Minggu, 13 Mei 2012

Gerobak Ayahku di Hari Pahlawan


Salah satu cerpen yang terdapat dalam buku "Sampai Penghabisan"
........................................................................................................
Arni setengah berlari-lari ketika hendak ke kampus, dilihatnya arloji di tangan kanannya sudah menunjukan hampir pukul 08.00 WIB. Sedangkan jam perkuliahan dimulai pada jam 07.30 WIB. Dalam benaknya ia berpikir, pasti dirinya terlambat.
Jarak kost-an ke kampus memakan waktu 10 menit, dan itu membuat nafasnya tersengal-sengal. Ia pun hampir kewalahan menyeret kakinya berlari, melewati gerobak-gerobak dagangan yang berjajar indah di sekitar jalan menuju kampus. Sekilas ditatapnya gerobak-gerobak itu, bervariasi sekali dagangan yang disuguhkannya. Membuat pikirannya mengembara ke alam yang hanya ia sendiri mengetahuinya. Kemudian ia berlari lagi, segera berlabuh di kelasnya.
Tok..tok..tok..
Diketuknya pintu dengan hati-hati, semua mata tertuju padanya. Dengan baik hati dosen mempersilahkannya masuk. Menjadikan lega hati Arni, karena dosen yang biasanya cerewet itu, kini tak berkomentar atas keterlambatannya.
Dosen sejarah tadi menanyakan tugas yang diberikannya kepada mahasiswa sejarah kelas B. tugas membuat opini tentang Makna Hari Pahlawan Wajib Atau Tidak Untuk Diperingati.
Arni mulai sibuk mencari-cari tugasnya, biasanya ia simpan di dalam binder, tapi ini tidak ada…!!
Degg…Arni mulai berdegup cemas, buku yang selalu dibawanya ke kampus setiap hari hanya binder. Dicari-carinya lagi…lembar demi lembar dibuka…tetap tidak ada!!
Dicari di dalam tas, masih tidak ada..!!
Arni terdiam pasrah, oops… ia jadi ingat. Tugasnya ia selipkan dalam buku sejarah, yang alhasil buku sejarah itu pun tak ia bawa.
“Ada yang tidak mengerjakan tugas???”
Sang dosen mulai bertanya, kalau sudah begitu maka urusannya menjadi gawat. Dengan pasrah Arni mengacungkan jari.
“Saya bu..!”
“Jelaskan mengapa kamu tak mengerjakan tugas?”
“Se... Sebenarnya saya mengerjakan bu, tapi ketinggalan di rumah.” Jawabnya gugup.
“Jadi menurut kamu, apa Makna Hari Pahlawan? Wajib Atau Tidak Untuk Diperingati?? Tolong kamu jelaskan dengan suara nyaring, biar semua teman-temanmu bisa mendengar!”
Arni menarik nafas dalam-dalam, ia mendesah pelan. Sesaat ia melirik keluar, menebus kaca kelasnya. Gerobak-gerobak itu seakan mengukuhkannya.

Tentang Hari Pahlawan

“Tiap kali aku berpapasan atau melihat gerobak dagang, terlebih gerobak bakso dorong, mata batinku langsung tenggelam pada keadaan yang tak bisa tertembus oleh dugaan. Mulutku membungkam namun hatiku bergemuruh… ada air mata yang ingin menetes namun tak mampu keluar. Pedagang bakso itu mengingatkanku pada ayahku, terutama pedagang bakso keliling…
Ayahku pun demikian.
Tiap hari ayahku mendorong gerobaknya berkeliling menjajakan bakso ikan. Berangkat dari pagi hingga  matahari lenyap dalam buaian malam, ayahku baru pulang. Peluhnya bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya ketika memasak bakso dan kemudian menjajakannya sungguh tak mungkin bisa terbayar olehku. Dibiarkannya kulitnya menghitam terpanggang di bawah sengatan sang surya itu. Tak pernah peduli pun ia tentang kerutan-kerutan yang timbul pada wajah legamnya. Ayah dari 4 orang anak itu lebih kelihatan tua dari umurnya, itu karena perjuangannya melawan kerasnya badai kehidupan. Ia berjuang di bawah sengatan matahari dan hujan badai. Menafkahi keluarganya dan menyekolahkan anak-anaknya.
Jika orang-orang berkumandang tentang hari pahlawan yang hanya jatuh pada 10 November, maka ayahku selalu melewatkan hari-harinya menjadi seorang pahlawan bagi kelanjutan kuliahku, dimana jumlah rupiah yang dikeluarkan untuk biaya kuliah tak sedikit.
Ayahku adalah paru-paruku…
Disetiap nafasnya yang terengah-engah saat menjajaki perjalanan panjang menwarkan baksonya, ia telah membagi nafasnya untukku dan keluargaku.
Ayaku adalah denyut nadiku…
Disetiap bunyi mangkok yang diketuk sendok lewat tangan ayahku hingga menghasilkan irama “teng, teng, teng” seakan memberi detak jantung kehidupan.
Ayahku adalah pahlawanku…
Bukan pahlawan Revolusi Indonesia yang berjuang dalam mepertahankan Pancasila dan UUD 1945 pada masa gerakan 30 September/PKI di bulan Oktober 1965. Bukan pahlawan kemerdekaan Indonesia, bukan pula pahlawan yang diperingati setiap 10 November. Ayahku juga bukan pergawai negeri selayaknya ayah-ayah yang lain. Tetapi ayahku adalah pedagang bakso yang berjuang seumur hidup untuk nyawa hidupku...
Dialah pahlawan yang sesungguhnya, yang menyanyikan kidung kebangsaan di bawah merah putih dengan gerobak baksonya. Merah adalah keberaniannya melempar anak tirinya ke jenjang perguruan tinggi, dan putih adalah keikhlasannya mengorbankan seluruh tenaga dan waktu untuk sang anak yang telah duduk manis di perguruan tinggi itu…
Tiap kali aku melihat nak kecil beseragam merah putih, aku jadi teringat pada adik perempuanku yang masih kelasa 3 SD. Dia pernah berkata padaku, “Ayah tak berani jualan bakso di sekolahku, takut anaknya malu katanya.” Ia memilih berjualan di tempat lain. Betapa tersayat hatiku mendengar pengakuan itu. Maka, pahlawan mana lagi yang pantas kuagungkan selain ayahku??
Aku sangat menghargai dan menghormati pahlawan-pahlawan Indonesia yang telah berjasa untuk negeri ini. Ayahku pun demikian, sebagai bentuk perwujudannya adalah gerobaknya bersama tetesan keringat yang memperjuangkan anak-anaknya untuk mengecap pendidikan setinggi-tingginya, demi baktinya kepada bangsa dan Negara.”
Tepuk tangan menggemuruh di kelas sejarah B, ada sebagian yang meneteskan air mata. Perkataan Arni yang lantang, seolah menghipnotis seisi kelas.
“Pada teman-temanku…” Arni melanjutkan dengan suara parau.
“Inilah jawaban mengapa aku tidak mau diajak ke bioskop, tidak mau belanja ini-itu, tidak mau menghabiskan uang cuma-cuma, betapa sakit hati ayahku jika aku sampai tega melakukan semua itu… dan betapa tak sanggup aku untuk melakukannya. Teramat perih perjuangannya untuk mendapatkan uang demi sekolah anak-anaknya, sampai-sampai rela makan hanya bertemankan nasi tanpa lauk-pauk hanya untuk mengirit agar anaknya bisa tetap sekolah. Untuk itu, kuusahakan pengeluaranku tak lebih dari sepuluh ribu perhari. Sekedar untuk mengganjal perut yang kosong saja, hingga aku masih bisa bernafas sampai wisuda kelak. Tak kuharapkan simpati maupaun belas kasihanmu kawan… yang kuinginkan hanyalah berempati dan mengerti serta ikhlas berteman denganku dengan segala kekuranganku.”
Arni tak kuasa lagi menahan air matanya, suasana kelas menjadi cekam. Sang dosen pun menitikan air mata, beberapa mahasiswa cewek menangis sesenggukan, terharu…
Siangnya sepulang dari kampus Arni mendapat kabar, gerobak ayahnya tersungkur di tengah jalan, disertai lautan darah merah di tepi trotoar. Arni melemas dan terhenyak.
Ayahku gugur di hari pahlawan, dialah pahlawan sejatiku.”
Maka disetiap tanggal 10 November Arni menangis… teringat kepulangan ayahnya bersama para pahlawan bangsa ini.


Bandung, Universitas Pasundan 2008
Dhee  Shinzy Y.

Tidak ada komentar: