Senin, 14 Mei 2012

Tweenty, Never Forget…!




Chintia melingkari sebuah tanggal di kalender, ia pun memasang tanda peringatan di hape mungil kesayangannya, agar tak lupa hari itu sobatnya ulang tahun. Yeah, sejak bulan kemarin Mega mewanti-wanti agar Chintia memberikannya kado spesial. Chintia memaklumi, mungkin saja Mega ingin diperhatikan oleh teman terdekatnya. So, sekarang pun Chintia meluncur ke Bandung Indah Plaza untuk membelikan hadiah buat Mega. Setelah muter-muter sampe kepalanya juga ikut muter, akhirnya Chintia menemukan sesuatu yang kiranya pantas untuk sahabatnya itu. Benda ini memang tidak sesuai dengan permintaan Mega, tapi apalah daya kantongnya tak cukup untuk memenuhi keinginan Mega. Chintia berpikir, walau kecil tapi mudah-mudahan bermanfaat. Dibungkuslah benda itu dengan kertas kado Spongebob, kartun kesukaan Mega. Chintia menimang-nimang kado itu, setelah terbungkus rapi. Ia tersenyum-senyum sendiri ketika teringat tingkah polah Mega yang meminta kado kepadanya.
“Tia, jangan lupa ya ngasih aku kado, seminggu lagi,” begitu Mega merengek, seperti anak kecil yang ingin dibelikan mainan oleh ibunya.
“Gak, akh.” Tia menukas cepat.
“Kok enggak?” Mega langsung mendelik.
“Apa pentingnya ngasih kado ulang tahun?” Chintia bertanya cuek.
Air muka Mega langsung berubah, bibirnya mengerucut 100 derajat. Obrolan itu baru terjadi semalam. Ia jadi berpikir, seandainya dirinya benar-benar tak memberi kado untuk Mega, apa kira-kira yang akan terjadi?
***
Mega menatap langit-langit kamar, seminggu lagi dirinya ulang tahun, tepat di momen hari Kartini, pahlawan wanita bangsa ini. Ia sudah menghitung siapa saja orang-orang yang akan memberinya kado, Putri, Chintia, Sri, Ela dan tentu saja 7 orang gengnya. Mega sangat mengharapkan, teman-temannya memberikan kejutan yang indah di hari spesialnya. Seperti yang ia lakukan ke teman-temannya, yang selalu memberikan kado bilamana temannnya ulang tahun. Menurutnya kado harus dibayar dengan kado. Walaupun kemarin Chintia bilang tidak akan ngasih, menurutnya kata “tidak” itu masih abstrak. Chintia pasti cuma bercanda. Chintia tidak akan setega itu padanya. Ia kenal Chintia hampir setahun. Pembelaan itu setidaknya untuk menghibur diri.
“Put, kok Chintia bilang gak akan ngasih kado ke aku? Dulu kan aku ngasih ke dia…” Pecah juga pertanyaan itu ke teman sekamarnya, Putri saat itu tengah bergelut mengerjakan peer Akuntansi. Jujur ternyata ia kepikiran dengan ucapan Chintia.
“Kok dipikirin sih? Ya diikhlasin aja dong.” Datar Putri menjawab.
“Chintia gak serius, kan?” Mega masih ingin memastikan.
“Emang kalau serius kenapa, masalah buatmu?”
Mega terdiam sebentar, “kalo kamu sendiri Put, mau ngasih kado apa di ulang tahunku nanti?”
“Emang mau dirayain?” Putri balik bertanya.
“Enggak sih.” Mega menggigit bibir, di pelupuk matanya terbayang keluarganya yang berjauhan, bapak di Cimahi, mama di Jakarta dan neneknya di Tasik, sedangkan ia sendiri tinggal di Bandung. Mereka adalah keluarga broken home. Saat ini, hanya teman-temannyalah tumpuan harapan untuk memberikannya kebahagiaan, ayah ibunya sudah lama dilupakannya.
“Aku mau karpet yah kado ultahnya?” Pinta Mega lagi.
“Aku mau ngasih kamu kado, tapi bukan karpet. Aku hanya mau ngasih buku.” jujur Putri.
“Boleh buku juga, tapi seharga karpet.”
Putri tak menjawab, hanya tersenyum seraya geleng-geleng kepala. Tiba-tiba obrolan mereka terputus oleh suara ketukan pintu dari luar. Putri memberi isyarat agar Mega membukakan pintu. Setelah pintu terkuak, tampak seseorang berdiri dengan napas yang masih ngos-ngosan. Mega kaget dibuatnya.
“Ya ampun sayang, kamu kenapa? Ayo masuk.” Mega menggandeng tangan kekar itu, menuntunnya ke dalam kamar. Melihat kedatangan Dani, cowok Mega, Putri segera merapikan buku-bukunya dan bergegas pindah kamar. Seperti biasa, ia beralih ke kamar Chintia.
“Sayang, maaf ya. Aku gak bisa ngasih kamu TV, aku hanya bisa ngasih kamu ini.” Dani mencium lutut Mega dengan muka bersalah. “Ini adalah kado ulang tahunmu.”
Mega memandang barang-barang yang dibawa Dani, ada dispenser, rescooker dan kipas angin. Semuanya masih terbungkus rapi dalam dusnya masing-masing.
“Tapi kan, ulang tahun aku masih seminggu lagi. Masih ada waktu buat kamu mengumpulkan uang untuk beli TV, bebz.” Mega bergelayut manja, ia menarik Dani ke dalam pelukannya. Dani tak dapat berkutik, ia begitu lemah untuk mengatakan tidak punya uang simpanan lagi untuk membelikan kado yang diharap Mega.
“Aku usahakan yah. Tapi kalau ternyata aku gak bisa, please jangan usaikan hubungan kita.”
Mega tak menjawab, ia melepas pelukannya. Dani tak dapat menerka apa yang ada di pikiran Mega. Kecewa mungkin pasti.
***
Ia menggeliat nikmat tatkala baru bangun dari tidur panjangnya, setengah mengumpulkan nyawa, ia bergegas ke atas balkon dan pandangi langit yang masih nampak merah, seolah baru dinyalakan. Ini adalah hari yang dinantikannya
 Happy birth day…” Putri menghampiri seraya membawakan kue tart kecil, lilin mungil yang menyala putih di atasnya turut menghiasi kue itu. Senyum mega merebak lucu, ada rasa haru menyeruak sisi bilik hatinya.
“Ayo, tiup lilinnya!” Perintah Putri.
Setetes air mata menimpuki pipinya ketika ia meniup lilin ultah, lilin itu mengukir angka 20. Angka yang berarti ia harus pelan-pelan menuju dewasa. Mega memeluk Putri erat.
“Makasih yah. Kamu emang temen yang paling baik.”
Lagi-lagi Putri tak menjawab, ia hanya cukup senang bisa membahagiakan orang lain, terlebih teman sekamarnya. Dari balik jendela kaca Chintia memperhatikan, Putri menyadari itu. Tanpa Mega sadari mereka saling menatap, lalu melempar senyum kecil. Ketika Mega melepas pelukannya, buru-buru Chintia menutup kembali gorden kamarnya. Lantas ia bergegas menuju kamar mandi.
“Kamu emang temen yang paling baik.”
Tiba-tiba kalimat itu terngiang jelas di telinganya, ketika dinginnya air meresap ke wajahnya. Ia terdiam dan berpikir sebentar, tiba-tiba ia  merasa tak perlu untuk memberikan kado itu kepada Mega. Aneh, pikiran orang memang bisa berubah-ubah dalam waktu yang cepat.
***
Chintia menutup mulutnya rapat-rapat, ketika satu persatu teman-temannya mengucapkan selamat ulang tahun pada Mega. Mega membalasnya dengan senyum dan tawa suka cita. Seolah tak mendengar apa-apa, Chintia yang saat itu tengah berada di kamar Mega asyik saja membaca buku kesayangannya. Mega melirik kesal ke arah Chintia, jangankan kado, bahkan ucapan selamat ulang tahun pun Chintia tak berikan. Walau banyak teman yang mengucapkan selamat, Mega merasa ada yang kurang kalau teman dekatnya sendiri belum mengucapkan itu. Mega merenung sejenak seraya menatap Chintia lekat-lekat, Chintia benar-benar tak acuh.
“Apakah Tia mengujiku?” Mega membatin. Lantas ia pergi ke kampus, membawa perasaan dongkolnya.
“Apa susahnya coba sekedar mengucapkan selamat aja? Gak perlu bayar kok!” Mega ngedumel di jalan, melampiaskan kesalnya pada desau angin.
***
“Sayang, maaf banget yah. Aku benar-benar tidak bisa memenuhi keinginanmu. Ini buatmu.” Dani berdiri pasrah di hadapan Mega, ia menyodorkan boneka kambing mungil warna pink, sementara kepala, kaki dan ekornya berwarna gelap. Ia amat mengasihi gadis itu namun sebagai mahasiswa kere, ia tak sanggup menuruti segala keinginan kekasihnya. Maklum, ia masih menengadahkan tangan pada ortu. Segitu pun ia bisa ngasih ke pacar, mati-matian mengumpulkan uang jajannya.
 “Hai… hai… ada yang ultah yah kemarin. Siapa yaa...?” teriak Chintia dari luar. Mega terdiam, mungkin inilah saatnya Chintia mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tapi Chintia tak ke kamarnya, dengan sangat jelas ia mendengar ucapan ultah itu bukan ditujukan padanya. Ia menguak pintu kamarnya sedikit, mengintip Chintia bercipika-cipiki dengan teman yang lain.
“Dewi, met millad yaa… semoga tambah caem.”
Mega tertegun, hatinya teriris. Ia pikir, Chintia akan ke kamarnya. Mengucapkan tiga kata yang sangat ditunggu-tunggunya, tiga kata dari seseorang yang sudah dianggap kakaknya sendiri. Tapi Mega tak mendapatkan itu dari orang yang diharapkannya, Chintia malah mengucapkannya pada orang lain, pada teman sekelasnya. Mega termanggut-manggut, setitik air mata jatuh halus ke pipinya.
“Okey, kalau permainanmu seperti itu, akan kuikuti.” Mega geram. Dalam hati ia berjanji banyak hal, salah satunya tak akan memberikan senyum manisnya lagi untuk Chintia.
“Teman macam apa kamu Chintia. Kamu bukan temanku!” Mega tergores, hatinya luka berdarah.
“Okey. Tak mengapa kamu tak membelikanku TV, tapi ajak aku ke Sawarna!” tegas Mega menjawab. Kesalnya meluap-luap, ditumpahkan pada kekasihnya.
“Apa? Sawarna? Maksudmu pantai Sawarna yang di Banten Selatan?”
“Iya. Sudah lama banget aku ingin ke sana. Bosen, di Bandung gak ada pantai,” tuturnya menggebu-gebu.
“Tapi kan jauh banget sayang.”
“Trus masalah buatmu???”
“Kamu gak mikir yah, aku ini sudah menempuh perjalanan jauh dari Tasik-Bandung. Sekarang kamu malah minta ke Banten. Jujur aku capek.”
Mega melepas napas panjang. “Jadi intinya kamu keberatan?” Kesalnya kini bertambah-tambah.
Dani mengangguk pelan.
“Kamu tahu apa konsekuensinya?” sambar Mega.
“Kamu bebas marah sama aku. Tapi satu pintaku, please jangan usaikan cinta kita.”
“Kalau itu yang akan kulakukan, kamu mau apa?”
“Kamu serius?”
“Sejak kapan aku tidak serius?” Mega menatap nanar pada Dani. Ia pun tak mengerti, ia kesal pada Chintia malah Dani yang disemprotnya.
“Kamu belum dewasa yah ternyata.” Muka Dani merah padam. “Belum cukup ternyata pengorbanan aku selama ini buat kamu. Umur 20 belum bisa membuatmu berpikir dewasa.” Mega tersentak, tak disangka Dani akan semarah itu. Tapi pikirannya saat ini sedang kacau balau, ia hanya ingin marah pada siapapun yang membuatnya kesal, yang tidak bisa memenuhi keinginannya karena alasan sepele.
“Alasanmu capek, gak berbobot! Kalau kamu anggap dispenser, rescooker, kipas angin dan si kambing ini adalah pengorbanan besar, silahkan ambil lagi.” Mega sewot.
Bukan main terlukanya hati Dani, kecewa dengan sikap Mega. Hari ini ia seperti tak mengenalnya lagi, Mega yang selalu berkata manis padanya. Tapi hari ini berbeda. Walau begitu, ia berusaha menepis emosi yang berusaha memancingnya untuk marah.
“Aku mau ngajak kamu jalan-jalan, makan-makan… tapi tidak ke Sawarna, mau ya?” Dani membujuk, berusaha mencairkan suasana.
“Aku hanya maunya ke sana. Keinginanku tidak dapat diganggu gugat dan tak dapat digantikan oleh yang lain.”
“Kamu keras kepala.”
“Emang. Trus???” Mega nyolot, Dani menunduk. Ada isak tangis yang tak kasat mata, ia tersembunyi di dasarnya hatinya. Dani pulang membawa luka.
***
 “Kenapa loe, kak?” Arum bertanya demi melihat wajah kusut Dani. Sepulang dari kostan Mega, Dani langsung merenung panjang. Mungkin dirinya salah menolak keinginan Mega, tapi juga Mega keterlaluan tidak  mau mengerti posisinya.
“Diputusin Mega,” jawab Dani singkat.
“Lagian lo sih, jadi suami-suami takut istri gitu.” Ledeknya, puas melihat kakaknya menderita. Dani tak menjawab, mukanya tambah manyun.
“Ntar malam gua sama my geng ceritanya mau ngasih kejutan gitu deh buat pacar loe, eh sorry… mantan lo ya? You wanna join?” Arum berkacak pinggang berdiri di daun pintu kamar Dani.
Lagi-lagi Dani tak berminat menjawab, ia hanya menggeleng. Kesal. Arum melempar boneka ke jidatnya seraya berteriak.
“Loe kalo pacaran makanya jangan ngeliat muka. Muka cantik kalo matre bikin lo susah sendiri kan? Mending kalo sudah punya duit sendiri!” Selepas menancapkan kalimat-kalimat itu, Arum melengos ke kamarnya.
“Brisik loe!” Umpat Dani dengan kesal tertahan.
***
“Happy birth day to you… Happy birth day to you…”
Malam itu Arum the geng memberi kejutan ultah untuk Mega, walau telat sehari namun daripada tidak sama sekali.
“Makasih ya teman-teman…” Mega tampak bahagia.
“Tiup lilinnya… potong kuenya…”
Kamar Mega ramai oleh canda tawa cekakakan ulah gengnya. Chintia mendengarnya dari kamar sebelah. Ia merasa canggung untuk bergabung, cukup mendengar saja. Lagipula Mega sedang marah besar padanya.
Okey, saatnya kita let’s go…”
Mega cs merayakan kebahagiaannya dengan mentraktir teman-temannya di Waroeng Steak.
 “Chin, loe gak diajak?” Kartika, salah satu teman kostnya bertanya aneh, seperti ada yang tidak beres menurut penglihatannya.
“Maklum, gak ngucapin ultah dan gak ngasih kado.” Dengan muka lesu Chintia menjawab.
“Kenapa?”
“…….”
Chintia memilih untuk tidak menjawab, dia punya alasan yang tak dapat dijelaskan kepada siapapun.  
Bersambung…. (Dhee Shinzy Y.)
***

Tidak ada komentar: