Judul: Sampai PenghabisanJenis: Fiksi-cerpen
Pengarang: Dhee Shinzy Y.
ISBN : 978-602-9160-02-4
Penerbit: Arias
Tahun Terbir : 2011
Harga:35.000 (belum Ongkir):~10rb (P. Jawa), 15rb (luar P.Jawa)
bisa dipesan ke inbox fb Hasfa Publisher/Penerbit Arias
atau via sms ke 081914032201 dengan format tulis nama/alamat/judul buku yg dipesan/jumlah atau ke inbox fb Dhee Shinzy Yunengsih (087822117772).
- Buku Kumpulan Cerpen Sampai Penghabisan ditulis oleh Dhee Shinzy Yunengsih atau Dede Yunengsih. Buku ini berisi 22 (dua puluh dua) judul cerpen, setiap judul memiliki sarat pesan moral untuk pembacanya. Cerita dalam cerpen ini mengambil setting kehidupan orang-orang kurang mampu, dan berisikan cerita-cerita remaja. Isinya adalah bagaimana perjuangan serta pengorbanan mereka untuk tetap mempertahankan hidupnya dan meraih cita-cita mereka. Gaya bahasa yang sederhana dan lugas banyak terdapat dalam buku kumpulan cerpen ini. Sehingga mudah dipahami oleh pembaca remaja. Point of view (sudut pandang penceritaan) banyak menggunakan orang ketiga, sehingga terkesan kurang mendeskripsikan suasana batin tokohnya. Penokohan yang ditunjukkan pada tokoh utama umumnya protogonis, cuma beberapa saja yang menunjukkan tokoh utama yang antagonis. Alur cerpen kebanyakan menggunakan alur maju (forward). Seandainya ada satu atau dua judul yang menggunakan alur zigzag, mungkin akan membuat pembacanya lebih penasaran untuk membacanya berulang-ulang. Cerpen yang paling saya sukai dalam buku kumpulan cerpen Sampai Penghabisan adalah Disaat Ultahnya, alasannya karena cerpen ini berisikan arti sebuah ketulusan dan makna untuk semua pengorbanan dalam bentuk yang sederhana. (Ummu Fatimah Ria Lestari, seorang Ibu Rumah Tangga dan pegawai di Balai Bahasa Provinsi Papua)
2. Cerpen Favorit dari Kumcer “Sampai Penghabisan” adalah - Di Saat Ultahnya – (Sebuah Cerita Tentang Perjuangan)
Review:
Nika, anak seorang pijit yang putus sekolah menjalin cinta dengan Apif, pelajar SMA yang lumayan tajir. Nika ingin memberi Apif kado ulang tahun berupa jaket seharga Rp 65.000. Maka ia pun mencoba mengumpulkan rupiah dengan menerima beberapa pekerjaan kasar dari tetangganya hingga ia pun bisa membeli jaket tersebut meski dengan cara dicicil. Meski tidak diundang, Nika tetap datang ke pesta ulang tahun Apif. Di luar dugaan, atas desakan teman-temannya, Apif yang tidak tahu bahwa Nika datang, malah mengumumkan bahwa Irma adalah pacarnya. Nika pulang dengan hati luka. Ia meletakkan kadonya dengan sepucuk surat di teras rumah Apif yang ditemukan Apif keesokan harinya. Apif menyesal telah menyakiti hati Nika. Tapi ia terlambat untuk meminta maaf, karena Nika sudah berangkat ke Jakarta untuk bekerja mengais rizqi.
Komentar
Tidak seperti remaja pada umumnya yang penuh hura-hura, Nika, anak seorang tukang pijit dan penjual pisang goreng, berkorban tidak melanjutkan sekolah supaya kedua adiknya bisa tetap bersekolah. Setiap hari Nika sibuk mengurus kedua adiknya juga membantu ibunya belanja ke pasar dan berjualan pisang goreng. Ketika Apif, kekasihnya yang kaya raya berulang tahun, ia berjuang lebih keras demi mendapatkan jaket yang harganya di luar jangkauannya. Sayang, hasil perjuangan dan perngorbanan beratnya ternyata tidak mendapat imbalan yang sepadan. Tapi ternyata tidak menjadikannya putus asa. Nika malah terpecut untuk berjuang lebih keras lagi dengan mengadu nasib ke Jakarta. Sebuah kisah perjuangan remaja yang mengharukan dan inspiratif! Semua remaja layak membacanya! Sukses untuk Dhee Shinzy! (Lina Rosliana, seorang Ibu Rumah Tangga dan Alumni ATPU Bandung)
3. Cerpen yang berjudul “Gerobak Ayahku di hari Pahlawan”.... Aku suka banget, karena ceritanya bikin aku haru dan teringat sama perjuangan orang tuaku sendiri untuk menghidupi dan menyekolahkan aku. Cerpen ini juga mengingatkan aku untuk terus menghargai perjuangan orang tua kita. Membuatku juga tambah menyayangi kedua orang tuaku. Memberi motivasi untukku agar bisa membuat mereka bangga dan bahagia. (Lisna Nur Chairunnisa, dari Purwakarta)
4. Dari 22 cerpen yang terdapat dalam buku kumcer Sampai Penghabisan, dari segi pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca, saya tertarik dengan cerpen nomor 6 yaitu “Maafkan Aku, Atikah”. Cerpen tersebut seolah ingin berbicara kepada pembaca kalau kita jangan mudah putus asa dalam menjalani nasib hidup karena ternyata masih banyak orang di sekitar kita yang nasib hidupnya lebih pahit. Hal ini terlihat jelas bahwa Nesya si tokoh utama merasa putus asa ketika impiannya untuk kuliah tidak dapat terpenuhi dikarenakan keadaan dana keluarga yang tidak memungkinkan bisa membiayai dia kuliah. Hingga akhirnya Nesya sadar bahwa hidupnya jauh lebih beruntung ketika bertemu dengan seorang gadis kecil berumur 12 tahun yang hidup sebatangkara dan kabur dari rumahnya setelah menjadi budak nafsu bejat ayah tirinya.
Ending cerpen tersebut mengajak pembaca merenungi bahwa melakukan kebaikan jangan ditunda-tunda atau jangan merasa kita tidak mampu untuk menolong. Karena kesempatan itu datangnya hanya satu kali. Seperti Nesya yang merasa menyesal menolak Atikah ikut dengannya. Karena ketika dia kembali untuk menjumpai Atikah, yang ditemuinya adalah sebuah kabar kalau Atikah sudah meninggal tertabrak ketika lari dikejar ayah tirinya. (Irwan Sanja, seorang pengajar di Lembaga pendidikan Mental Aritmatika IMA cabang Sumedang, Jawa Barat)
5. Ketika membaca judul cerpen “Rumah Dalam Kabut” di daftar isi saya langsung tertarik membacanya karena dalam imajinasi saya cerpen ini akan bercerita tentang sebuah rumah yang sederhana namun penuh kenyamanan (saya juga tidak tau kenapa imajinasi ini yang muncul). Saya shock ternyata yang terjadi justru kebalikannya. Dhee menceritakan fenomena yang sudah menjadi rahasia umum saat ini dimana kebanyakan tulang rusuk (kiasan untuk perempuan) mulai mengambil alih tugas tulang punggung (kiasan untuk laki-laki). Kisah ini menarik, penyampaiannya lugas sederhana dan secara cerita lengkap. Kita bisa melihat sisi egois seorang anak, tulus seorang ibu, titik stress seorang ayah dan kepolosan seorang kanak-kanak. Semuanya dipadukan dengan baik dalam cerita ini, termasuk keinginan tokoh utama akan sebuah tempat berlindung, yang menjadi poin penjelasan judul ‘Rumah Dalam Kabut’
Namun, ketika saya membaca cerpen ini untuk kedua kalinya, saya menemukan sebuah ketidaktepatan secara logika merasakan kejanggalan. Iyoh adalah tokoh utama dengan usia 35 tahun dan mempunyai anak sulung bernama Zena yang duduk di tingkat tiga bangku perkuliahan (perkiraan usianya ± 20 tahun). Artinya Iroh melahirkan anak pada usianya 15 tahun. Suaminya 5 tahun lebih muda dari Iyoh, berarti usinya 30 tahun dan pernikahan mereka sudah berusia 15 tahun. Artinya usia suami saat mereka menikah adalah 15 tahun. Usia 15 tahun adalah dibawah usia pernikahan legal secara hukum. Saya tidak paham apakah ini memang tujuan penulis untuk menunjukan sisi lain pernikahan di usia dini atau ini sebuah kesalahan perkiraan usia semata. Jika yang ingin penulis sampaikan adalah pesan pertama (dampak lain pernikah terlalu dini) ada baiknya hal ini ditegaskan pada bagian akhir cerita karena kebanyakan pembaca hanya menikmati alur cerita dan tidak berkutat dengan teka-teki di dalamnya. (Dia Febrina, seorang karyawan PT Wahana Cipta Sinatria Wisma Sarinah di Jakarta Pusat)
6. Saya terhanyut dengan sebuah karya yang menakjubkan. Serasa saya ikut empati dengan kehidupan seorang Arni. Rela berkorban hanya ingin membuat orangtuanya bangga. HARI TERBAIK. Sebuah kisah yang mempunyai pesan luar biasa. Dari kehidupan realita yang banyak terjadi. Sahabat! Merupakan motivasi ekstrinsik sebagai penyemangat kehidupan. Sahabat adalah seseorang yang mungkin bisa dibilang keluarga kandung. Bisa mengerti satu sama lain. Dengan keteguhan Arni yang terus menolak dari sahabatnya untuk tour hanya untuk membuat orang tua tidak mau berfikir panjang ataupun menyusahkan karena Uang. kehanyutan cerita inilah yang membuat aku berfikir semakin panjang untuk memikirkan bahwa sahabatlah yang mengetahui seluk beluk tingkah laku kita, dan hanya sahabat yang mengetahui apa yang ada dalam isi hati. Di mana pun kita berada, baik itu dalam kesusahan, kegembiraan,,, orang terdekat selalu ada di samping kita. Satu hal yang tak terlupakan bahwa, kita sebagai anak jangan pernah menyusahkan kedua orang tua. berfikirlah secara sederhana, dan lakukan secara sederhana. Dan ikutilah jejak Arni melalui cerpen “Sampai Penghabisan”. (Reky Piadi, mahasiswa Universitas Pasundan Bandung jurusan Pendidikan Matematika ’09)
7. Komentar saya tentang Cerpen Mb’ Dhee yang berjudul “Persembahan di Hari Ibu” sungguh sebuah karya yang sangat menyentuh dan berhasil membuat saya menitikkan airmata. Saya kagum pada tokoh Arni yang Mb’ gambarkan. Jiwa yang kuat dan pantang menyerah seperti Arni sangat jarang sekali ditemukan di zaman sekarang ini. Cerpen Mb’ Dhee telah menyadarkan saya bahwa Allah selalu memberikan jalan kepada siapapun yang menginginkan jalan itu. Sukses untuk Mb’ Dhee Shinzy Y. (Tiara Deviana, mahasiswa Universitas Sriwijaya jurusan Pendidikan Matematika)
8. Jujur karena kesibukan kantor saya baru baca cerpen Dhee Shinzy Y. bab pertama: Gerobak Ayahku Di Hari Pahlawan:
Membaca cerpen pertama ini saya bisa menebak Dhee Shinzy Y. adalah penulis muda berbakat yang dengan cerpen-cerpennya bisa mengaduk-aduk perasaan pembacaanya, dalam cerita ini saya tersentuh kadang kita mengagap pahlawan hanyalah orang-orang yang telah berjuang mengusir kaum penjajah dari tanah air, hingga tanpa sadar bahwa ada orang-orang yang sangat dekat dengan kita yang rela menguras tenaga, pikiran demi rupiah untuk membiayai segala kebutuhan hidup kita.
Tokoh Arni yang sepertinya sekilas menjadi nama tokoh dibeberapa cerpen lainnya, menggambarkan anak yang sangat menyadari arti penting seorang ayah yang telah rela mengorbankan nyawanya saat berjuang menjual baksonya, seorang ayah yang menjaga perasaan putrinya agar tidak malu dengan statusnya sehingga tidak berjualan di sekolah tempat putrinya belajar. Sungguh membuat air mata ini memerah. Kadang kita dihadapkan suatu realita yang pahit, tapi di sisi lain kita di hadapkan juga dengan pemandangan para pejabat yang melenggang kakung dengan kekayaan tanpa seri.
Terus berkarya Dhee Shinzy Y. uraikan segala kebenaran dengan penamu… (Nenny Makmun, karyawati dan Alumni Magister Management Universitas Sebelas Maret Surakarta).
9. Cerpen Telaga Bening, aku suka ceritanya, menggambarkan kehidupan remaja zaman sekarang. Ketika nafsu itu lebih besar daripada cinta. Hingga penyesalan pun datang dan berujung air mata. Walau mereka tahu, waktu tidak bisa diputar dan kesucian yang telah terenggut tidak bisa kembali lagi pada kesucian tanpa jamahan tangan pasangan.
Aku suka pada kata-kata ini “Kurangkai metamorfosa-metamorfosa bening seumpama menyemarakan warna merah jambu. Tiba-tiba malam itu, dia mengubahnya menjadi abu-abu. Perlahan-lahan aku menghitam berselimut debu. Aku pun merunduk bagai daun putri malu yang enggan tersentuh lagi.”
Kalimat yang memilika rima. Seperti sebuah pantun, aku sangat suka, karena aku pun senang sekali merangkai kata-kata yang berima. Seperti cerpen yang aku kirim. Semoga cerpen ini bisa menjadi inspirasi bagi pembaca, khususnya untuk anak-anak broken home. Seperti cita-citaku untuk mengangkat cerita ini ke dalam sebuah buku yang ku persembahkan untuk anak-anak broken home di luar sana. (Rizky Septia Kemala, modeling dan mahasiswa Yayasan Administrasi Indonesia di Jakarta)
10. Kagum dengan salah satu cerpen dalam buku “Sampai Penghabisan” cerpen yang berjudul “Telaga Bening” karya Dhee Shinzy Y.cerpen yang cukup menggugah semangat bagi pembacanya. Terutama pada bagian “Karena sesungguhnya aku tak sanggup berdusta, bahwa rasa itu ada menyelimuti sukma. Mulanya aku pun tak mengerti, kenapa selalu ingin bertemunya. Ingin sekali aku menceritakan tentang kisah merpati yang tersesat di negeri seribu peri. Tersesat sebelum senja menjemput senyumku. Aku pun tak bisa berpaling dari kenyataan, sepotong episode antara aku dan Riki, cowok yang merenggut hatiku tapi kemudian melemparkanku menjadi polemik bagi nasib cintaku selanjutnya. Itulah sebabnya, aku merasa tak layak untuk telaga bening yang tlah menyeretku pada palung terdalamnya. Kupikir aku tak kan bisa jatuh cinta lagi pada pria, setelah mengetahui kelakuan Riki seperti itu. Ternyata aku salah, telaga bening itu menghidupkan sel-sel cintaku lagi.”
Semoga saja Indonesia terus dapat melahirkan penulis-penulis berbakat yang dapat membawa harum nama bangsa (Daeng Diansyah Putra, pengelola kafe dan alumni alumni SMK Pelayaran Djadajat-Jakarta).
11. Cerpen di Sampai Penghabisan yang saya suka : “Ketika Cinta Mulai Ada”
Komentar : “Ceritanya menggigit meskipun hanya menceritakan peristiwa yang lazim terjadi pada anak muda dengan gaya bahasa yang catchy dan enak dibaca.” (Daniel Hermawan, mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan Bandung).
12. Ulasan Singkat Cerpen ‘PERSEMBAHAN DI HARI IBU’. Menurut saya cerpen ini sangat inspiratif dan sangat mengugah jiwa. Siapapun yang membacanya akan terhanyut. Dimana seorang Ibu yang ditinggalkan suaminya masih terus berjuang untuk anaknya agar pendidikannya tidak terlantar. Berharap Ibunya menginginkan anaknya kelak menjadi orang yang sukses. Dan semangat seorang anak terus berkobar demi mimpinya. (Siti Fatimah, guru private-Palembang)
13. ’Gerobak Ayahku di Hari Pahlawan’, sungguh merupakan suatu cerpen yang jujur. Mengajarkan kita untuk berani menunjukkan pada dunia siapa keluarga kita. Tak perlu menutupinya, karena setiap keluarga adalah cahaya yang indah. Alunan kisah tulus yang terukir dalam cerpen ini mutlak membuat pembacanya mengalirkan air mata. Bukan air mata iba, namun air mata kebanggaan atas sebuah penghargaan kepada seorang ayah yang luar biasa. (Harry Gunawan, Mahasiswa Universitas Sriwijaya jurusan Pendidikan Matematika).
14. Cerpen Favorit : Oh Sahabat
Ayu seorang tukang jamu, 17 tahun, asal Solo, kost di rumah Titin, 17 tahun, pelajar. Titin tidak suka pada Ayu karena Ibu Titin suka memuji-muji Ayu, apa lagi kemudian pacar khayalan Titin juga kelihatannya akrab dengan Ayu. Akhirnya Titin berhasil mengusir Ayu sampai akhirnya ia menemukan surat yang ditulis Ayu untuknya lalu timbul kesadaran di hatinya, ia telah menyakiti Ayu. Ketika Titin sakit, Ayu membantu menyembuhkannya dengan jamu. Akhirnya Titin berdamai dengan Ayu tepat di hari pernikahan Ayu dengan laki-laki yang bukan pacar khayalan Titin.
Sebuah cerita yang mengharukan tentang indahnya persahabatan dan memaafkan. Terkadang kita baru menyadari, sahabat sejati adalah seseorang yang datang membantu saat kita ditimpa musibah. Dalam kehidupan kita, terkadang kita juga terlalu gengsi untuk mengakui kesalahan kita dan meminta maaf meskipun sebenarnya kita pantas melakukannya. Titin justru mendapatkan kedua pelajaranan itu dari sahabatnya yang keturunan Cina yang notebene adalah seorang non-Muslim. Cerita ini mengajarkan pada kita untuk membuka mata dan hati kita supaya bisa melihat secara jernih sahabat kita yang sesungguhnya. (Afra Afifah Zafirah, pelajar di SMAN 8 Bandung kelas XII).
15. Dari buku kumpulan cerpen Sampai Penghabisan aku paling suka yang berjudul GEROBAK AYAHKU DI HARI PAHLAWAN. Hem... membaca cerpen yang itu membuatku semakin rindu kepada Ayah yang telah dipanggil Allah sesaat setelah tragedi merah dulu terjadi. Bahasa yang santai, makna yang dalam dan mengalir bisa menjadi inspirasi untuk membuat tulisan tentang Ayah. (Dwi Puspa Nurya, dari Ciledug-Tangerang)
16. Awalnya waktu melihat cover buku ini, chika ceritanya tentang horror. Eh ternyata chika salah hehehe..setelah buku pesanan dari Hasfa ini nyampe, chika langsung liat isinya, owhh ternyata kumpulan cerpen gitu. Well langsung chika baca cerpen pertama berjudul “Gerobak Ayahku di Hari Pahlawan”, kayaknya cerpen ini pas banget sama tema lomba kali ini peran orang tua dibalik kesuksesan. Baca cerpen ini jadi merinding, jadi keinget dengan ayah dan ibu di rumah. Cerpen ini juga mengajarkan kita untuk menghargai setiap perjuangan yang dilakukan oleh orang tua, semuanya dilakukan demi anak-anaknya. And the last, 4 jempol untuk Kak Dhee buat cerpennya juga. Ditunggu karya selanjutnya! (Chika Rei, mahasiswa UMB jurusan FKIP Bahasa Inggris)
17. Aku Gak Seburuk Itu: Pembawaannya menarik, bermula dari sebuah fitnah yang berujung pada kebenaran. Dalam cerita berpesan bahwa yang baik itu selalu benar. Selain itu karakternya juga cukup kuat dimunculkan, terutama karakter Dewi yang menjadi tokoh utama. Benar-benar mengesankan! (Muhammad Abduurahman, pelajar SMAN 10 Bandung)
18. Cerpen yang paling kusukai adalah “ Gerobak Ayahku di Hari Pahlawan “. Cerpen tersebut sangat mengharukan. Seorang ayah yang bekerja sebagai penjual bakso. Rela mengorbankan seluruh tenaga dan waktunya hanya untuk seorang anaknya. Meskipun berpeluh keringat dan bermandikan hujan, ayah Dhe tetap bersemangat berjuang untuk anaknya. Makanya bagi Dhe gelar pahlawan layak disematkan pada ayahnya. Banyak cerita sampai lagu yang mengulas tentang kasih ibu terhadap anaknya. Namun masih jarang tentang perjuangan seorang ayah. Inilah yang aku sukai. (Dwi Yulianti, Guru Fisika di SMA-Klaten)
19. Cerpen paling disukai: GEROBAK AYAHKU DIHARI PAHLAWAN. Ceritanya sangat menyentuh hati. Penggunaan kata mudah dipahami juga bisa membawa pembaca untuk membayangkan kondisi itu dan sangat inspiratif. Bagaimanapun orang tua adalah segalanya (Lestari, seorang kuli tinta di perusahaan BUMN Cabang Kudus).
20. Telaga Bening: Bahasa yang digunakan memiliki ciri khas tersendiri, namun dengan bahasa seperti itu agak sulit untuk orang awam mengartikannya. Alur ceritanya menarik namun terlalu singkat dengan konflik yang sebenarnya membutuhkan penjelasan yang lebih rinci (Dwi Reinjani, mahasiswa Unpas jurusan Biologi angkatan 2010).
21. Gerobak Ayahku di Hari Pahlawan: Cerpen yang menggambarkan pengorbanan dan cinta kasih seorang bapak untuk anak yang paling dicintainya membuat para pembaca terbawa suasana seakan merasuki cerita tersebut, bahasa yang lugas dan makna yang terkandung didalamnya membuat pembaca (saya khususnya) sontak teringat pada sosok ayah yang selama ini juga berjuang untuk saya. (Syifa Nur Afif Giarsyah, pelajar di SMAN 10 Bandung).
22. “Penjual Cermin di Pasar Sukajadi” membuatku lebih mensyukuri apa yang telah Allah SWT anugerahkan padaku. Terkadang aku merutuki apa yang kurang dari diriku. Posturku yang big size membuatku kadang nggak mensyukuri karunia-Nya. Namun melalui cerpen karya Dhee Shinzy Y. ini aku mengerti bahwa masih banyak orang yang lebih kekurangan dariku. Aku menjadi lebih bersyukur dengan fisikku yang sama sekali nggak atletis ini. Terimakasih buat Dhee Shinzy Y. yang telah mengingatkanku melalui cerpennya yang luar biasa bagus itu. Semangat! (Agus Setiadi, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta).
23. Ada dua cerpen yang saya suka. Judulnya ”Hari Terbaik” dan ”Aku ingin sepertimu, Mawar”. Tapi saya lebih menyukai yang kedua. Alasannya karena suka metafora bahwa mawar itu cantik namun berduri. Duri yang mampu untuk melindungi kecantikannya. Dan diibaratkan untuk seorang wanita yang harus mampu menjaga dirinya sendiri. (Apendi, Dasar-dasar Bermain catur + Penerapan Strategi Cina klasik dalam Permainan Catur)
24. Cerpen “Disaat ultahnya”: Seringkali saat kita sudah berkorban dan dengan susah payah untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik untuknya, tapi dia malah menyakiti di belakang kita. Betapa mengecewakan dan menyakitkan saat mendengar orang yang kita cintai mengucapkan kata “I LOVE U” pada orang lain. Kata yang seharusnya terucap untuk kita. Tapi, hanya dengan ketulusan hati untuk mencintai, rasa sakit pasti akan terobati. Karena mencintainya adalah menginginkan yang terbaik untuknya. (Febe Feni Wiyanti, Alumni SMK Kristen (Bisnis dan Manajemen) jurusan Administrasi Perkantoran ’09-Salatiga)
25. Aku suka dengan cerpen yang terdapat didakam novel mba Dhee yang berjudul “Gerobak ayahku dihari pahlawan”, di sana menggambarkan betapa besarnya pengorbanan orang tua akan anaknya, berjuang demi mendapatkan yang terbaik untuk anaknya, tiap hari bekerja berpeluh keringat dan bermandikan hujan demi demi seorang anak, dan juga aku sangat tertarik terhadap judul yang diberikan oleh mba dhee dengan cerpen itu, seakan-akan penuh makna, jujur hanya baru membaca judulnya aku sudah dibuat penasaran aka isi yang terkandung dari cerita itu, meski aku hanya membaca judul dan sedikit sinopsisnya, aku langsung mengatakan suka pada cerpen. Sukses selalu untuk mba Dhee dan semua. (Dwi Suci Oktafianda, mahasiswa Poltekkes Padang jurusan Kesehatan Lingkungan).
26. Cerpen mba Dhee yang aku suka itu Gerobak Ayahku Dihari Pahlawan, aku juga setuju kalau gelar pahlawan tak hanya ditujukan pada pahlawan negara yang gugur di medan perang. Ayah dan Ibuku juga seorang pahlawan bahkan ibu rela mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanku. Mereka rela berkorban demi menghidupiku tanpa pamrih sedikitpun. Membaca cerpen ini mengingatkan kita akan perjuangan orangtua kita . Pekerjaan seberat apapun rela di kerjakan agar anaknya bahagia. Bahkan hingga permandikan keringat. (Mita Juniar, dari Bekasi).
27. Cerpen yang paling disukai dari buku “Sampai Penghabisan” : Oh..Sahabat
Setelah membaca 22 cerpen yang ada pada kumpulan cerpen “ Sampai Penghabisan” karya Dhee Shinzy Y. Saya lebih menyukai cerpen dengan judul Oh Sahabat, selain bahasa yang di gunakan lugas dan mudah dicerna otak, juga di sana penggunaan kalimat-kalimat kiasan membuat saya hanyut dalam cerita itu. Selain alur cerita yang menarik, buku ini juga memiliki makna dalam yaitu jangan mudah berprasangka buruk, karena belum tentu apa yang kamu pikirkan tentang dia benar.
Seperti yang dilakukan titin terhadap Ayu, di sana Titin merasa Ayu mengambil semua kebahagiaan Titin, seperti mama Titin, yang terus membandingkan Titin dengan Ayu, selain itu Titin menuduh ayu merebut pacar khayalan (Eko) Titin, sampai akhirnya Titin muak dan mengusir ayu begitu saja.
Setelah beberapa bulan kepergian Ayu dari rumah Titin, Titin mendapat surat dari teman mayanya, yang menceritakan tentang penyesalannya karena tak memaafkan sahabatnya. Titin yang sedang sakit tifes berharap Ayu ada disampingnya. Tapi Ayu tanpa diundang Titin sudah ada di sampingnya memberikan jamu dan juga undangan pernikahan, yang membuktikan tuduhan merebut pacar khayalan Titin itu salah. (Leny Afriani Rahayu, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Bandung jurusan Medical Record).
28. Hantu Gedung Tua: Mengikuti alur cerpen ini membuat saya terus penasaran, untuk membacanya sampai habis. Suasana yang dibangun dapat ikut dirasakan oleh para pembaca. Jarang menemukan cerpen bertema “seram” yang disajikan secara matang seperti ini. (Greeny Azzahra, pengajar dan pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Bandung).
29. Komentar “Aku Gak Seburuk Itu”
Kejadian seperti yang disuguhkan dalam cerita ini, memang selalu menjadi warna-warni dalam kehidupan. Berprasangka yang bukan pada tempatnya.
Melalui cerita pendek ini, dapat kita ambil banyak hikmah yang menarik. Bukankah fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan? Mari kita tengok kembali, dalam fitnah pasti ada cacian yang merendahkan orang lain. Dan dari cerita pendek ini kita wajib mengaplikasikan, “Janganlah merendahkan orang lain, bisa jadi kaulah yang lebih rendah dari orang yang kau rendahkan.”
Mari bersihkan hati, selalu berhusnudzan terhadap apapun. Sesungguhnya hanya Allah yang Maha Mengetahui. (Tri Hastuti, pelajar SMA di Bandung)
30. Dari 22 judul cerpen yang ditawarkan, saya tertarik dengan cerpen berjudul Rumah Dalam Kabut. Ternyata cerpen tersebut memang bagus, setidaknya mampu membuat saya terus menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya karena cerpen tersebut langsung dibuka dengan sebuah konflik.
Cerita bermula dari seorang ibu yang gusar menerima sms dari anaknya yang minta dikirimkan uang bulanan. Masalah langsung tergambar jelas di sana: ekonomi.
Cerita terus mengalir lewat adegan-adegan berikutnya, sekaligus pengenalan karakter tokoh-tokohnya. Dalam pengenalan tokoh-tokohnya ini pun saya cukup kagum dengan Dhee Shinzy karena tidak mengenalkannya secara gamblang, melainkan diselipkan lewat kejadian-kejadian yang berlangsung, seperti bahwa namanya ternyata Iyoh, bahwa ibu tadi seorang karyawan di pabrik bakso, bahwa suaminya seorang sopir, dan seterusnya.
Cerpen ini sungguh realis. Saya sependapat dengan cerpen ini bahwa masalah ekonomi selalu saja memboat seseorang menjadi mudah marah, dan karena mudahnya marah inilah keluarga menjadi tidak harmonis.
Secara keseluruhan, menurut saya cerpen ini cukup berhasil. Dan kalaupun ada yang kurang, saya rasa adalah kejutannya. Dari awal cerpen ini sudah disuguhkan banyak konflik, sangat sayang di bagian ending tidak ada kejutan sebagai klimaks dari konflik-konflik yang terjadi tersebut. Juga kurang fokusnya cerita ini, khususnya di bagian ending. Cerita banyak mengisahkan anak si tokoh utama yang kuliah di jogja, tetapi ending malah melenceng ke soal rumah. Entahlah. (Zian Armie Wahyufi, mahasiswa STIKES Muhammadiyah Banjarmasin).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar