Chintia
melingkari sebuah tanggal di kalender, ia pun memasang tanda peringatan di hape
mungil kesayangannya, agar tak lupa hari itu sobatnya ulang tahun. Yeah, sejak
bulan kemarin Mega mewanti-wanti agar Chintia memberikannya kado spesial.
Chintia memaklumi, mungkin saja Mega ingin diperhatikan oleh teman terdekatnya.
So, sekarang pun Chintia meluncur ke
Bandung Indah Plaza untuk membelikan hadiah buat Mega. Setelah muter-muter
sampe kepalanya juga ikut muter, akhirnya Chintia menemukan sesuatu yang
kiranya pantas untuk sahabatnya itu. Benda ini memang tidak sesuai dengan
permintaan Mega, tapi apalah daya kantongnya tak cukup untuk memenuhi keinginan
Mega. Chintia berpikir, walau kecil tapi mudah-mudahan bermanfaat. Dibungkuslah
benda itu dengan kertas kado Spongebob, kartun kesukaan Mega. Chintia
menimang-nimang kado itu, setelah terbungkus rapi. Ia tersenyum-senyum sendiri
ketika teringat tingkah polah Mega yang meminta kado kepadanya.
“Tia,
jangan lupa ya ngasih aku kado, seminggu lagi,” begitu Mega merengek, seperti
anak kecil yang ingin dibelikan mainan oleh ibunya.
“Gak,
akh.” Tia menukas cepat.
“Kok
enggak?” Mega langsung mendelik.
“Apa
pentingnya ngasih kado ulang tahun?” Chintia bertanya cuek.
Air
muka Mega langsung berubah, bibirnya mengerucut 100 derajat. Obrolan itu baru
terjadi semalam. Ia jadi berpikir, seandainya dirinya benar-benar tak memberi
kado untuk Mega, apa kira-kira yang akan terjadi?
***
Mega
menatap langit-langit kamar, seminggu lagi dirinya ulang tahun, tepat di momen
hari Kartini, pahlawan wanita bangsa ini. Ia sudah menghitung siapa saja
orang-orang yang akan memberinya kado, Putri, Chintia, Sri, Ela dan tentu saja
7 orang gengnya. Mega sangat mengharapkan, teman-temannya memberikan kejutan
yang indah di hari spesialnya. Seperti yang ia lakukan ke teman-temannya, yang
selalu memberikan kado bilamana temannnya ulang tahun. Menurutnya kado harus
dibayar dengan kado. Walaupun kemarin Chintia bilang tidak akan ngasih,
menurutnya kata “tidak” itu masih abstrak. Chintia pasti cuma bercanda. Chintia
tidak akan setega itu padanya. Ia kenal Chintia hampir setahun. Pembelaan itu
setidaknya untuk menghibur diri.
“Put,
kok Chintia bilang gak akan ngasih kado ke aku? Dulu kan aku ngasih ke dia…”
Pecah juga pertanyaan itu ke teman sekamarnya, Putri saat itu tengah bergelut
mengerjakan peer Akuntansi. Jujur ternyata ia kepikiran dengan ucapan Chintia.
“Kok
dipikirin sih? Ya diikhlasin aja dong.” Datar Putri menjawab.
“Chintia
gak serius, kan?” Mega masih ingin memastikan.
“Emang
kalau serius kenapa, masalah buatmu?”
Mega
terdiam sebentar, “kalo kamu sendiri Put, mau ngasih kado apa di ulang tahunku
nanti?”
“Emang
mau dirayain?” Putri balik bertanya.
“Enggak
sih.” Mega menggigit bibir, di pelupuk matanya terbayang keluarganya yang
berjauhan, bapak di Cimahi, mama di Jakarta dan neneknya di Tasik, sedangkan ia
sendiri tinggal di Bandung. Mereka adalah keluarga broken home. Saat ini, hanya teman-temannyalah tumpuan harapan
untuk memberikannya kebahagiaan, ayah ibunya sudah lama dilupakannya.
“Aku
mau karpet yah kado ultahnya?” Pinta Mega lagi.
“Aku
mau ngasih kamu kado, tapi bukan karpet. Aku hanya mau ngasih buku.” jujur
Putri.
“Boleh
buku juga, tapi seharga karpet.”
Putri
tak menjawab, hanya tersenyum seraya geleng-geleng kepala. Tiba-tiba obrolan
mereka terputus oleh suara ketukan pintu dari luar. Putri memberi isyarat agar
Mega membukakan pintu. Setelah pintu terkuak, tampak seseorang berdiri dengan
napas yang masih ngos-ngosan. Mega kaget dibuatnya.
“Ya
ampun sayang, kamu kenapa? Ayo masuk.” Mega menggandeng tangan kekar itu,
menuntunnya ke dalam kamar. Melihat kedatangan Dani, cowok Mega, Putri segera
merapikan buku-bukunya dan bergegas pindah kamar. Seperti biasa, ia beralih ke
kamar Chintia.
“Sayang,
maaf ya. Aku gak bisa ngasih kamu TV, aku hanya bisa ngasih kamu ini.” Dani
mencium lutut Mega dengan muka bersalah. “Ini adalah kado ulang tahunmu.”
Mega
memandang barang-barang yang dibawa Dani, ada dispenser, rescooker dan kipas angin. Semuanya masih terbungkus rapi dalam
dusnya masing-masing.
“Tapi
kan, ulang tahun aku masih seminggu lagi. Masih ada waktu buat kamu
mengumpulkan uang untuk beli TV, bebz.” Mega bergelayut manja, ia menarik Dani
ke dalam pelukannya. Dani tak dapat berkutik, ia begitu lemah untuk mengatakan
tidak punya uang simpanan lagi untuk membelikan kado yang diharap Mega.
“Aku
usahakan yah. Tapi kalau ternyata aku gak bisa, please jangan usaikan hubungan kita.”
Mega
tak menjawab, ia melepas pelukannya. Dani tak dapat menerka apa yang ada di
pikiran Mega. Kecewa mungkin pasti.
***
Ia
menggeliat nikmat tatkala baru bangun dari tidur panjangnya, setengah
mengumpulkan nyawa, ia bergegas ke atas balkon dan pandangi langit yang masih
nampak merah, seolah baru dinyalakan. Ini adalah hari yang dinantikannya
“Happy
birth day…” Putri menghampiri seraya membawakan kue tart kecil, lilin
mungil yang menyala putih di atasnya turut menghiasi kue itu. Senyum mega
merebak lucu, ada rasa haru menyeruak sisi bilik hatinya.
“Ayo,
tiup lilinnya!” Perintah Putri.
Setetes
air mata menimpuki pipinya ketika ia meniup lilin ultah, lilin itu mengukir
angka 20. Angka yang berarti ia harus pelan-pelan menuju dewasa. Mega memeluk
Putri erat.
“Makasih
yah. Kamu emang temen yang paling baik.”
Lagi-lagi
Putri tak menjawab, ia hanya cukup senang bisa membahagiakan orang lain,
terlebih teman sekamarnya. Dari balik jendela kaca Chintia memperhatikan, Putri
menyadari itu. Tanpa Mega sadari mereka saling menatap, lalu melempar senyum
kecil. Ketika Mega melepas pelukannya, buru-buru Chintia menutup kembali gorden
kamarnya. Lantas ia bergegas menuju kamar mandi.
“Kamu emang temen yang paling
baik.”
Tiba-tiba
kalimat itu terngiang jelas di telinganya, ketika dinginnya air meresap ke
wajahnya. Ia terdiam dan berpikir sebentar, tiba-tiba ia merasa tak perlu untuk memberikan kado itu
kepada Mega. Aneh, pikiran orang memang bisa berubah-ubah dalam waktu yang
cepat.
***
Chintia
menutup mulutnya rapat-rapat, ketika satu persatu teman-temannya mengucapkan
selamat ulang tahun pada Mega. Mega membalasnya dengan senyum dan tawa suka
cita. Seolah tak mendengar apa-apa, Chintia yang saat itu tengah berada di kamar
Mega asyik saja membaca buku kesayangannya. Mega melirik kesal ke arah Chintia,
jangankan kado, bahkan ucapan selamat ulang tahun pun Chintia tak berikan.
Walau banyak teman yang mengucapkan selamat, Mega merasa ada yang kurang kalau
teman dekatnya sendiri belum mengucapkan itu. Mega merenung sejenak seraya
menatap Chintia lekat-lekat, Chintia benar-benar tak acuh.
“Apakah
Tia mengujiku?” Mega membatin. Lantas ia pergi ke kampus, membawa perasaan
dongkolnya.
“Apa
susahnya coba sekedar mengucapkan selamat aja? Gak perlu bayar kok!” Mega
ngedumel di jalan, melampiaskan kesalnya pada desau angin.
***
“Sayang,
maaf banget yah. Aku benar-benar tidak bisa memenuhi keinginanmu. Ini buatmu.”
Dani berdiri pasrah di hadapan Mega, ia menyodorkan boneka kambing mungil warna
pink, sementara kepala, kaki dan ekornya berwarna gelap. Ia amat mengasihi
gadis itu namun sebagai mahasiswa kere, ia tak sanggup menuruti segala
keinginan kekasihnya. Maklum, ia masih menengadahkan tangan pada ortu. Segitu
pun ia bisa ngasih ke pacar, mati-matian mengumpulkan uang jajannya.
“Hai… hai… ada yang ultah yah kemarin. Siapa
yaa...?” teriak Chintia dari luar. Mega terdiam, mungkin inilah saatnya Chintia
mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tapi Chintia tak ke kamarnya, dengan
sangat jelas ia mendengar ucapan ultah itu bukan ditujukan padanya. Ia menguak
pintu kamarnya sedikit, mengintip Chintia bercipika-cipiki dengan teman yang
lain.
“Dewi,
met millad yaa… semoga tambah caem.”
Mega
tertegun, hatinya teriris. Ia pikir, Chintia akan ke kamarnya. Mengucapkan tiga
kata yang sangat ditunggu-tunggunya, tiga kata dari seseorang yang sudah
dianggap kakaknya sendiri. Tapi Mega tak mendapatkan itu dari orang yang
diharapkannya, Chintia malah mengucapkannya pada orang lain, pada teman
sekelasnya. Mega termanggut-manggut, setitik air mata jatuh halus ke pipinya.
“Okey,
kalau permainanmu seperti itu, akan kuikuti.” Mega geram. Dalam hati ia
berjanji banyak hal, salah satunya tak akan memberikan senyum manisnya lagi
untuk Chintia.
“Teman
macam apa kamu Chintia. Kamu bukan temanku!” Mega tergores, hatinya luka
berdarah.
“Okey.
Tak mengapa kamu tak membelikanku TV, tapi ajak aku ke Sawarna!” tegas Mega
menjawab. Kesalnya meluap-luap, ditumpahkan pada kekasihnya.
“Apa?
Sawarna? Maksudmu pantai Sawarna yang di Banten Selatan?”
“Iya.
Sudah lama banget aku ingin ke sana. Bosen, di Bandung gak ada pantai,”
tuturnya menggebu-gebu.
“Tapi
kan jauh banget sayang.”
“Trus
masalah buatmu???”
“Kamu
gak mikir yah, aku ini sudah menempuh perjalanan jauh dari Tasik-Bandung.
Sekarang kamu malah minta ke Banten. Jujur aku capek.”
Mega
melepas napas panjang. “Jadi intinya kamu keberatan?” Kesalnya kini
bertambah-tambah.
Dani
mengangguk pelan.
“Kamu
tahu apa konsekuensinya?” sambar Mega.
“Kamu
bebas marah sama aku. Tapi satu pintaku, please
jangan usaikan cinta kita.”
“Kalau
itu yang akan kulakukan, kamu mau apa?”
“Kamu
serius?”
“Sejak
kapan aku tidak serius?” Mega menatap nanar pada Dani. Ia pun tak mengerti, ia
kesal pada Chintia malah Dani yang disemprotnya.
“Kamu
belum dewasa yah ternyata.” Muka Dani merah padam. “Belum cukup ternyata
pengorbanan aku selama ini buat kamu. Umur 20 belum bisa membuatmu berpikir
dewasa.” Mega tersentak, tak disangka Dani akan semarah itu. Tapi pikirannya
saat ini sedang kacau balau, ia hanya ingin marah pada siapapun yang membuatnya
kesal, yang tidak bisa memenuhi keinginannya karena alasan sepele.
“Alasanmu
capek, gak berbobot! Kalau kamu anggap dispenser, rescooker, kipas angin dan si kambing ini adalah pengorbanan besar,
silahkan ambil lagi.” Mega sewot.
Bukan
main terlukanya hati Dani, kecewa dengan sikap Mega. Hari ini ia seperti tak
mengenalnya lagi, Mega yang selalu berkata manis padanya. Tapi hari ini
berbeda. Walau begitu, ia berusaha menepis emosi yang berusaha memancingnya
untuk marah.
“Aku
mau ngajak kamu jalan-jalan, makan-makan… tapi tidak ke Sawarna, mau ya?” Dani
membujuk, berusaha mencairkan suasana.
“Aku
hanya maunya ke sana. Keinginanku tidak dapat diganggu gugat dan tak dapat
digantikan oleh yang lain.”
“Kamu
keras kepala.”
“Emang.
Trus???” Mega nyolot, Dani menunduk. Ada isak tangis yang tak kasat mata, ia
tersembunyi di dasarnya hatinya. Dani pulang membawa luka.
***
“Kenapa loe, kak?” Arum bertanya demi melihat
wajah kusut Dani. Sepulang dari kostan Mega, Dani langsung merenung panjang.
Mungkin dirinya salah menolak keinginan Mega, tapi juga Mega keterlaluan
tidak mau mengerti posisinya.
“Diputusin
Mega,” jawab Dani singkat.
“Lagian
lo sih, jadi suami-suami takut istri gitu.” Ledeknya, puas melihat kakaknya
menderita. Dani tak menjawab, mukanya tambah manyun.
“Ntar
malam gua sama my geng ceritanya mau
ngasih kejutan gitu deh buat pacar loe, eh sorry…
mantan lo ya? You wanna join?” Arum
berkacak pinggang berdiri di daun pintu kamar Dani.
Lagi-lagi
Dani tak berminat menjawab, ia hanya menggeleng. Kesal. Arum melempar boneka ke
jidatnya seraya berteriak.
“Loe
kalo pacaran makanya jangan ngeliat muka. Muka cantik kalo matre bikin lo susah
sendiri kan? Mending kalo sudah punya duit sendiri!” Selepas menancapkan
kalimat-kalimat itu, Arum melengos ke kamarnya.
“Brisik
loe!” Umpat Dani dengan kesal tertahan.
***
“Happy birth day to you… Happy
birth day to you…”
Malam
itu Arum the geng memberi kejutan
ultah untuk Mega, walau telat sehari namun daripada tidak sama sekali.
“Makasih
ya teman-teman…” Mega tampak bahagia.
“Tiup
lilinnya… potong kuenya…”
Kamar
Mega ramai oleh canda tawa cekakakan ulah gengnya. Chintia mendengarnya dari
kamar sebelah. Ia merasa canggung untuk bergabung, cukup mendengar saja.
Lagipula Mega sedang marah besar padanya.
“Okey, saatnya kita let’s go…”
Mega
cs merayakan kebahagiaannya dengan mentraktir teman-temannya di Waroeng Steak.
“Chin, loe gak diajak?” Kartika, salah satu
teman kostnya bertanya aneh, seperti ada yang tidak beres menurut
penglihatannya.
“Maklum,
gak ngucapin ultah dan gak ngasih kado.” Dengan muka lesu Chintia menjawab.
“Kenapa?”
“…….”
Chintia
memilih untuk tidak menjawab, dia punya alasan yang tak dapat dijelaskan kepada
siapapun.
Bersambung…. ( Dhee Shinzy Y.)
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar