Minggu, 13 Mei 2012

Cerita Cinta Azura


Salah satu cerpen yang terdapat dalam buku "Leumeung Cinta"

“Pokoknya tahun  ini aku harus bisa menerbitkan novel…” ucap Azura dengan semangat 2011. Sebuah kalimat yang sering diucapkan Azura kepada siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Terkadang membuat para pendengar bosan mendengarnya. Biasanya, mereka hanya mampu mengangguk-angguk, mengaminkan ambisi gadis yang sudah menginjak kepala dua ini. Lama-lama Bela penasaran juga dengan ambisius sang dara satu ini.
“Kenapa sih kamu sangat berambisi menerbitkan novel?”  tanyanya pada suatu ketika.
“Oh jelas donk, soalnya aku ingin jadi penulis yang karyanya bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.” Kalau ditanya soal impiannya, Azura paling semangat untuk menjawab.
“Selain itu, ada maksud lain gak?”
Azura terdiam sebentar, lalu tiba-tiba nada suaranya merendah. “Aku… ingin bertemu lagi dengan cinta pertamaku.”
Glek. Bela yang saat itu tengah menyeruput ice lemon tea, mendadak keselek demi mendengar alasan yang kedua ini. Menjawab penasaran, Bela langsung meluncurkan beberapa pertanyaan.
“Loh, apa hubungannya nerbitin novel dengan bertemu cinta pertama?”
Azura berpikir sebentar, mencari alasan.
“Kalau novel aku sudah terbit, sudah beredar di toko-toko buku dan kalau nasib baik berpihak padaku, misalnya novelku diangkat ke layar lebar, cinta pertamaku yang sudah tidak kuketahui rimbanya lagi pasti akan tahu siapa pengarangnya. Pasti dia akan memuji aku, dan bahkan… bisa aja kan menghubungiku lagi sekedar memberitahu ia telah membaca novel karyaku.”
“Hahahaa…”
Kali ini Bela tak sanggup menahan diri lagi, ia tertawa ngakak sampai mengeluarkan air mata, saking gelinya mendengar jawaban Azura. Menurutnya, Azura terlalu terbawa khayalan fiksi. Azura cemberut, tak mengerti kenapa Bela sampai segitunya menertawakan dirinya.
“Berkhayal sih boleh… tapi yang berbobotlah,,, masak cuma ingin ketemu cinta pertama kamu harus menerbitkan novel dulu. Kenapa gak dicari di facebook aja gitu, kalau sekedar nyari orang mah. ”
Azura masih manyun, ia berkata dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.
“Sebenarnya usaha itupun sudah kulakukan, tapi tak membuahkan hasil. Sejak aku kuliah di Bandung dan dia tidak, aku benar-benar kehilangan jejaknya.”
“Hahaha… Cinta pertama yang mana sih? Emang seorang putri Langit Biru punya cinta?” Bela menggoda, ia terbiasa memanggil Azura dengan sebutan “Langit Biru”, karena memang kata Azura berasal dari bahasa Farsi, Tajiki-Persia yang artinya Langit Biru.
“Hanya orang yang gak normal yang tidak pernah merasakan jatuh cinta.” Pungkasnya seraya membuka note book. Mulailah ia menari-narikan jari-jemarinya di atas keyboard note book.
“Sepenting itukah cinta?” Bela menggoda lagi.
Azura tak menggubris.
                                                            ❦❦❦
Langit, mengapa aku harus jatuh hati padanya?Seseorang yang hanya bisa kusentuh lewat kata, pena dan air mata…
Desahku pada nyanyian mawar dan puisi fajar saat memandangmu melahap semangkuk sop buah di sampingku. Bersamamu dalam jarak yang dekat, adalah sebuah kesempatan langka yang kudapat selama nafasku berhembus. Setahun sekali saja aku bisa menatap bola mata beningmu secara nyata, merupakan rezeki terindah dalam hidupku. Di sampingmulah hati ini merasa damai.
Tapi itu hanyalah sepenggal potret kebersamaan kita yang kini telah lapuk dimakan usia. Empat tahun lalu. Dalam harap dan doa, jika boleh meminta Tuhan, beri aku kesempatan sekali saja untuk menatap telaganya dan mementaskan kisah indah hanya bersamanya. Tidak dengan yang lain atau siapapun yang berusaha mendekatiku atau mendekatinya.
Aku benci dengan jarak. Karena dia memberi  alasan tidak bersatunya sebuah cinta.
Pernah kuutarakan perasaan halus menyusup sum-sum tulang-belulangku, yang sudah kuartikan benar adanya. Perasaan yang timbul dari rasa kagum seorang teman terhadap paras lawan jenis. Tetapi hasrat memilikimu tak bergayung sambut. Adalah jarak sebagai alasannya.
Bagaimana caranya aku bisa mengobati rasa rindumu kelak jika jarak kita terlampau jauh?
Itulah pertanyaan yang dilontarkan olehmu empat tahun lalu. Saat aku kuliah semester tiga dan kau semester enam.  Teleponan, smsan, facebookan, atau yahoo messenger-an rupanya tak cukup bagimu. Engkau menginginkan lebih, selayaknya pasangan lainnya.
Aku tak mampu menjawab keinginanmu, dan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Merasa kecil hati tak mampu memenuhi persyaratan itu, dengan getir kuserahkan perasaan ini kepada Sang Pemilik Rasa. Dialah yang menciptakan bunga-bunga bermekaran di sudut hatiku tatkala pertama kalinya kita bersua. Semak belukar Gunung Pinang dan pepohonannya adalah saksi sejarah perjumpaan kita tanpa tegur sapa. Lalu dengan berat hati kubawa wajahmu ke Kota Kembang.
Di sudut bilik Kota Kembang, kukirimkan pesan singkat kepada angin, untuk disampaikannya kepadamu. Tak kusangka, angin menghantarkan pesan lagi untukku. Dari sinilah hal-hal yang tak biasa itu bermunculan di gerak tingkahku. Mengapa satu hari saja aku merasa hampa jika tak mendapat sms darimu? Suaramu, oh serupa candu yang memabukkan.
Satu tahun, usahaku untuk menjadi temanmu secara professional. Setia mendengar kisah cintamu bersamanya, walau kadang sesudahnya aku menitikkan air mata. Dan kau tak paham jua isyarat hatiku yang memintamu untuk berhenti bercerita tentangnya dan cari saja cerita baru, tentang langit biru yang menitikkan air mata. Terkadang terbersit pertanyaan, untuk apa cinta harus menyerbu kubu pertemanan, bila hal itu mengakibatkan retaknya sebuah kepercayaan?
Siang itu, melihatmu menghabiskan semangkuk sop buah, rasanya ingin kulabuhkan tubuhku di peraduanmu. Namun tak sanggup kulakukan, kerana kau bukan siapa-siapa untukku.
Menyesal, mengapa aku harus terjebak ke dalam permainan perasaanku? Untuk apa semua itu datang, jika menimbulkan cerita tentangmu dengan kekasihmu karam di pendengaranku? Dan kenapa juga aku merasa ingin mendengar kisahmu lagi, ingin menjadi temanmu seprofesional mungkin. Sekuat yang kubisa.
Tetapi aku hanyalah seorang wanita lemah, yang tak sanggup menepis ketika demam cinta kian menyebar menyesaki rongga dada.  Aku tak mampu menolak rasa itu ada.
Bersyukurlah kepada Sang Pemilik Rasa, karena Dia selalu menciptakan cinta di manapun kita berada, dan kepada siapapun. Termasuk kepada sang teman yang berstatus berpacaran.
 Bagiku, tidak menjadikanmu yang kedua adalah bentuk kasih sayangku padamu. Kamu berhak mendapatkan  yang lebih baik dariku.
Begitu katamu.
Aku merunduk tak ubahnya daun putri malu. Tak sanggup lagi melihat bening matamu. Biarlah rekaman indah bersamamu kubingkai indah dalam puisi-puisi melankolis.
Terkadang aku marah pada sang waktu, mengapa kita harus dipertemukan setelah senja menjemput cintamu?
Semua akan indah pada waktunya. Kalau sudah jodoh tak akan lari ke mana. Bukankah cinta tidak mesti digenggam?
Kamu berbisik lagi, selembut beledu di telingaku.
Akh, itu hanya sebuah ungkapan klasik atas ketidakmampuan mendapatkan sang pujaan. Bahkan aku bosan menganut falsafah demikian.
Mengapa aku tak boleh bahagia padahal kamu bisa?
Katamu,  
Di situlah akan kau temukan rahasia lezatnya mencintai seseorang yang tak berbalas.
Dahiku mengerut terhadap statementmu. Sudah separuh siang kuhabiskan denganmu. Langit biru mengerjap manja kepadamu.
Karena mencintai berarti memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Termasuk mengorbankan waktu dan perasaan untuk merelekannya bahagia bersama pilihannya.
Lidahku kelu. Adakah kau dengar hatiku menjerit menembus matahari di ubun-ubunku? Bersamaan dengan menghitamnya mega, pecahlah persembunyianku. Aku terisak.
Bagaimana seandainya kamu yang berada di posisi aku?
Kini engkau yang menunduk. Bahkan kau pun tak mau membayangkannya.
Terkadang seseorang itu lebih pandai menasehati orang lain, tetapi menasehati dirinya sendiri saja tidak becus.
Pedas! Kutancapkan kalimat itu di otaknya supaya dia berfikir untuk apa aku harus berkorban perasaan demi kebahagiaanmu dan kekasihmu.
Sungguh… aku hanya ingin melindungimu dari bejatnya tangan lelaki sepertiku. Aku ingin menjadikanmu berlian yang tak dapat terjangkau dengan harga picisan.
Kalau begitu, kenapa kau mau berpacaran dengannya?
Kali ini kamu menatap mataku sedalam-dalamnya.
Karena dia hanya pacarku, yang kugenggam dengan nafsu. Kau akan tahu, sedalam apa aku menyayangimu hingga aku enggan menyentuhmu dengan cara urakan. Kau jangan marah pada waktu, jangan benci pada jarak, sebab mereka itulah yang menjadikan perjalanan kisah kita penuh warna dan menjadi lebih hidup.
Pekataannya meresap benar ke otak, serasa angin meniup ubun-ubun saat senja datang menyapa.
Bolehkah aku bahagia bersamamu selamanya?
Lama kau terdiam, dan menancapkan satu harap di kubus hatiku.
Kita akan bertemu di lain waktu dan akan kuperdengarkan dongeng cinta yang akan kubisikkan di telingamu.
Oh, malaikat. Catatlah janjinya untukku. Jangan biarkan janji itu mengendap dan karam dengan berlalunya waktu. Bahwa di kota kembang ini, hanya namamu yang tertanam di air mataku.
❦❦❦
Huhuhuu…. Air mata Azura pecah berhamburan, menetes pada keyboard note booknya. Bela melirik iba ke arah temannya itu.
“Kenapa Langit Biruku?” dengan ragu, Bela membelai rambut hitam Azura.
“Kapan penantian ini akan berakhir? Kapan dia akan menyapaku di kehidupan nyata? Di manakah engkau berada, wahai piara kalbuku?”
Azura mendesah, lebih tepatnya mengadu.
Mau tidak mau, Bela membaca bagian novel yang telah Azura tulis. Baru kali ini Bela tersayat-sayat membaca paragraf demi paragraf cerita yang terususun dengan kalimat-kalimat yang indah. Begitu menggores kalbu.
“Itulah, kenapa aku tidak mau men-Tuhankan cinta. Karena cinta hanya membuat hidup seseorang merana.”
“Tapi aku tidak lebih bahagia bila hidup tanpa cinta. Oleh cinta, aku diajarkan bersabar menghadapi orang yang kita cintai. Oleh cinta aku diajarkan bagaimana aku bersikap untuk memahami orang yang kita cintai. Oleh cinta pula aku diajarkan seperti apa bentuk perjuangan untuk orang yang kita cintai.”
“Maksudmu dengan menerbitkan novel ini, adalah bentuk perjuanganmu untuk mendapatkan cinta?”
“Bukan untuk mendapatkan cinta, tapi untuk bertegur sapa kepada cinta. Kepada seseorang yang empat tahun silam luput dari mata, namun nama dan kenangan bersamanya masih tersimpan rapi di kotak memori bernama hati.”
 “Kalau begitu… aku mendukungmu untuk menerbitkan novel ini, agar seseorang di kejauhan sana melihat ketulusan hatimu.”
Azura tersenyum senang. Mereka berpelukan.
***
Setelah novel selesai, di bagian akhir tertulis seuntai kalimat.
Tuhan, perkenalkan aku pada cinta sejati. Karena yang kutahu hanya keikhlasan untuk penantian selama kurun waktu empat tahun silam. Cinta ini begitu mengkristal Tuhan, bolehkah kunamakan cinta sejati?
Beberapa bulan kemudian, meluncurlah SMS di inbox hp Azura.
Cintakanlah cinta hanya untuk-Nya, sebab Cinta sejati hanya milik-Nya.
Dari: Cinta Pertamamu.
Degg…
Apakah ini pertanda novel itu sudah di tangannya? Azura membatin, seraya menatap langit biru. Satu harap membalut hatinya lagi. (Dhee Shinzy Y.)

Tidak ada komentar: