Salah satu cerpen yang terdapat dalam buku "Leumeung Cinta"
“Pokoknya
tahun ini aku harus bisa menerbitkan
novel…” ucap Azura dengan semangat 2011. Sebuah kalimat yang sering diucapkan
Azura kepada siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Terkadang membuat para
pendengar bosan mendengarnya. Biasanya, mereka hanya mampu mengangguk-angguk,
mengaminkan ambisi gadis yang sudah menginjak kepala dua ini. Lama-lama Bela
penasaran juga dengan ambisius sang dara satu ini.
“Kenapa
sih kamu sangat berambisi menerbitkan novel?”
tanyanya pada suatu ketika.
“Oh
jelas donk, soalnya aku ingin jadi penulis yang karyanya bisa dinikmati oleh
seluruh lapisan masyarakat.” Kalau ditanya soal impiannya, Azura paling
semangat untuk menjawab.
“Selain
itu, ada maksud lain gak?”
Azura
terdiam sebentar, lalu tiba-tiba nada suaranya merendah. “Aku… ingin bertemu
lagi dengan cinta pertamaku.”
Glek.
Bela yang saat itu tengah menyeruput ice
lemon tea, mendadak keselek demi mendengar alasan yang kedua ini. Menjawab penasaran,
Bela langsung meluncurkan beberapa pertanyaan.
“Loh,
apa hubungannya nerbitin novel dengan bertemu cinta pertama?”
Azura
berpikir sebentar, mencari alasan.
“Kalau
novel aku sudah terbit, sudah beredar di toko-toko buku dan kalau nasib baik
berpihak padaku, misalnya novelku diangkat ke layar lebar, cinta pertamaku yang
sudah tidak kuketahui rimbanya lagi pasti akan tahu siapa pengarangnya. Pasti
dia akan memuji aku, dan bahkan… bisa aja kan menghubungiku lagi sekedar
memberitahu ia telah membaca novel karyaku.”
“Hahahaa…”
Kali
ini Bela tak sanggup menahan diri lagi, ia tertawa ngakak sampai mengeluarkan
air mata, saking gelinya mendengar jawaban Azura. Menurutnya, Azura terlalu
terbawa khayalan fiksi. Azura cemberut, tak mengerti kenapa Bela sampai
segitunya menertawakan dirinya.
“Berkhayal
sih boleh… tapi yang berbobotlah,,, masak cuma ingin ketemu cinta pertama kamu
harus menerbitkan novel dulu. Kenapa gak dicari di facebook aja gitu, kalau sekedar nyari orang mah. ”
Azura
masih manyun, ia berkata dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.
“Sebenarnya
usaha itupun sudah kulakukan, tapi tak membuahkan hasil. Sejak aku kuliah di
Bandung dan dia tidak, aku benar-benar kehilangan jejaknya.”
“Hahaha…
Cinta pertama yang mana sih? Emang seorang putri Langit Biru punya cinta?” Bela
menggoda, ia terbiasa memanggil Azura dengan sebutan “Langit Biru”, karena
memang kata Azura berasal dari bahasa Farsi, Tajiki-Persia yang artinya Langit
Biru.
“Hanya
orang yang gak normal yang tidak pernah merasakan jatuh cinta.” Pungkasnya
seraya membuka note book. Mulailah ia
menari-narikan jari-jemarinya di atas keyboard note book.
“Sepenting
itukah cinta?” Bela menggoda lagi.
Azura
tak menggubris.
❦❦❦
Langit, mengapa aku harus jatuh
hati padanya?Seseorang yang hanya bisa kusentuh lewat kata, pena dan air mata…
Desahku
pada nyanyian mawar dan puisi fajar saat memandangmu melahap semangkuk sop buah
di sampingku. Bersamamu dalam jarak yang dekat, adalah sebuah kesempatan langka
yang kudapat selama nafasku berhembus. Setahun sekali saja aku bisa menatap
bola mata beningmu secara nyata, merupakan rezeki terindah dalam hidupku. Di
sampingmulah hati ini merasa damai.
Tapi
itu hanyalah sepenggal potret kebersamaan kita yang kini telah lapuk dimakan
usia. Empat tahun lalu. Dalam harap dan doa, jika boleh meminta Tuhan, beri aku
kesempatan sekali saja untuk menatap telaganya dan mementaskan kisah indah
hanya bersamanya. Tidak dengan yang lain atau siapapun yang berusaha
mendekatiku atau mendekatinya.
Aku benci dengan jarak. Karena dia
memberi alasan tidak bersatunya sebuah
cinta.
Pernah
kuutarakan perasaan halus menyusup sum-sum tulang-belulangku, yang sudah
kuartikan benar adanya. Perasaan yang timbul dari rasa kagum seorang teman
terhadap paras lawan jenis. Tetapi hasrat memilikimu tak bergayung sambut.
Adalah jarak sebagai alasannya.
Bagaimana caranya aku bisa
mengobati rasa rindumu kelak jika jarak kita terlampau jauh?
Itulah
pertanyaan yang dilontarkan olehmu empat tahun lalu. Saat aku kuliah semester
tiga dan kau semester enam. Teleponan, smsan, facebookan, atau yahoo
messenger-an rupanya tak cukup bagimu. Engkau menginginkan lebih,
selayaknya pasangan lainnya.
Aku
tak mampu menjawab keinginanmu, dan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan
terjadi. Merasa kecil hati tak mampu memenuhi persyaratan itu, dengan getir
kuserahkan perasaan ini kepada Sang Pemilik Rasa. Dialah yang menciptakan
bunga-bunga bermekaran di sudut hatiku tatkala pertama kalinya kita bersua.
Semak belukar Gunung Pinang dan pepohonannya adalah saksi sejarah perjumpaan
kita tanpa tegur sapa. Lalu dengan berat hati kubawa wajahmu ke Kota Kembang.
Di
sudut bilik Kota Kembang, kukirimkan pesan singkat kepada angin, untuk
disampaikannya kepadamu. Tak kusangka, angin menghantarkan pesan lagi untukku.
Dari sinilah hal-hal yang tak biasa itu bermunculan di gerak tingkahku. Mengapa
satu hari saja aku merasa hampa jika tak mendapat sms darimu? Suaramu, oh serupa candu yang memabukkan.
Satu
tahun, usahaku untuk menjadi temanmu secara professional. Setia mendengar kisah
cintamu bersamanya, walau kadang sesudahnya aku menitikkan air mata. Dan kau
tak paham jua isyarat hatiku yang memintamu untuk berhenti bercerita tentangnya
dan cari saja cerita baru, tentang langit biru yang menitikkan air mata.
Terkadang terbersit pertanyaan, untuk apa cinta harus menyerbu kubu pertemanan,
bila hal itu mengakibatkan retaknya sebuah kepercayaan?
Siang
itu, melihatmu menghabiskan semangkuk sop buah, rasanya ingin kulabuhkan
tubuhku di peraduanmu. Namun tak sanggup kulakukan, kerana kau bukan
siapa-siapa untukku.
Menyesal,
mengapa aku harus terjebak ke dalam permainan perasaanku? Untuk apa semua itu
datang, jika menimbulkan cerita tentangmu dengan kekasihmu karam di
pendengaranku? Dan kenapa juga aku merasa ingin mendengar kisahmu lagi, ingin
menjadi temanmu seprofesional mungkin. Sekuat yang kubisa.
Tetapi
aku hanyalah seorang wanita lemah, yang tak sanggup menepis ketika demam cinta
kian menyebar menyesaki rongga dada. Aku
tak mampu menolak rasa itu ada.
Bersyukurlah kepada Sang Pemilik
Rasa, karena Dia selalu menciptakan cinta di manapun kita berada, dan kepada
siapapun. Termasuk kepada sang teman yang berstatus berpacaran.
Bagiku, tidak menjadikanmu yang kedua adalah
bentuk kasih sayangku padamu. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dariku.
Begitu
katamu.
Aku
merunduk tak ubahnya daun putri malu. Tak sanggup lagi melihat bening matamu.
Biarlah rekaman indah bersamamu kubingkai indah dalam puisi-puisi melankolis.
Terkadang
aku marah pada sang waktu, mengapa kita harus dipertemukan setelah senja
menjemput cintamu?
Semua akan indah pada waktunya.
Kalau sudah jodoh tak akan lari ke mana. Bukankah cinta tidak mesti digenggam?
Kamu
berbisik lagi, selembut beledu di telingaku.
Akh,
itu hanya sebuah ungkapan klasik atas ketidakmampuan mendapatkan sang pujaan.
Bahkan aku bosan menganut falsafah demikian.
Mengapa aku tak boleh bahagia
padahal kamu bisa?
Katamu,
Di situlah akan kau temukan rahasia
lezatnya mencintai seseorang yang tak berbalas.
Dahiku
mengerut terhadap statementmu. Sudah
separuh siang kuhabiskan denganmu. Langit biru mengerjap manja kepadamu.
Karena mencintai berarti memerlukan
perjuangan dan pengorbanan. Termasuk mengorbankan waktu dan perasaan untuk
merelekannya bahagia bersama pilihannya.
Lidahku
kelu. Adakah kau dengar hatiku menjerit menembus matahari di ubun-ubunku?
Bersamaan dengan menghitamnya mega, pecahlah persembunyianku. Aku terisak.
Bagaimana seandainya kamu yang
berada di posisi aku?
Kini
engkau yang menunduk. Bahkan kau pun tak mau membayangkannya.
Terkadang seseorang itu lebih
pandai menasehati orang lain, tetapi menasehati dirinya sendiri saja tidak
becus.
Pedas!
Kutancapkan kalimat itu di otaknya supaya dia berfikir untuk apa aku harus
berkorban perasaan demi kebahagiaanmu dan kekasihmu.
Sungguh… aku hanya ingin
melindungimu dari bejatnya tangan lelaki sepertiku. Aku ingin menjadikanmu
berlian yang tak dapat terjangkau dengan harga picisan.
Kalau begitu, kenapa kau mau
berpacaran dengannya?
Kali
ini kamu menatap mataku sedalam-dalamnya.
Karena dia hanya pacarku, yang
kugenggam dengan nafsu. Kau akan tahu, sedalam apa aku menyayangimu hingga aku
enggan menyentuhmu dengan cara urakan. Kau jangan marah pada waktu, jangan
benci pada jarak, sebab mereka itulah yang menjadikan perjalanan kisah kita
penuh warna dan menjadi lebih hidup.
Pekataannya
meresap benar ke otak, serasa angin meniup ubun-ubun saat senja datang menyapa.
Bolehkah aku bahagia bersamamu
selamanya?
Lama
kau terdiam, dan menancapkan satu harap di kubus hatiku.
Kita akan bertemu di lain waktu dan
akan kuperdengarkan dongeng cinta yang akan kubisikkan di telingamu.
Oh,
malaikat. Catatlah janjinya untukku. Jangan biarkan janji itu mengendap dan
karam dengan berlalunya waktu. Bahwa di kota kembang ini, hanya namamu yang
tertanam di air mataku.
❦❦❦
Huhuhuu….
Air mata Azura pecah berhamburan, menetes pada keyboard note booknya. Bela melirik iba ke arah temannya itu.
“Kenapa
Langit Biruku?” dengan ragu, Bela membelai rambut hitam Azura.
“Kapan
penantian ini akan berakhir? Kapan dia akan menyapaku di kehidupan nyata? Di
manakah engkau berada, wahai piara kalbuku?”
Azura
mendesah, lebih tepatnya mengadu.
Mau
tidak mau, Bela membaca bagian novel yang telah Azura tulis. Baru kali ini Bela
tersayat-sayat membaca paragraf demi paragraf cerita yang terususun dengan kalimat-kalimat
yang indah. Begitu menggores kalbu.
“Itulah,
kenapa aku tidak mau men-Tuhankan cinta. Karena cinta hanya membuat hidup
seseorang merana.”
“Tapi
aku tidak lebih bahagia bila hidup tanpa cinta. Oleh cinta, aku diajarkan
bersabar menghadapi orang yang kita cintai. Oleh cinta aku diajarkan bagaimana
aku bersikap untuk memahami orang yang kita cintai. Oleh cinta pula aku
diajarkan seperti apa bentuk perjuangan untuk orang yang kita cintai.”
“Maksudmu
dengan menerbitkan novel ini, adalah bentuk perjuanganmu untuk mendapatkan
cinta?”
“Bukan
untuk mendapatkan cinta, tapi untuk bertegur sapa kepada cinta. Kepada
seseorang yang empat tahun silam luput dari mata, namun nama dan kenangan
bersamanya masih tersimpan rapi di kotak memori bernama hati.”
“Kalau begitu… aku mendukungmu untuk
menerbitkan novel ini, agar seseorang di kejauhan sana melihat ketulusan
hatimu.”
Azura
tersenyum senang. Mereka berpelukan.
***
Setelah
novel selesai, di bagian akhir tertulis seuntai kalimat.
Tuhan, perkenalkan aku pada cinta
sejati. Karena yang kutahu hanya keikhlasan untuk penantian selama kurun waktu
empat tahun silam. Cinta ini begitu mengkristal Tuhan, bolehkah kunamakan cinta
sejati?
Beberapa
bulan kemudian, meluncurlah SMS di inbox hp Azura.
Cintakanlah cinta hanya untuk-Nya,
sebab Cinta sejati hanya milik-Nya.
Dari: Cinta Pertamamu.
Degg…
Apakah
ini pertanda novel itu sudah di tangannya? Azura membatin, seraya menatap
langit biru. Satu harap membalut hatinya lagi. ( Dhee Shinzy Y.)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar