“Mati
aku tanpa cintamu!” tegasku pada awan putih yang berarak di langit
biru. Benar, cinta ini telah ribuan hari mengendap di sukma. Mecintaimu
sendirian, bagaikan tersesat di padang ilalang yang tak kunjung
berujung, ke manapun aku berlari tak kutemui ujungnya. Yang kutemukan
hanya luka, yang kudapat hanya perih. Aku membutuhkanmu untuk berbagi
dan ingin menyelesaikan cinta yang selama ini kupendam.
“Forever just friend…” itulah jawabmu, saat kudengungkan kata yang menurutku teramat sakti untuk kupertuturkan.
Kueja kalimat itu satu persatu dengan dada berdebar-debar, sangat keras hingga melemas. Hingga jantung kehilangan detaknya, hingga darah kehilangan alirannya. Kalimat itu, berbunyi seperti lirik lagu, menghasilkan nada-nada pedih yang indah. mengalunkan denting nan memahat air mata. Betapa tiga kata itu, mencekik nafasku tiba-tiba. Setelah kumaknai, setelah kupahami. Kau tak inginkan putih cintaku.
Ya, Tuhan… inikah akhir dari segalanya? Akhir dari benih-benih cinta yang kutanam sejak lama, kusirami terus agar tak tumbuh layu, kuberi pupuk agar selalu subur. Tetapi dengan tiga kata itu kau tumbangkan cintaku dalam sekejap, kau robohkan kekuatanku hanya dalam hitungan detik. Kau buat kakikku tertusuk-tusuk ribuan ilalang, laksana titahmu mereka jalankan tugasnya. Namun, atas nama sebuah ketulusan, aku rela kakiku berdarah, tertusuk-tusuk ilalangmu, jika kamu yang menghendaki.
“Sampai menutup mata kita berteman, Tika!” Tegasmu lagi. Kau membunuh harapku. Di padang ilalang ini biar kusendiri, merangkai puisi pedih, tanpamu Leu.
Untuk berkomentar silahkan klik...
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150438628454257
“Forever just friend…” itulah jawabmu, saat kudengungkan kata yang menurutku teramat sakti untuk kupertuturkan.
Kueja kalimat itu satu persatu dengan dada berdebar-debar, sangat keras hingga melemas. Hingga jantung kehilangan detaknya, hingga darah kehilangan alirannya. Kalimat itu, berbunyi seperti lirik lagu, menghasilkan nada-nada pedih yang indah. mengalunkan denting nan memahat air mata. Betapa tiga kata itu, mencekik nafasku tiba-tiba. Setelah kumaknai, setelah kupahami. Kau tak inginkan putih cintaku.
Ya, Tuhan… inikah akhir dari segalanya? Akhir dari benih-benih cinta yang kutanam sejak lama, kusirami terus agar tak tumbuh layu, kuberi pupuk agar selalu subur. Tetapi dengan tiga kata itu kau tumbangkan cintaku dalam sekejap, kau robohkan kekuatanku hanya dalam hitungan detik. Kau buat kakikku tertusuk-tusuk ribuan ilalang, laksana titahmu mereka jalankan tugasnya. Namun, atas nama sebuah ketulusan, aku rela kakiku berdarah, tertusuk-tusuk ilalangmu, jika kamu yang menghendaki.
“Sampai menutup mata kita berteman, Tika!” Tegasmu lagi. Kau membunuh harapku. Di padang ilalang ini biar kusendiri, merangkai puisi pedih, tanpamu Leu.
Untuk berkomentar silahkan klik...
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150438628454257
Tidak ada komentar:
Posting Komentar