Selasa, 11 Oktober 2016

Dari Penulis Menjadi Penjahit

Orang-orang dulu mengenalku sebagai seorang penulis, aku pun bisa mengajar di salah satu Universitas di Malingping berkat karya-karyaku yang telah diterbitkan di beberapa penerbit. Namun belakangan, tepatnya setahun setelah lulus kuliah, karena kesibukan dunia kerja, perlahan-lahan keinginan untuk menulis  nyaris terkikis. Dan seakan, ide pun berlarian dari benakku, seolah tak ingin lagi singgah di kepalaku. Padahal yang membesarkan namaku adalah menulis. Kemandegan menulisku adalah karena novelku yang kedua, serial 'Zhy, Biarkan Aku Menjadi Puisimu jilid 2' tak kunjung terbit hingga sekarang. Menandatangani kontrak sejak awal tahun 2013, dan sampai akhir tahun 2016 novelku masih juga belum terbit. Ya salaammm… inilah yang membuatku malas untuk menulis. Selama menanti novel Zhy terbit, selama itu pula aku tak menulis. Entahlah, energi menulisku sirna sudah oleh ketidakpastian. Yah bagiku yang tak lagi seidealisme ketika menjadi mahasiswa Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di Univ. Pasundan Bandung, penghasilan dari menulis tidak pasti. Bisa mendapatkan uang kalau tulisan kita dimuat di majalah atau diterima penerbit. Sedangkan mood menulis berubah-ubah dan aku tak lagi mengikuti perkembangan dunia kepenulisan. Ditambah dengan kesibukan mengurus anak, lengkaplah sudah alasanku untuk off dari menulis. Aku yang realistis menjalani hidup, mulai berpikir kreatif untuk bisa mempertahankan hidup agar membantu perekonomian keluarga. Ya menjahit, kurasa menjahit adalah solusi tepat bagi seorang ibu rumah tangga untuk menambah penghasilan keluarga.

Selama kurun waktu 27 tahun usiaku, tak pernah sedikitpun terlintas dalam benakku untuk menjadi seorang penjahit. Tetapi entah kenapa di usiaku yang mau ke-28 tahun, aku mulai berpikir untuk bisa menjahit bajuku sendiri. Aku berangan, aku bisa membuat bajuku, baju untuk anak dan suamiku, juga untuk seluruh keluargaku. Yaa, keinginan itu bermula ketika suatu hari aku pernah menitipkan jahitan motong gaun dan mau motong celana ke penjahit, namun hingga mau dua bulan, jahitanku belum juga dikerjain. Aku merasa dongkol, kesal, lalu tiba-tiba perasaan ingin bisa menjahit muncul begitu saja di benakku. Semakin hari keinginan itu semakin menggebu, aku pun mulai menyisir kota kecil Malingping untuk menanyakan harga mesin jahit. Dan bertepatan dengan moment tabungan di sekolah dibagikan, aku pun membeli mesin jahit. Yah begitulah aku, kalau sudah berambisi untuk memiliki sesuatu harus terlaksana secepatnya. Kalau tidak, maka akan terus-terusan mengganggu pikiranku. Yups, mesin jahit antik pun tiba di rumah. Sengaja aku membeli mesin jahit jadul saja, yang bisa digojreg pake kaki. Selain di kota kecil Malingping yang segalanya terbatas ini, memang mesin jahit yang dijual hanya tipe ini. Merknya “Butterfly”.

Saat mesin jahit kaki ini telah berdiri manis di rumah, akupun hanya bisa memandanginya dengan perasaan menyesal. Menyesal karena ternyata si mamah yang telah berjanji untuk mengajari aku menjahit malah memarahi mesin jahit yang kubeli. Katanya mesin jahit yang kubeli rusak, dan berbagai perkataan yang membuat perasaanku sedikit tertohok. Setiap kali digunakan, ada saja yang menjadi masalah, sekocinya yang jatuhan terus, dan injakan kaki sering copot tiba-tiba. Aku pun putus asa untuk bisa menjahit, karena mamah yang tak mau lagi berurusan dengan mesin jahit yang kubeli ini.

Di tengah keputusasaan ini, saat perjalanan ke kampus, aku bertemu dengan seseorang yang sudah lama sekali tidak berjumpa. Adalah teman ketika masih kuliah di Bandung. Tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung menanyakan tempat kursus menjahit padanya, kali aja dia mengetahui.  Benar saja, ia menjelaskan perihal profil seorang penjahit di Pagelaran. Sebegitu tertariknya aku pada ilmu menjahit, esoknya aku langsung meluncur ke Pagelaran. Saat itu Andi tak dapat menemuiku, dia bilang lagi di sawah. Aku datang ke rumah penjahit yang dimaksud, dipandu Andi melalui telepon seluler. Sesampainya di rumah sang penjahit dan mengutarakan isi hati, dia menolak mengajarkanku menjahit. Kamu tahu kan bagaimana rasanya ditolak? Sakiiittt bangett, eitss… tapi untung tidak berkepanjangan. Dia memberikanku petunjuk di mana aku harus kursus. Aku diantar oleh isterinya ke rumah seorang penjahit yang kini menjadi guruku.

Aku diterima menjadi muridnya dengan mahar 10 gram emas murni. Wooww… angka yang fantastis yaa. Tapi sebanding lah dengan ilmu yang kudapatkan. Aku belajar menjahit benar-benar dari nol. Dari yang tadinya sama sekali tidak bisa menjalankan mesin sampai sekarang kaki dan tanganku lincah menjalankannya. Dan ternyata, mesin jahit yang tadinya dianggap rusak sama si mamah, bukanlah rusak, melainkan belum distel sama ahlinya. Ma Neneng (guru menjahitku) memberikanku informasi tentang seseorang yang bisa service mesin jahit. Lewat tangan kak Dodi, yang rumahnya di belakang kontrakanku, mesin jahit yang kubeli seharga Rp. 1.700.000,- bisa berjalan sesuai dengan perintahku. Hehee… kata Mak Neneng, mesin jahit itu harus diakrabi, niscaya ia akan nurut sama kehendak kita.

Mula-mula aku belajar menjalankan mesin, kemudian aku yang tak pandai menggambar harus bin wajib bisa menggambar pola, menggunting bahan dan menjahit bahan yang sudah dipotong sesuai pola. Alhamdulilah, dalam beberapa minggu saja, aku bisa membuat baju. Baju pertama gamis. Haha… senangnya memakai gamis buatan sendiri, langsung ku apload ke situs jejaring sosial seperti fesbuk dan BBM hasil karyaku. Tak kusangka, teman-teman mayaku mengaprsesiasi karya yang kubuat. Ada beberapa teman yang minta dibuatkan baju. Klien pertama teh Elis dari Bandung. Saat baju dikirim ke Bandung, hati deg-degan dengan reaksinya. Wow… teh Elis sangat menyukai gamisnya, dia memuji dan mengatakan bahwa aku sangat berbakat di bidang fashion. Hidungku serasa terbang ke angkasa. Hehee…

Dalam hal ini aku belum mahir menjahit, tetapi  sudah berani menerima pesanan. Itu tak lain adalah aku tak punya cukup modal untuk membeli kain-kain untuk membuat bajuku sendiri. Ya dengan cara menyebarkan hasil karya di situs jejaring sosial, beberapa teman minta dibuatkan baju, ada yang kainnya dari aku sendiri, ada juga yang dari mereka. Mereka memberikanku ongkos jahit yang murah, yang mana ongkos jahit itu aku pakai buat ongkos ke Pagelaran, ke rumah guru jahitku. Tiap-tiap  mengerjakan pesanan, aku meluncur ke sana, sebab belum berani mengerjakan baju orang sendiri. Aku masih perlu bimbingan, mengingat permintaan konsumen yang beraneka ragam. Ma Neneng berdecak kagum dengan ideku, katanya, aku kreatif menjadikan bahan orang untuk dijadikan praktik. Aku hanya tersenyum geli.


Seiring berjalannya waktu, aku mulai berani mengerjakan baju sendiri tanpa dibimbing guru. Aku membuatkan baju buat mamah, adik dan membuat taplak kulkas dari sisa-sisa kain bekas jahitan. Akh, ide kreatif itu bermunculan begitu saja. Aku mulai menikmati profesiku. Biarlah orang memandangku sebelah mata, karena aku yang lulusan S-1 ini hanya menjadi seorang ibu rumah tangga dan penjahit. Maklum, sudah beberapa sekolah yang kudatangi memohon untuk bisa mengajar, ya itulah, sampai sekarang aku belum dapat rezeki untuk berkecimpung di dunia sekolah. Padahal betapa besar keinginanku menjadi seorang guru, seperti harapan mamah dan bapak. Sekarang aku hanya menjalani takdir, kujalani seperti air mengalir takdir yang menimpaku. Mungkin Allah punya rencana lain untukku. Dan aku harus tetap punya kreativitas, yaitu lewat profesi baruku: penjahit!!!

Tidak ada komentar: