Salah satu cerpen yang terdapat dalam buku "Hadiah Kecil untuk Orangtua"
Kepalaku masih terasa berat, berputar-putar bak gelinding roda yang
digulingkan. Perjalanan Bandung Malingping memang perjalanan yang sangat
panjang, sekitat 8 jam aku berada dalam mobil umum. Hal itu membuatku sangat
lemas, seakan tiada gairah untuk tubuhku yang kurus kerontang ini. Menjelang
maghrib tatkala tiba di pintu kontrakan, adalah tempat keluargaku menghuni, tak ada sambutan apapun, selain
tangan-tangan mungil dekil dari ketiga bocah yang menyalamiku, lalu berebutan
meraih tas gede di pergelangan tanganku. Mereka pasti mengira tas gede itu
adalah oleh-oleh, padahal isinya hanyalah pakaian butut yang sudah tak pantas
lagi kupakai. Kubiarkan saja mereka membawakannya sampai memasuki tempat peristirahatanku.
“Ibu mana?” tanyaku pada salah satu bocah mungil dekil paling
bungsu, dia bergelayut manja ingin kupeluk.
“Belum datang, masih jualan.” Jelasnya dengan suara khas anak-anak
perempuan. Aku berhembus nafas berat, sambil rebahkan tubuh di atas spring bed. Kasur ini satu-satunya yang
paling kugemari saat berada di rumah, karena tak ada harta lain yang lebih
berharga di kontrakan ini selain kasur.
Kutatap langit-langit kamar yang berserakan sarang laba-laba di
atasnya, seperti berserakannya pikiranku dalam balutan kenangan wajah keriput
ibu menjajakan dagangannya.
“Tuhan, beri dia kekuatan untuk terus bertahan.” Hanya itu kalimat
yang mampu kuucapkan sebelum kumengatupkan mata.
***
Aku menggeliat nikmat ketika telah terjaga, entah berapa jam aku tertidur.
Belum beranjak dari tempat tidur sedang mataku masih berat pula, kudengar
sayup-sayup percakapan dari luar, sepertinya dari arah dapur.
“Jadi, bertahun-tahun kamu kerja di Warung Bakso Hanum tapi tak
pernah dibayar?” Tanya seseorang bersuara bass.
“Iya, dibayarnya pake bakso. Jadi kalau mau diuangkan, saya harus
berkeliling jualan dulu. Yah, yang namanya jualan terkadang laris, kadang pula
tidak. Yang paling menyedihkan kalau dagangan masih banyak dan saya tidak
mendapatkan apa-apa selain rasa capek dan lelah seharian. Sudah mah kerja dari subuh sampe lohor, beres
kerja harus jualan lagi biar dapat uang.”
“Lantas kenapa dikerjain atuh?
Kenapa masih kerja di si Hanum kalau dibayarnya sama bakso mah, bukan sama uang langsung?”
“Lha, saya kan butuh. Trus jajan si barudak[1]
dari mana, keperluan dapur, kuliah si Zena? Saya kan gak bisa ngandelin kamu.
Kalau gak dibantu-bantu sama jualan bakso ini, gak akan tercukupi.”
Sesaat suasana hening, aku mengernyit mendekatkan kuping lebih tajam
lagi pada percakapan itu.
“Sebenarnya Hanum sudah tidak membutuhkan tenaga saya, karena sudah
banyak karyawannya. Tapi saya maksa ingin kerja, ya sudah… saya diberi
pekerjaan tapi dibayarnya pake bakso. Begitulah awalnya mulanya, saya… empat
tahun bekerja hanya dibayar oleh bakso.”
Kudengar suara itu terisak, kiranya itu sebagai bentuk ekspresi
kekecewaan dan juga luapan kesedihan.
Aku limbung di tempat dudukku sendiri, serasa ditimpuk palu godam
kepala ini. Menimbulkan reaksi pening yang menggila. Bagaimana tidak? Itu
adalah percakapan ibu dan ayahku. Mungkin ibu sedang curhat kepada ayah,
membagi keluh-kesahnya. Tapi ibu tidak pernah membagi kisahnya padaku.
Sekalipun tidak pernah, ia selalu ceria bila menelpon aku dari kejauhan, dari
jarak Malingping-Bandung, hanya mungkin agak sedikit mendung kalau kuminta
dikirim uang. Gagahnya pula, Ibu tak pernah bilang tidak punya uang, ia selalu
mengirimi bila kuminta, tepat waktu… benar-benar tepat waktu. Misalnya hari ini
aku meminta uang dan harus dikirim besok karena keperluan mendesak, pasti ada…
pasti dikirim. Hingga membuatku berspekulasi, bahwasanya pekerjaannya baik-baik
saja. Kata ibu, kerja di Bakso Hanum setengah hari diupah 50 ribu. Siapa yang
tidak tenang dengan pengakuan seperti itu?
Ya Tuhan, ini baru kutahu. Sesak dada ini setelah mendengar
semuanya. Selama ini aku dengan entengnya meminta uang dan meminta uang
terus-terusan tanpa memikirkan bagaimana ibu mendapatkan uang, tanpa ingin tahu
seperti apa bentuk perjuangan ibu menguangkan baksonya. Aku menelan ludah,
pahit…
Empat tahun ibu bekerja untuk aku, untuk membiayai kuliahku di
Bandung dengan bekerja di Warung Bakso Hanum yang terkenal di wilayah
Malingping, ternyata gaji 50 ribu itu dibayar dengan bakso. Kalau ibu tidak
menjualkannya lagi, ibu tidak mendapatkan apa-apa. Astagfirullah, kok ada yah
jenis pekerjaan seperti itu? Aku mengadu pada angin yang meniupi pundakku.
Perlahan air mataku meleleh, membasahi pipi yang masih kusut ini.
Aku mengiba mereka. Pada ayah, pada ibu…. Harus kubayar dengan apa pengorbanan
mereka untukku? Lidahku kelu, tak dapat berkata apapun, selain memupus air mata
dan cukup menangis di hati saja.
Aku beranjak dari tempat tidur, meraih handuk yang terdapat di
jemuran belakang. Melihat aku ke dapur, ibu dan ayah diam seketika, seraya
menatapku dengan senyum.
“Selamat pagi mahasiswa...” ayah mencandaiku, seolah tak terjadi
apa-apa. Matanya berkilat-kilat seperti cahaya matahari yang baru muncul di
ufuk timur, aku tak sanggup menatapnya, apalagi menatap sembap mata ibu. Aku
benar-benar tak bisa melakukannya. Seraya terus menunduk, kuseret kaki ke kamar
mandi. Di sanalah kuluapkan segala pedihku dan yang berkecamuk di hati.
Setelah tangisan agak reda, aku keluar dari kamar mandi, sekitar
setengah jam aku berada di dalamnya. Kulihat ibu, ayah dan adikku berkumpul
untuk makan.
“Teh hayu makan...?” ajak
Iis, adik pertamaku yang sekarang duduk di kelas enam Sekolah Dasar.
“Sama apa makannya?”
“Sama kuah bakso.”
“Ibu mana?”
“Atuh udah berangkat kerja
teteh.”
Glek. Lagi-lagi lidahku kelu. Ibu tak berkomentar. Cepat-cepat
kukayuh kaki ke kamar, luka itu merembes lagi. Akh, selama ini aku sangat
menikmati menjadi mahasiswa, bersenang-senang: nonton, belanja, jalan-jalan dan
kegiatan lain yang cukup menguras kantong, sementara ibu, ayah, dan adik-adikku
hanya makan dengan kuah bakso bekas jualan. Kupikir sengaja ibu tak membeli
lauk-pauk atau teman nasi lain hanya untuk mengirit agar aku tetap lanjut
kuliah.
Ibu yang gagah, tiap hari bangun subuh dan pagi-pagi sekali sudah
lenyap dari kontrakan, ia kerja di tempat Warung Bakso Hanum. Siangnya, selepas
kerja lantas berjualan bakso lagi, baru pulang sebelum atau sesudah magrib.
Ayah yang perkasa, walaupun menyopir sesuai permintaan boss, tetapi
ia berusaha mencari pekerjaan lain jika sedang tidak tidak ada job, misalnya jadi kuli di kebun orang
atau jadi pemulung sampah.
Itulah rahasia di balik keperkasaan ayah, keperkasaan ibu...
Apa yang bisa kuberikan untuk meraka?? Mampukah aku membalas semua
kebaikan itu. Kurasa aku tak mampu, kurasa aku tak bisa, walau dengan segunung
emas atau sekuintal berlian. Pengorbanan mereka lebih berharga dari itu semua.
Darahnya... jerih payahnya... mereka tak membutuhkan balasan, hanya ketaatan.
Mungkin!
Bandung, 20 September 2011
Dhee Shinzy Y.
Judul: Hadiah Kecil untuk Orangtua
Penulis: Dhee Shinzy, Chinta Syahreza, Alfa Kamila, Dia Febrina, Lisna Nur Chaerunnisa, Ammar Machmud, Lina Rosliana, Sandza, Tiara Deviana, Daniel Hermawan, Apendi, Leni Afriani R, Chika Rei, M. Abdurrahman, Greeny Azzahra, Tri Hastuti, Zian Armie W, Dwi Reinjani, Teguh Apandi.
Penerbit: Leutika Prio
Tebal: 189 hal
Harga: 40.700
Telah diresendi di Koran Jakarta
Penulis: Dhee Shinzy, Chinta Syahreza, Alfa Kamila, Dia Febrina, Lisna Nur Chaerunnisa, Ammar Machmud, Lina Rosliana, Sandza, Tiara Deviana, Daniel Hermawan, Apendi, Leni Afriani R, Chika Rei, M. Abdurrahman, Greeny Azzahra, Tri Hastuti, Zian Armie W, Dwi Reinjani, Teguh Apandi.
Penerbit: Leutika Prio
Tebal: 189 hal
Harga: 40.700
Telah diresendi di Koran Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar