Selasa, 29 Maret 2011

MISTERI UN



Hmmm… ini kisah sudah 3 tahun silam, tepatnya tahun 2007. Kutemukan catatan kisah ini di sebuah diary yang kuberi nama “Detik-Detik Bersama Kisahku”.  Semenjak kelas 1 Madrasah Tsanawiyah (MTs) aku bisa dibilang rajin menulis semua kisah dalam diary, sehingga tak ada kejadian yang terlewatkan begitu saja tanpa sejarah tertulis. Itulah mengapa sekarang aku senang menulis.
Dag… dig…dug… dag… dig… dug…
Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, saat kusaksikan sebuah pengumuman hasil Try Out di Mading sekolah. Lemas. Aku hanya mampu menghela nafas berat. Yang kuharapkan tidak sesuai kenyataan. Di papan pengumuman itu, namaku TIDAK LULUS. Ini baru percobaan, tapi hatiku seperti kehilangan arah. Darahku berdesir hebat. Bagaimana nanti kalau Ujian Nasional (UN) tidak lulus? Masa depanku, hanya dipertaruhkan dalam waktu tiga hari, setelah tiga tahun lamanya aku berdarah-darah mengejar pendidikan. Aku tidak bisa membayangkan, seandainya aku tidak lulus UN. Kiamat deh hidupku…
“Sudahlah Dhe, jangan sedih. Ini kan baru Try Out, belum final. Jadi, masih ada kesempatan buat kita untuk belajar lebih ekstra,” Vera, teman sebangku, yang juga mengalami nasib sama denganku berusaha menghibur.
Aku melempar senyum ragu padanya, dan dia mengangguk seraya menatap mataku. Tatapannya seakan menguatkanku. Aku dan Vera selalu mengalami nasib serupa, tidak lulus ikut Penelusuran Minat dan Kemampuan atau yang lebih singkat disebut PMDK di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Dalam hati aku berdoa, semoga saat UN aku dan Vera masih memiliki nasib yang sama, yaitu LULUS
***
Dan mungkin bila nanti, kita akan bertemu lagi.
Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali, rasa yang  kucinta mati,
seperti hari kemarin saat semua di sini
Dering nada Short Message Service alias SMS menyedot perhatianku saat tengah serius menghitung fungsi trogonometri, aljabar dan persamaan linear. Pelajaran Matematika selalu menjadi momok yang paling menyebalkan bagiku. Buktinya sudah tiga jam aku berkutat di kamar mengerjakan soal-soal Matematika, tapi sampai  rumus-rumusnya kuhancur-hancurkan, jawabannya tidak ada yang sesuai dengan pilihan ganda di lembar soal bekas UN kemarin (2006). Entah akunya  yang bolot atau soalnya yang salah atau juga si pembuat soal itu yang bego. Akh, penyesalan menghampiriku tiba-tiba. Kenapa juga aku harus masuk ke jurusan IPA yang jelas-jelas kubenci pelajaran eksaknya?
1a, 2d, 3c, 4d, 5a, 6a, 7d, 8c, 9a, 10c, 15b, 18d, 24a, 26a
Sender: 0813XXXX
Aku tertegun membaca pesan di hpku barusan. Apakah benar ini kunci jawaban soal matematika buat UN besok? Tanyaku dalam hati. Tiba-tiba pikiranku melayang kepada wangsit dari salah seorang guru saat terakhir bimbingan belajar di sekolah.
“Tidak usah banyak nanya yah kalau ada sms.”
Mungkinkah ini??? Aha, seperti ada bola lampu menyala dengan terangnya di fikiran nakalku.  Sudah dapat kunci  jawaban, aku tak perlu belajar lagi. Membuat pusing otak tumpul saja! Tanpa berpikir panjang, aku langsung mencatat isi pesan itu dalam secarik kertas. Lumayan, walaupun cuma 15 soal. Setidaknya akan meringankan penderitaanku besok.
***
Tersaruk-saruk aku menyeret kaki menuju sekolah, ratusan siswa berseragam putih-abu sudah berkumpul di halaman sekolah yang juga berfungsi sebagai lapangan basket untuk menerima beberapa ultimatum dari kepala sekolah dan guru.
“Hei Dhee, itu kenapa rokmu banyak noda hitam?” komentar Indri saat aku menyelinap ke barisan upacara. Indri menunjukkan noda hitam itu, aku sendiri terkaget-kaget dibuatnya.
“Waduh, apa ini? Kok kesayanganku jadi hitam begini?” aku panik demi melihat ujung-ujung rok abu-abuku penuh noda-noda hitam.
“Hmm… kena oli yah? Di cucinya nanti pakai minyak tanah saja, biar hilang..” yang lain memberi saran.
“Pakai minyak tanah? Memang bisa?” aku tak yakin. Huh.. ini adalah kesialanku di hari pertama akan menghadapi UN. Betapa sebalnya…!! Ya sudahlah, ini mungkin harus terjadi padaku. Rok abu-abuku kena oli saat menaiki motor.
Di tengah-tengah upacara, beberapa teman berbisik di telingaku.
“Dapat SMS tidak?”
Aku mengangguk, lalu kami mengakur-akurkan kunci jawaban itu. Dan melangkahlah kami ke ruangan yang telah ditentukan.
Jantungku deg-degan tidak karuan, saat mencari nomor bangku. Akh, di sinilah kumulai pertarungan ini. Masa depanku ada dalam butir-butir di lembaran penuh misteri ini. Yah, UN memang penuh misteri. Bagiku UN sangat menyeramkan. Kata orang lulus itu sebuah keberuntungan, berita-berita tahun lalu membeberkan sederet kisah,  tak sedikit orang yang dianggap pintar tapi tidak lulus UN.
Hiii… aku bergidik dengan ketakutanku, 3 orang pengawas asing tak berhenti-berhentinya berkeliling. Membuat keringatku mengucur deras di pelipis saat memelototi lembar soal penuh misteri itu. Sial, aku benar-benar terjebak dalam kawah persoalan. Kulirik beberapa teman di bangku depan, mereka nampak asyik-asyik aja.
Tas, hape, buku, kalkulator dikumpulkan ke depan.       Aku hanya mampu menatap barang-barangku yang tergeletak pasrah di lantai di samping pengawas utama.
“Hei kamu jangan celingak-celinguk saja…!” salah satu pengawas menggertak. Aku terkejut bukan kepalang, kulihat wajah sangar sang pengawas, seolah menunjukkan taringnya.
Kulirik ke arah suara bass itu, betapa plongnya hatiku, ternyata gertakan itu bukan ditujukan untukku. Melainkan untuk teman di belakangku. Huh… tapi bagaimana caranya aku bisa membuka catatan kecilku yang berisi kunci jawaban Matematika itu, sementara si pengawas berdiri tepat di sampingku? Aku hanya bisa garuk-garuk kepala sambil menunggu sang pengawas lengah.
Kulirik lagi ke samping, Surya mengacungkan jari telunjuknya ke belakangnya, tepatnya ke arah Heru. Hmm… aku senyum-senyum sendiri, mengerti isyarat itu, tadi sebelum masuk kelas, beberapa teman mengajari kode begitu. Lihai juga permainan mereka. Kulihat lagi ke depanku, ada Septa yang nampaknya sibuk menghitung kancing bajunya. Senyumku mengembang tipis, melihat gelagat Septa yang mencari peruntungan lewat kancing baju.
“Trik agar tidak dicurigai oleh pengawas yaitu jangan memperhatikan pengawas, harus pura-pura cuek saja”. Demikian kata-kata Indri, berdenging di telingaku beberapa saat sebelum bertempur dengan soal-soal keramat ini.
Aku paling alergi pelajaran matematika, paling bolot di kelas XII IPA-1, maka aku sangat membutuhkan secarik kertas yang berisi kunci jawaban itu. Aku percaya, sms itu bisa menyelamatkanku, karena hampir semua siswa mendapatkannya.
Dek-dekan sekali, saat kubuka pelan-pelan secarik kertas dari saku baju putihku, lalu kuselipkan di balik soal. Bukannya sok, suci, jujur ini pertama kali aku berbuat curang. Akh, ternyata phobia  terhadap UN meruntuhkan imanku untuk TIDAK MENYONTEK. Pepilipisku bermandikan keringat, ketika kubulati lembar jawaban itu.
“Dhe, habis ini kita main ke pantai yuk.” Ajak Dede Ika, temanku dari kelas XII IPS B.
“Besok kan masih ada UN, kamu tidak belajar?.”
“Haha… buat apa belajar?  Nanti malam juga pasti ada sms kok!”
“Aku heran,  katanya itu soal dokumen rahasia. Kok guru bisa tahu kunci jawabannya yah? Dari mana mereka dapat kunci jawabannya? Apa mungkin sebelum soal dibagikan ke siswa, guru terlebih dahulu mengerjakannya yah?”
“Akh, itu bukan urusan kita Dhe. Guru mah berpikirnya yang penting siswanya lulus semua. Soalnya nih, kalau satu siswa saja tidak lulus, maka akan mencemarkan nama baik sekolah.”
Akh, aku hanya menelan ludah sambil geleng-geleng kepala. Pendidikan di negeri ini memang kacau! UN telah mengajarkan orang yang mengerti akan pendidikan untuk berlaku bodoh. Bagaimana generasi muda akan pintar, kalau kecurangan itu sendiri dilakukan oleh guru-gurunya? Orang-orang yang memberikan pendidikan!


Tidak ada komentar: