Inilah buku Dhee Shinzy berikutnya yang akan meramaikan pasar buku
"Surat Terakhir"
Hmm...pokoknya dibuku ini penuh dengan cinta, cinta, dan cinta... mau tahu sinopsisnya...
Nieh, salah satu tulisan dalam buku ini
Aku Masih Dengan Hati Yang Sama
oleh Dhee Shinzy
Ketika tinta emasku berhamburan merangkai kata tentangmu, remuk yang melanda kisi-kisi hatiku masih belum teredam. Tentang perjumpaan kita yang singkat itu namun menyisakan kenangan bertuah. Seakan baru kemarin terjadi, padahal sudah lapuk dimakan usia. Namun hatiku masih sama. Masih seperti yang tak kau inginkan.
Di sini, dalam lembaran-lembaran putih ini, kutuangkan kembali hati yang masih sama itu. Bahwasanya hanya namamu yang mendarah daging di organ tubuhku. Senyum nan pernah terukir dari bibir tipismu yang merah itu, akh… serasa ada magnet yang memaksaku untuk terus menguntitmu. Setiap saat, ingin selalu mendengar kabar tentangmu. Dengan cepatnya mata indahmu menjalar ke bagian-bagian yang sebelumnya tak pernah kusentuh. Petualangan pun kumulai, sekedar untuk mendapatkan lagi senyummu yang sempat hilang dari pandangan selama bertahun-tahun.
Biarlah hanya hati, Tuhan dan waktu yang tahu kronologis asal-muasal aku terjatuh dalam tatapan bening matamu. Sebab mereka hanya bisa tertawa dan termanggut-manggut, menyaksikanku tergelincir dalam air mataku sendiri..... (read more)
Mungkin hanya hati, Tuhan dan waktu yang tahu sakitnya jiwa ini. Fenomena itu nyaris mematikanku yang teramat polos memiliki rasa itu. Seharusnya aku sadar, semestinya aku mengerti. Tapi cinta membutakan segalanya. Aku tetap mencintaimu sampai kini. Masih dengan hati yang sama, seperti enam tahun silam. Bagiku,
Kau adalah sebuah huruf, yang kuikat jadi kata
Kemudian kurangkai jadi satu kalimat
Lalu kutuliskan paragraf-paragraf cerita tentang kita
Maka terbentuklah sebuah wacana
Menjadi lembaran-lembaran buram
Sebentuk kisah cinta dan derita.
Mungkin hanya hati, Tuhan dan waktu yang tahu, kepergianku dari tempat kelahiran (Malingping-Banten) menuju ke Kota Kembang, hanya ingin mengusir kau dari otakku. Tapi di sini, di tempat pengaduan ini hanya namamu yang masih slalu kucari. Aku pun tak mengerti, mengapa aku masih menyelipkan satu lembar namamu di kotak rahasiaku? Padahal, jelas-jelas kau telah merobek-robek jantungku. Seharusnya aku merecah-recah wajahmu yang diam-diam bermain di belakangku, tapi tak kuasa kulakukan karena… senyummu selalu saja memaksaku untuk tertunduk pada cintamu...
Tahukah kamu, salah satu dari ribuan impianku, adalah bertemu lagi denganmu dalam jarak yang nyata. Pintaku pada Tuhan dalam setiap doa di keheningan maupun keramaian, agar kau bisa menyadari apa yang aku cari ada padamu.
Tuhan, ampuni aku yang melebih-lebihkan kadar cinta yang Kau anugerahkan. Aku hanya tak mampu menepis rasa cinta yang tlah mendarah daging selama bertahun-tahun menyumsum di tulang-belulangku. Aku ingin menatapnya sekali lagi, sebelum hatiku benar-benar bisa melepaskannya untuk orang lain.
Ini puisi untukmu yang tak sempat kukirim, 10 Mei 2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar