalu mendengar kabar tentangmu. Dengan cepatnya mata indahmu menjalar ke bagian-bagian yang sebelumnya tak pernah kusentuh. Petualangan pun kumulai, sekedar untuk mendapatkan lagi senyummu yang sempat hilang dari pandangan selama bertahun-tahun.
Biarlah hanya hati, Tuhan dan waktu yang tahu kronologis asal-muasal aku terjatuh dalam tatapan bening matamu. Sebab mereka hanya bisa tertawa dan termanggut-manggut, menyaksikanku tergelincir dalam air mataku sendiri. Ketika kau memlih cinta yang lain, seseorang yang sangat kukenal. Temanku. Tanpa sepengetahuanku.
Mungkin hanya hati, Tuhan dan waktu yang tahu sakitnya jiwa ini. Fenomena itu nyaris mematikanku yang teramat polos memiliki rasa itu. Seharusnya aku sadar, semestinya aku mengerti. Tapi cinta membutakan segalanya. Aku tetap mencintaimu sampai kini. Masih dengan hati yang sama, seperti enam tahun silam. Bagiku,
Kau adalah sebuah huruf, yang kuikat jadi kata
Kemudian kurangkai jadi satu kalimat
Lalu kutuliskan paragraf-paragraf cerita tentang kita
Maka terbentuklah sebuah wacana
Menjadi lembaran-lembaran buram
Sebentuk kisah cinta dan derita.
Mungkin hanya hati, Tuhan dan waktu yang tahu, kepergianku dari tempat kelahiran (Malingping-Banten) menuju ke Kota Kembang, hanya ingin mengusir kau dari otakku. Tapi di sini, di tempat pengaduan ini hanya namamu yang masih slalu kucari. Aku pun tak mengerti, mengapa aku masih menyelipkan satu lembar namamu di kotak rahasiaku? Padahal, jelas-jelas kau telah merobek-robek jantungku. Seharusnya aku merecah-recah wajahmu yang diam-diam bermain di belakangku, tapi tak kuasa kulakukan karena… senyummu selalu saja memaksaku untuk tertunduk pada cintamu.
Kau tlah lama hilang dari pandangan, bertahun-tahun aku tak melihat lagi rupamu. Namun seiring begesernya waktu, dunia maya mempertemukan kita lagi, di sebuah situs jejaring sosial facebook. Saat kutanya kabarmu, ternyata kau pun masih dengan laku dan hati yang sama. Tak menggubrisku, bahkan sekedar kata sapaan tak kudapat. Akh, aku menarik nafas dalam-dalam sambil berpikir, egokah engkau yang tak balas cintaku lagi, atau salahku yang terlalu dalam mencintamu?
Nomor handphone-mu yang kudapat dari temanmu, hanya mampu kusimpan dan kupandangi saja di phonebook-ku. Sungguh aku tak ada keberanian menekan angka-angka keramatmu. Tiap kali ingin menghubungimu, sesuatu menohok ulu hatiku. Entah apa namanya. Hingga hp-mu tak pernah mencantum namaku.
Betapa inginnya aku mendapat satu sms saja darimu, sekedar berikan kabar bahwa kamu baik-baik saja di ibukota sana. Rasanya, aku hanya dapat bermimpi. Hatimu keras bagai batu, tak dapat kujinakkan.
Tahukah kamu, salah satu dari ribuan impianku, adalah bertemu lagi denganmu dalam jarak yang nyata. Pintaku pada Tuhan dalam setiap doa di keheningan maupun keramaian, agar kau bisa menyadari apa yang aku cari ada padamu.
Tuhan, ampuni aku yang melebih-lebihkan kadar cinta yang Kau anugerahkan. Aku hanya tak mampu menepis rasa cinta yang tlah mendarah daging selama bertahun-tahun menyumsum di tulang-belulangku. Aku ingin menatapnya sekali lagi, sebelum hatiku benar-benar bisa melepaskannya untuk orang lain.
Ini puisi untukmu yang tak sempat kukirim, 10 Mei 2008
Minggu kelam itu
hujan telah meniup lilin ultahmu yang tlah kunyalakan
di hatiku. Sayang… di sini aku merayakannya sendiri.
Sambil mengingat cintaku waktu bersamamu.
Kau tak sekedar kenangan, tapi
Sepenggal cerita bersamamu adalah
Sejarah untuk kuabadikan selamanya.
“Happy Birth day to my light (10 Mei 1987).
Tiap tahun, ku tak pernah lupa tentang hari
Diketika pertama kau tersenyum menatap cinta.
Harapku dalam keraguan, kiranya Takdir mempertemukan kita lagi di tempat dan waktu yang indah. Sampai kini aku bisa bertahan tanpamu, karena aku hidup dengan harapan…. Dan sampai maut memisahkan raga, aku masih dengan hati yang sama, hati yang hanya tertuju padamu. (Dhee Shinzy Y.
***