Salah satu cerpen yang terdapat dalam buku "Sampai Penghabisan"
........................................................................................................
Arni
setengah berlari-lari ketika hendak ke kampus, dilihatnya arloji di tangan
kanannya sudah menunjukan hampir pukul 08.00 WIB. Sedangkan jam perkuliahan
dimulai pada jam 07.30 WIB. Dalam benaknya ia berpikir, pasti dirinya
terlambat.
Jarak
kost-an ke kampus memakan waktu 10 menit, dan itu membuat nafasnya
tersengal-sengal. Ia pun hampir kewalahan menyeret kakinya berlari, melewati
gerobak-gerobak dagangan yang berjajar indah di sekitar jalan menuju kampus.
Sekilas ditatapnya gerobak-gerobak itu, bervariasi sekali dagangan yang
disuguhkannya. Membuat pikirannya mengembara ke alam yang hanya ia sendiri
mengetahuinya. Kemudian ia berlari lagi, segera berlabuh di kelasnya.
Tok..tok..tok..
Diketuknya
pintu dengan hati-hati, semua mata tertuju padanya. Dengan baik hati dosen
mempersilahkannya masuk. Menjadikan lega hati Arni, karena dosen yang biasanya
cerewet itu, kini tak berkomentar atas keterlambatannya.
Dosen
sejarah tadi menanyakan tugas yang diberikannya kepada mahasiswa sejarah kelas
B. tugas membuat opini tentang Makna Hari
Pahlawan Wajib Atau Tidak Untuk Diperingati.
Arni
mulai sibuk mencari-cari tugasnya, biasanya ia simpan di dalam binder, tapi ini
tidak ada…!!
Degg…Arni
mulai berdegup cemas, buku yang selalu dibawanya ke kampus setiap hari hanya
binder. Dicari-carinya lagi…lembar demi lembar dibuka…tetap tidak ada!!
Dicari
di dalam tas, masih tidak ada..!!
Arni
terdiam pasrah, oops… ia jadi ingat. Tugasnya ia selipkan dalam buku sejarah,
yang alhasil buku sejarah itu pun tak ia bawa.
“Ada
yang tidak mengerjakan tugas???”
Sang
dosen mulai bertanya, kalau sudah begitu maka urusannya menjadi gawat. Dengan
pasrah Arni mengacungkan jari.
“Saya
bu..!”
“Jelaskan
mengapa kamu tak mengerjakan tugas?”
“Se...
Sebenarnya saya mengerjakan bu, tapi ketinggalan di rumah.” Jawabnya gugup.
“Jadi
menurut kamu, apa Makna Hari Pahlawan? Wajib Atau Tidak Untuk Diperingati??
Tolong kamu jelaskan dengan suara nyaring, biar semua teman-temanmu bisa
mendengar!”
Arni
menarik nafas dalam-dalam, ia mendesah pelan. Sesaat ia melirik keluar, menebus
kaca kelasnya. Gerobak-gerobak itu seakan mengukuhkannya.
Tentang
Hari Pahlawan
“Tiap
kali aku berpapasan atau melihat gerobak dagang, terlebih gerobak bakso dorong,
mata batinku langsung tenggelam pada keadaan yang tak bisa tertembus oleh
dugaan. Mulutku membungkam namun hatiku bergemuruh… ada air mata yang ingin
menetes namun tak mampu keluar. Pedagang bakso itu mengingatkanku pada ayahku,
terutama pedagang bakso keliling…
Ayahku
pun demikian.
Tiap
hari ayahku mendorong gerobaknya berkeliling menjajakan bakso ikan. Berangkat
dari pagi hingga matahari lenyap dalam
buaian malam, ayahku baru pulang. Peluhnya bercucuran membasahi wajah dan
tubuhnya ketika memasak bakso dan kemudian menjajakannya sungguh tak mungkin
bisa terbayar olehku. Dibiarkannya kulitnya menghitam terpanggang di bawah
sengatan sang surya itu. Tak pernah peduli pun ia tentang kerutan-kerutan yang
timbul pada wajah legamnya. Ayah dari 4 orang anak itu lebih kelihatan tua dari
umurnya, itu karena perjuangannya melawan kerasnya badai kehidupan. Ia berjuang
di bawah sengatan matahari dan hujan badai. Menafkahi keluarganya dan
menyekolahkan anak-anaknya.
Jika
orang-orang berkumandang tentang hari pahlawan yang hanya jatuh pada 10 November,
maka ayahku selalu melewatkan hari-harinya menjadi seorang pahlawan bagi
kelanjutan kuliahku, dimana jumlah rupiah yang dikeluarkan untuk biaya kuliah
tak sedikit.
Ayahku
adalah paru-paruku…
Disetiap
nafasnya yang terengah-engah saat menjajaki perjalanan panjang menwarkan
baksonya, ia telah membagi nafasnya untukku dan keluargaku.
Ayaku
adalah denyut nadiku…
Disetiap
bunyi mangkok yang diketuk sendok lewat tangan ayahku hingga menghasilkan irama
“teng, teng, teng” seakan memberi detak jantung kehidupan.
Ayahku
adalah pahlawanku…
Bukan
pahlawan Revolusi Indonesia yang berjuang dalam mepertahankan Pancasila dan UUD
1945 pada masa gerakan 30 September/PKI di bulan Oktober 1965. Bukan pahlawan
kemerdekaan Indonesia, bukan pula pahlawan yang diperingati setiap 10 November.
Ayahku juga bukan pergawai negeri selayaknya ayah-ayah yang lain. Tetapi ayahku
adalah pedagang bakso yang berjuang seumur hidup untuk nyawa hidupku...
Dialah
pahlawan yang sesungguhnya, yang menyanyikan kidung kebangsaan di bawah merah
putih dengan gerobak baksonya. Merah adalah keberaniannya melempar anak tirinya
ke jenjang perguruan tinggi, dan putih adalah keikhlasannya mengorbankan
seluruh tenaga dan waktu untuk sang anak yang telah duduk manis di perguruan
tinggi itu…
Tiap
kali aku melihat nak kecil beseragam merah putih, aku jadi teringat pada adik
perempuanku yang masih kelasa 3 SD. Dia pernah berkata padaku, “Ayah tak berani jualan bakso di sekolahku,
takut anaknya malu katanya.” Ia memilih berjualan di tempat lain. Betapa
tersayat hatiku mendengar pengakuan itu. Maka, pahlawan mana lagi yang pantas
kuagungkan selain ayahku??
Aku
sangat menghargai dan menghormati pahlawan-pahlawan Indonesia yang telah
berjasa untuk negeri ini. Ayahku pun demikian, sebagai bentuk perwujudannya
adalah gerobaknya bersama tetesan keringat yang memperjuangkan anak-anaknya
untuk mengecap pendidikan setinggi-tingginya, demi baktinya kepada bangsa dan
Negara.”
Tepuk
tangan menggemuruh di kelas sejarah B, ada sebagian yang meneteskan air mata.
Perkataan Arni yang lantang, seolah menghipnotis seisi kelas.
“Pada
teman-temanku…” Arni melanjutkan dengan suara parau.
“Inilah
jawaban mengapa aku tidak mau diajak ke bioskop, tidak mau belanja ini-itu,
tidak mau menghabiskan uang cuma-cuma, betapa sakit hati ayahku jika aku sampai
tega melakukan semua itu… dan betapa tak sanggup aku untuk melakukannya.
Teramat perih perjuangannya untuk mendapatkan uang demi sekolah anak-anaknya,
sampai-sampai rela makan hanya bertemankan nasi tanpa lauk-pauk hanya untuk
mengirit agar anaknya bisa tetap sekolah. Untuk itu, kuusahakan pengeluaranku
tak lebih dari sepuluh ribu perhari. Sekedar untuk mengganjal perut yang kosong
saja, hingga aku masih bisa bernafas sampai wisuda kelak. Tak kuharapkan
simpati maupaun belas kasihanmu kawan… yang kuinginkan hanyalah berempati dan
mengerti serta ikhlas berteman denganku dengan segala kekuranganku.”
Arni
tak kuasa lagi menahan air matanya, suasana kelas menjadi cekam. Sang dosen pun
menitikan air mata, beberapa mahasiswa cewek menangis sesenggukan, terharu…
Siangnya
sepulang dari kampus Arni mendapat kabar, gerobak ayahnya tersungkur di tengah
jalan, disertai lautan darah merah di tepi trotoar. Arni melemas dan terhenyak.
“Ayahku gugur di hari pahlawan, dialah
pahlawan sejatiku.”
Maka
disetiap tanggal 10 November Arni menangis… teringat kepulangan ayahnya bersama
para pahlawan bangsa ini.
Bandung,
Universitas Pasundan 2008
Dhee Shinzy Y.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar