Orang-orang dulu mengenalku sebagai seorang
penulis, aku pun bisa mengajar di salah satu Universitas di Malingping berkat
karya-karyaku yang telah diterbitkan di beberapa penerbit. Namun belakangan,
tepatnya setahun setelah lulus kuliah, karena kesibukan dunia kerja,
perlahan-lahan keinginan untuk menulis
nyaris terkikis. Dan seakan, ide pun berlarian dari benakku, seolah tak
ingin lagi singgah di kepalaku. Padahal yang membesarkan namaku adalah menulis.
Kemandegan menulisku adalah karena novelku yang kedua, serial 'Zhy, Biarkan Aku
Menjadi Puisimu jilid 2' tak kunjung terbit hingga sekarang. Menandatangani
kontrak sejak awal tahun 2013, dan sampai akhir tahun 2016 novelku masih juga
belum terbit. Ya salaammm… inilah yang membuatku malas untuk menulis. Selama
menanti novel Zhy terbit, selama itu pula aku tak menulis. Entahlah, energi
menulisku sirna sudah oleh ketidakpastian. Yah bagiku yang tak lagi seidealisme
ketika menjadi mahasiswa Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di Univ. Pasundan
Bandung, penghasilan dari menulis tidak pasti. Bisa mendapatkan uang kalau
tulisan kita dimuat di majalah atau diterima penerbit. Sedangkan mood menulis
berubah-ubah dan aku tak lagi mengikuti perkembangan dunia kepenulisan.
Ditambah dengan kesibukan mengurus anak, lengkaplah sudah alasanku untuk off
dari menulis. Aku yang realistis menjalani hidup, mulai berpikir kreatif untuk
bisa mempertahankan hidup agar membantu perekonomian keluarga. Ya menjahit,
kurasa menjahit adalah solusi tepat bagi seorang ibu rumah tangga untuk
menambah penghasilan keluarga.
Selama kurun waktu 27 tahun usiaku, tak
pernah sedikitpun terlintas dalam benakku untuk menjadi seorang penjahit.
Tetapi entah kenapa di usiaku yang mau ke-28 tahun, aku mulai berpikir untuk
bisa menjahit bajuku sendiri. Aku berangan, aku bisa membuat bajuku, baju untuk
anak dan suamiku, juga untuk seluruh keluargaku. Yaa, keinginan itu bermula
ketika suatu hari aku pernah menitipkan jahitan motong gaun dan mau motong
celana ke penjahit, namun hingga mau dua bulan, jahitanku belum juga dikerjain.
Aku merasa dongkol, kesal, lalu tiba-tiba perasaan ingin bisa menjahit muncul
begitu saja di benakku. Semakin hari keinginan itu semakin menggebu, aku pun
mulai menyisir kota kecil Malingping untuk menanyakan harga mesin jahit. Dan
bertepatan dengan moment tabungan di sekolah dibagikan, aku pun membeli mesin
jahit. Yah begitulah aku, kalau sudah berambisi untuk memiliki sesuatu harus
terlaksana secepatnya. Kalau tidak, maka akan terus-terusan mengganggu
pikiranku. Yups, mesin jahit antik pun tiba di rumah. Sengaja aku membeli mesin
jahit jadul saja, yang bisa digojreg pake kaki. Selain di kota kecil Malingping
yang segalanya terbatas ini, memang mesin jahit yang dijual hanya tipe ini.
Merknya “Butterfly”.
Saat mesin jahit kaki ini telah berdiri
manis di rumah, akupun hanya bisa memandanginya dengan perasaan menyesal.
Menyesal karena ternyata si mamah yang telah berjanji untuk mengajari aku
menjahit malah memarahi mesin jahit yang kubeli. Katanya mesin jahit yang
kubeli rusak, dan berbagai perkataan yang membuat perasaanku sedikit tertohok.
Setiap kali digunakan, ada saja yang menjadi masalah, sekocinya yang jatuhan
terus, dan injakan kaki sering copot tiba-tiba. Aku pun putus asa untuk bisa
menjahit, karena mamah yang tak mau lagi berurusan dengan mesin jahit yang
kubeli ini.
Di tengah keputusasaan ini, saat perjalanan
ke kampus, aku bertemu dengan seseorang yang sudah lama sekali tidak berjumpa.
Adalah teman ketika masih kuliah di Bandung. Tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung
menanyakan tempat kursus menjahit padanya, kali aja dia mengetahui. Benar saja, ia menjelaskan perihal profil
seorang penjahit di Pagelaran. Sebegitu tertariknya aku pada ilmu menjahit,
esoknya aku langsung meluncur ke Pagelaran. Saat itu Andi tak dapat menemuiku,
dia bilang lagi di sawah. Aku datang ke rumah penjahit yang dimaksud, dipandu
Andi melalui telepon seluler. Sesampainya di rumah sang penjahit dan
mengutarakan isi hati, dia menolak mengajarkanku menjahit. Kamu tahu kan
bagaimana rasanya ditolak? Sakiiittt bangett, eitss… tapi untung tidak
berkepanjangan. Dia memberikanku petunjuk di mana aku harus kursus. Aku diantar
oleh isterinya ke rumah seorang penjahit yang kini menjadi guruku.
Aku diterima menjadi muridnya dengan mahar
10 gram emas murni. Wooww… angka yang fantastis yaa. Tapi sebanding lah dengan
ilmu yang kudapatkan. Aku belajar menjahit benar-benar dari nol. Dari yang
tadinya sama sekali tidak bisa menjalankan mesin sampai sekarang kaki dan
tanganku lincah menjalankannya. Dan ternyata, mesin jahit yang tadinya dianggap
rusak sama si mamah, bukanlah rusak, melainkan belum distel sama ahlinya. Ma
Neneng (guru menjahitku) memberikanku informasi tentang seseorang yang bisa
service mesin jahit. Lewat tangan kak Dodi, yang rumahnya di belakang
kontrakanku, mesin jahit yang kubeli seharga Rp. 1.700.000,- bisa berjalan
sesuai dengan perintahku. Hehee… kata Mak Neneng, mesin jahit itu harus
diakrabi, niscaya ia akan nurut sama kehendak kita.
Mula-mula aku belajar menjalankan mesin,
kemudian aku yang tak pandai menggambar harus bin wajib bisa menggambar pola,
menggunting bahan dan menjahit bahan yang sudah dipotong sesuai pola.
Alhamdulilah, dalam beberapa minggu saja, aku bisa membuat baju. Baju pertama
gamis. Haha… senangnya memakai gamis buatan sendiri, langsung ku apload ke
situs jejaring sosial seperti fesbuk dan BBM hasil karyaku. Tak kusangka,
teman-teman mayaku mengaprsesiasi karya yang kubuat. Ada beberapa teman yang
minta dibuatkan baju. Klien pertama teh Elis dari Bandung. Saat baju dikirim ke
Bandung, hati deg-degan dengan reaksinya. Wow… teh Elis sangat menyukai
gamisnya, dia memuji dan mengatakan bahwa aku sangat berbakat di bidang
fashion. Hidungku serasa terbang ke angkasa. Hehee…
Dalam hal ini aku belum mahir menjahit,
tetapi sudah berani menerima pesanan.
Itu tak lain adalah aku tak punya cukup modal untuk membeli kain-kain untuk
membuat bajuku sendiri. Ya dengan cara menyebarkan hasil karya di situs
jejaring sosial, beberapa teman minta dibuatkan baju, ada yang kainnya dari aku
sendiri, ada juga yang dari mereka. Mereka memberikanku ongkos jahit yang
murah, yang mana ongkos jahit itu aku pakai buat ongkos ke Pagelaran, ke rumah
guru jahitku. Tiap-tiap mengerjakan
pesanan, aku meluncur ke sana, sebab belum berani mengerjakan baju orang
sendiri. Aku masih perlu bimbingan, mengingat permintaan konsumen yang beraneka
ragam. Ma Neneng berdecak kagum dengan ideku, katanya, aku kreatif menjadikan
bahan orang untuk dijadikan praktik. Aku hanya tersenyum geli.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai berani
mengerjakan baju sendiri tanpa dibimbing guru. Aku membuatkan baju buat mamah,
adik dan membuat taplak kulkas dari sisa-sisa kain bekas jahitan. Akh, ide
kreatif itu bermunculan begitu saja. Aku mulai menikmati profesiku. Biarlah
orang memandangku sebelah mata, karena aku yang lulusan S-1 ini hanya menjadi
seorang ibu rumah tangga dan penjahit. Maklum, sudah beberapa sekolah yang
kudatangi memohon untuk bisa mengajar, ya itulah, sampai sekarang aku belum
dapat rezeki untuk berkecimpung di dunia sekolah. Padahal betapa besar
keinginanku menjadi seorang guru, seperti harapan mamah dan bapak. Sekarang aku
hanya menjalani takdir, kujalani seperti air mengalir takdir yang menimpaku.
Mungkin Allah punya rencana lain untukku. Dan aku harus tetap punya kreativitas,
yaitu lewat profesi baruku: penjahit!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar